Kontroversi Aturan Ibadah Non-Muslim di Selangor: Ujian Koalisi Pemerintah Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Pedoman tata ruang Selangor melarang tempat ibadah non-Islam di zona komersial, memicu kekhawatiran diskriminasi terhadap minoritas.
- Aturan yang disahkan November lalu ini dinilai menghambat akses kelompok agama yang selama ini bergantung pada lahan komersial karena minimnya lahan resmi.
- Kasus ini menjadi ujian bagi koalisi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara regulasi dan hak beragama di negara multikultural.

Ketegangan politik di Malaysia kembali memanas setelah pedoman perencanaan negara bagian Selangor yang melarang tempat ibadah non-Islam di kawasan komersial menuai kritik tajam. Aturan yang disahkan pada 12 November lalu ini dinilai berpotensi membatasi kebebasan beragama kelompok minoritas, terutama Hindu, Buddha, dan Kristen, yang selama ini banyak beroperasi di pusat perbelanjaan dan gedung komersial karena keterbatasan lahan yang diresmikan.
Polemik bermula ketika Anggota Parlemen Petaling Jaya, Lee Chean Chung, mengungkapkan klausul dalam Pedoman dan Standar Perencanaan Fasilitas Komunitas Selangor yang disusun oleh PLANMalaysia Selangor. Dokumen tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa rumah ibadah non-Islam tidak boleh berada di zona komersial dan bangunan yang sudah ada tidak dapat dialihfungsikan untuk keperluan ibadah. Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa kelompok agama yang sudah puluhan tahun beribadah di lokasi komersial akan kehilangan tempat mereka.
Selangor, negara bagian terkaya dan terpadat di Malaysia yang mengelilingi Kuala Lumpur, memiliki sejarah panjang ketegangan terkait hak minoritas. Beberapa insiden sebelumnya, seperti sengketa peternakan babi, penggusuran kuil Hindu, dan tempat ibadah ilegal di tanah pemerintah, telah meningkatkan sensitivitas isu ini. Para pengamat menilai aturan baru ini bisa menjadi batu ujian bagi koalisi pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Anwar Ibrahim, yang berjanji menjunjung tinggi hak asasi dan multikulturalisme.
Kritikus menilai aturan tersebut tidak realistis karena lahan yang secara resmi ditetapkan untuk tempat ibadah non-Islam sangat terbatas. Banyak kelompok agama terpaksa menyewa atau membeli properti di kawasan komersial untuk beribadah. Jika aturan ini ditegakkan secara ketat, mereka bisa kehilangan akses tanpa alternatif yang jelas. Pemerintah negara bagian Selangor, yang dikuasai oleh koalisi Pakatan Harapan (PH) yang juga bagian dari pemerintahan federal, kini berada di bawah tekanan untuk merevisi pedoman tersebut.
Di sisi lain, pendukung aturan berargumen bahwa regulasi ini diperlukan untuk menjaga ketertiban tata ruang dan mencegah penggunaan lahan yang tidak sesuai. Namun, tanpa solusi yang memadai, langkah ini berisiko memperdalam jurang pemisah antarumat beragama. Kasus ini juga menjadi sorotan internasional, mengingat Malaysia sering dipuji sebagai negara Muslim moderat yang mampu mengelola keragaman.
Ke depan, pemerintah federal dan negara bagian harus mencari keseimbangan antara kepentingan perencanaan kota dan hak konstitusional warga negara untuk beribadah. Jika tidak, kontroversi ini bisa menjadi preseden buruk bagi hubungan antaragama di Malaysia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7244269/original/047100000_1780030180-IMG_0582.jpeg)


