Gelombang Populisme Kanan di Eropa Mengancam Dukungan untuk Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Partai sayap kanan seperti AfD di Jerman dan National Rally di Prancis menunjukkan peningkatan elektoral signifikan, mengancam stabilitas politik Uni Eropa.
- Kebijakan mereka yang cenderung pro-Rusia dan anti-NATO berpotensi menghentikan bantuan militer dan keuangan untuk Ukraina.
- Kemenangan oposisi pro-UE di Hungaria sempat membuka kembali pinjaman besar untuk Ukraina, namun ancaman jangka panjang tetap ada jika populisme kanan menguat di negara-negara kunci.

Gelombang politik sayap kanan di Eropa kian mengkhawatirkan, terutama di dua negara poros Uni Eropa: Jerman dan Prancis. Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) dan National Rally (RN) diprediksi akan meraih kekuasaan signifikan dalam pemilu mendatang, yang berpotensi mengubah arah dukungan Eropa terhadap Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Di Jerman, AfD unggul dalam jajak pendapat untuk dua pemilihan regional di Sachsen dan Thรผringen pada September mendatang. Partai ini secara terbuka menyerukan penghentian bantuan militer untuk Ukraina, pencabutan sanksi terhadap Rusia, dan pemulihan impor energi fosil Rusia. Selain itu, AfD mengusung kebijakan imigrasi super-ketat dan gagasan radikal "remigrasi" yang menargetkan jutaan warga negara yang dianggap tidak terasimilasi. Badan intelijen domestik Jerman bahkan telah melabeli AfD sebagai "entitas ekstremis". Meski partai-partai arus utama masih mempertahankan "firewall" untuk tidak berkoalisi dengan AfD, tekanan elektoral mulai menggerogoti komitmen tersebut.
Di Prancis, National Rally yang dulunya bernama Front Nasional telah bertransformasi di bawah kepemimpinan Marine Le Pen. Meski menjauhkan diri dari antisemitisme pendahulunya, partai ini tetap mempertahankan sikap euroskeptis dan nasionalisme Perancis. Le Pen mendukung aneksasi Krimea oleh Rusia dan berjanji menarik Prancis dari komando terpadu NATO. Meskipun retorika pro-Rusia dilunakkan pasca-invasi 2022, kekhawatiran akan perubahan kebijakan luar negeri Prancis tetap besar. Dengan Presiden Macron tidak bisa mencalonkan diri lagi, peluang RN memenangkan kursi kepresidenan sangat terbuka.
Fenomena serupa juga terjadi di Austria, di mana Partai Kebebasan (FPร) yang anti-imigran dan euroskeptis memenangkan 29% suara pada pemilu 2024. Meski gagal membentuk pemerintahan karena koalisi partai sentris, analis memperkirakan FPร akan segera memimpin koalisi di Wina. Sementara itu, di Italia, Giorgia Meloni dari Brothers of Italy berhasil menormalisasi partainya dengan mendukung NATO dan Ukraina, namun tetap menerapkan retorika anti-imigran yang keras.
Kemenangan oposisi pro-UE di Hungaria pada April lalu sempat menjadi angin segar bagi Ukraina. Pemerintahan baru langsung mencabut veto atas pinjaman โฌ90 miliar dari UE yang akan mendanai kebutuhan militer dan fiskal Ukraina selama dua tahun ke depan. Namun, pinjaman ini bersyarat pada reformasi demokrasi dan antikorupsi yang berkelanjutan. Pertanyaan jangka panjang tetap menggantung: bagaimana jika populisme kanan menguasai negara-negara paling berpengaruh di UE? Ekspektasi Presiden Rusia Vladimir Putin terhadap pelemahan dukungan Barat untuk Ukraina mungkin tidak sepenuhnya tidak berdasar.
Ke depannya, stabilitas dukungan Eropa untuk Ukraina akan sangat bergantung pada kemampuan partai-partai sentris mempertahankan "cordon sanitaire" terhadap kekuatan sayap kanan. Jika AfD atau RN berhasil memegang kendali eksekutif, bukan tidak mungkin aliran bantuan ke Kyiv akan terhenti, mengubah peta konflik secara dramatis.



