Raducanu Tersingkir di Babak Awal Roland Garros, Fokus Beralih ke Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Emma Raducanu menelan kekalahan 6-0, 7-6(4) dari Solana Sierra di babak pertama Prancis Terbuka, hanya pertandingan kedua setelah pulih dari penyakit virus.
- Kurangnya jam terbang dan kepercayaan diri menjadi faktor utama performa buruk, meskipun ia menunjukkan perlawanan di set kedua.
- Raducanu kini mengarahkan perhatian ke musim rumput bersama pelatih Andrew Richardson, dengan target bangkit di Wimbledon.

Emma Raducanu harus mengakui keunggulan petenis Argentina, Solana Sierra, di babak pertama Roland Garros dengan skor telak 6-0, 7-6(4), Selasa (26/5/2026). Kekalahan ini menjadi yang ketiga kalinya bagi petenis nomor satu Inggris tersebut di babak awal Grand Slam sepanjang kariernya.
Raducanu, yang baru kembali bertanding setelah absen lebih dari dua bulan akibat penyakit virus, tampil jauh dari performa terbaiknya. Ia hanya mampu memenangkan satu game dalam 23 menit pertama pertandingan, mencatatkan salah satu penampilan terburuknya. Meskipun sempat bangkit di set kedua dan memaksakan tie-break, ketajaman dan kepercayaan dirinya masih belum pulih sepenuhnya.
Petenis berusia 23 tahun itu mengakui bahwa keputusannya untuk tetap bermain di Paris, meskipun kondisi fisik belum prima, adalah sebuah tantangan besar. "Saya benar-benar ingin bermain di Prancis Terbuka, jadi itu keputusan saya. Ke depannya, mungkin akan lebih baik jika saya menyimpan tenaga untuk pertandingan lain," ujar Raducanu dalam konferensi pers usai pertandingan. Ia menambahkan bahwa satu-satunya cara untuk bangkit adalah dengan melewati masa-masa sulit dan merasakan sakitnya kekalahan.
Sierra, yang telah bermain di lapangan tanah liat sejak usia tiga tahun, tampil percaya diri dan memanfaatkan kelemahan Raducanu. Ia mengontrol reli dari baseline, menggunakan drop-shot secara efektif, dan memaksa Raducanu berlari ke segala arah. Strategi agresif Raducanu yang ingin segera mengakhiri poin justru berujung pada banyak kesalahan sendiri, diperparah oleh kondisi cuaca panas 30 derajat Celcius di Paris.
"Saya merasa kondisinya sangat hidup, dan saya tidak bisa mempercayai pukulan saya. Saya tidak punya kendali atas bola. Mungkin saya kurang pertandingan dan kurang percaya diri," kata Raducanu.
Meski menelan kekalahan pahit, Raducanu menunjukkan semangat juang dengan memenangkan beberapa game di set kedua dan nyaris memaksakan set penentuan. Namun, hasil akhir tetap mencatatkan kegagalan lain di turnamen major. Kekalahan ini mengingatkan pada kekalahan telak 6-1, 6-0 dari Iga Swiatek di Australia Terbuka 2025.
Kini, perhatian Raducanu dan pelatih barunya, Andrew Richardsonโyang membimbingnya meraih gelar US Open 2021โberalih ke musim rumput. Wimbledon menjadi target utama setelah melewatkan seluruh musim tanah liat. Raducanu optimistis bahwa kerja keras di lapangan latihan akan membuahkan hasil. "Saya pikir Anda butuh banyak ketahanan. Saya mencoba yang terbaik setiap hari, dan itu yang bisa saya minta dari diri sendiri," pungkasnya.

