Kejutan di Roland Garros: Sinner Tersingkir, Petenis Senior dan Muda Berebut Gelar
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner, unggulan pertama dan penguasa sembilan Grand Slam terakhir, tersingkir di babak kedua Prancis Terbuka setelah dikalahkan Juan Manuel Cerundolo dalam lima set.
- Ketiadaan Sinner dan Carlos Alcaraz membuka peluang bagi Novak Djokovic (39 tahun) untuk meraih gelar Grand Slam ke-25, sekaligus memberi harapan bagi petenis muda seperti Rafael Jodar.
- Petenis Indonesia dan Asia Tenggara dapat menjadikan momen ini sebagai pembelajaran tentang pentingnya konsistensi dan mental juara di turnamen bergengsi.

Kekalahan mengejutkan Jannik Sinner dari petenis Argentina Juan Manuel Cerundolo di babak kedua Prancis Terbuka, Kamis (5/6), mengguncang peta persaingan turnamen Grand Slam yang sebelumnya didominasi oleh segelintir nama besar. Unggulan pertama yang tengah dalam performa terbaiknya dengan 30 kemenangan beruntun itu tumbang setelah kehabisan energi di tengah teriknya suhu Paris.
Sinner, yang sempat unggul dua set lebih dulu, akhirnya menyerah 3-6, 2-6, 7-5, 6-1, 6-1. Kondisi fisiknya yang menurun akibat cuaca panas menjadi faktor utama, sementara Cerundolo bermain tenang dan memanfaatkan setiap celah. Kekalahan ini sekaligus mengakhiri dominasi Sinner dan Carlos Alcaraz yang telah memenangi sembilan Grand Slam terakhir secara bergantian.
Dengan absennya Alcaraz karena cedera pergelangan tangan dan kini Sinner tersingkir, turnamen di Roland Garros mendadak terbuka lebar. Novak Djokovic, yang genap berusia 39 tahun, menjadi unggulan tertua yang masih bertahan dan dianggap kandidat terkuat. Meski demikian, faktor usia dan cuaca panas tetap menjadi tantangan serius bagi petenis Serbia tersebut.
Alexander Zverev, unggulan kedua asal Jerman, kini berstatus favorit di atas kertas. Namun, catatan mentalnya di partai puncak Grand Slam masih menjadi tanda tanya. Ia pernah kehilangan keunggulan dua set di final AS Terbuka 2020 dan kalah di final Prancis Terbuka 2024 serta Australia Terbuka 2025. Tanpa Sinner dan Alcaraz, Zverev mungkin tidak akan mendapat kesempatan semulus ini untuk merebut gelar mayor pertamanya.
Di sisi lain, munculnya nama-nama baru seperti Rafael Jodar dan Moise Kouame menambah warna turnamen. Jodar, yang dilatih oleh Toni Nadal, disebut sebagai talenta terbaik generasi barunya. Sementara Kouame, petenis muda Prancis peringkat 318 dunia, berhasil memukau publik dengan permainan bebas dan flamboyan. Meski peluang mereka untuk juara masih tipis, kehadiran mereka membuktikan bahwa regenerasi di tenis putra sedang berlangsung.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, dinamika Prancis Terbuka tahun ini menjadi pengingat bahwa ketahanan fisik dan mental sama pentingnya dengan teknik. Cuaca ekstrem di Paris juga relevan dengan kondisi tropis di Tanah Air, di mana turnamen sering digelar di suhu tinggi. Pelajaran dari kegagalan Sinner bisa menjadi bahan evaluasi bagi petenis muda Indonesia yang bercita-cita menembus Grand Slam.
โSaya selalu bermimpi untuk membuat penonton bergemuruh dan sedikit bersandiwara di lapangan,โ ujar Kouame setelah kemenangannya.
Dengan babak ketiga yang masih menyisakan banyak kejutan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Djokovic kembali menunjukkan kelasnya, atau justru salah satu petenis muda yang akan mencuri perhatian? Satu hal yang pasti, Roland Garros tahun ini tidak akan mudah ditebak.


