Diplomasi Sepak Bola: Meksiko Setuju Jadi Markas Iran di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengizinkan timnas Iran bermarkas di negaranya selama Piala Dunia 2026 setelah AS menolak permintaan serupa.
- Keputusan ini muncul di tengah ketegangan politik terkait sanksi AS terhadap individu yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
- FIFA menjamin visa bagi pemain Iran, namun potensi pembatasan bagi ofisial yang memiliki afiliasi IRGC masih menjadi ganjalan.

Dalam perkembangan diplomatik yang tidak biasa di dunia sepak bola, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum secara resmi menyetujui permintaan FIFA untuk mengizinkan tim nasional Iran menggunakan Meksiko sebagai basis selama Piala Dunia 2026. Langkah ini diambil setelah Amerika Serikat dilaporkan menolak permintaan serupa untuk menampung skuad Iran di wilayahnya selama turnamen berlangsung.
Sheinbaum mengungkapkan bahwa pemerintahannya didekati oleh FIFA setelah AS menyatakan tidak bersedia menampung tim Iran untuk menginap di negara tersebut, meskipun Iran tetap akan memainkan tiga pertandingan di AS. โKami tidak punya alasan untuk menolak mereka. Mereka bertanya: โBisakah mereka menginap di Meksiko?โ Dan kami menjawab: โYa, tidak masalah. Kami tidak punya masalah,โโ ujar Sheinbaum dalam pernyataannya.
Keputusan ini tidak lepas dari konteks geopolitik yang rumit. Perang yang masih berlangsung di Timur Tengah dan masalah keamanan terkait telah menimbulkan ketidakpastian seputar partisipasi Iran. Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, menegaskan bahwa FIFA telah berjanji memberikan visa kepada seluruh pemain. โPresiden FIFA berjanji bahwa semua pemain kami akan menerima visa. Tidak ada alasan mengapa pemain kami tidak mendapat visa,โ katanya.
Namun, persoalan visa bagi ofisial tim menjadi lebih pelik. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) telah mengajukan sepuluh syarat kepada FIFA, termasuk permintaan agar pemain, pelatih, dan ofisial yang telah menyelesaikan wajib militer dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap bisa mendapatkan visa. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa pemain Iran tetap diterima, namun individu yang memiliki hubungan dengan IRGC dapat menghadapi pembatasan masuk.
Ketegangan ini sudah terlihat sebelumnya ketika sejumlah ofisial FFIRI, termasuk Taj, ditolak masuk ke Kanada saat menghadiri Kongres FIFA di Vancouver pada April lalu. Menteri Imigrasi Kanada menyebut visa mereka dibatalkan karena keterkaitan dengan IRGC. Sementara itu, beberapa anggota skuad Iran telah mengajukan permohonan visa di Kedutaan Besar AS di Ankara pada Kamis lalu.
Keputusan Meksiko untuk menerima Iran menunjukkan bahwa diplomasi sepak bola masih bisa menjadi jembatan di tengah ketegangan politik. Dengan turnamen yang akan digelar di tiga negara, kasus Iran menjadi ujian bagi FIFA dalam menyeimbangkan aspek olahraga dan politik internasional.



