El Niño 92%: Brunei Masuki Musim Monsun Barat Daya, Waspada Dampak ke Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Brunei resmi memasuki Monsun Barat Daya yang berlangsung hingga September, dengan kondisi lebih kering dari normal akibat dominasi El Niño.
- Fenomena El Niño diprakirakan bertahan dengan probabilitas 92% selama Juni-Agustus 2026, menekan curah hujan di Kalimantan dan berpotensi memperparah kebakaran hutan.
- Indonesia perlu mengantisipasi efek limpasan dari sistem siklon tropis di Laut China Selatan yang bisa memicu squall line dan cuaca ekstrem di wilayah perbatasan.

Brunei Darussalam resmi memasuki musim Monsun Barat Daya yang diprakirakan berlangsung hingga September, membawa kondisi atmosfer lebih stabil namun juga meningkatkan risiko kekeringan akibat dominasi fenomena El Niño yang mencapai probabilitas 92 persen.
Dalam keterangan resmi, Departemen Meteorologi Brunei (BDMD) menyatakan bahwa monsun ini ditandai dengan berkurangnya frekuensi badai petir dibandingkan masa peralihan musim. Meski cuaca cenderung lebih tenang, puncak monsun pada Agustus justru berpotensi memicu kabut asap akibat cuaca kering yang meluas di kawasan Asia Tenggara.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. BDMD menggarisbawahi bahwa Monsun Barat Daya bertepatan dengan periode aktif pembentukan siklon tropis dan topan di Samudra Pasifik Barat Laut serta Laut China Selatan. Meskipun pusat badai biasanya jauh dari Brunei, kedekatan dan intensitasnya dapat memengaruhi cuaca lokal, termasuk memicu squall line—deretan badai petir bergerak cepat yang membawa angin kencang dan hujan lebat sesaat.
Dampak El Niño terhadap pola cuaca regional sudah terlihat dalam prakiraan jangka panjang. BDMD memperkirakan curah hujan Juni sedikit di bawah normal, Juli turun ke kisaran 140–190 milimeter, dan Agustus bahkan bisa kurang dari 140 milimeter. Angka ini jauh lebih rendah dari rata-rata historis yang tercatat di Stasiun Pengamatan Cuaca Bandara Internasional Brunei.
Bagi Indonesia, situasi ini memiliki implikasi langsung. Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Brunei berpotensi mengalami penurunan curah hujan serupa, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi pada musim kemarau. Selain itu, siklon tropis yang berkembang di Laut China Selatan dapat memengaruhi cuaca di wilayah Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara, terutama dalam bentuk angin kencang dan gelombang tinggi.
Menurut analis klimatologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fase El Niño yang kuat seringkali memperpanjang musim kemarau di Indonesia bagian selatan dan tengah. Meskipun Monsun Barat Daya di Brunei tidak secara langsung mengendalikan cuaca Indonesia, kesamaan pola sirkulasi regional membuat prakiraan ini menjadi sinyal awal untuk kewaspadaan.
BDMD menyatakan akan terus memantau perkembangan cuaca dan mengeluarkan peringatan bila diperlukan. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana kesiapan Indonesia dalam mengantisipasi dampak lanjutan dari musim kering yang dipicu El Niño, terutama di sektor pertanian, ketahanan pangan, dan pengendalian karhutla?



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7438136/original/047766900_1780214462-Ombak_Bali.jpeg)