Dari Ambang Krisis ke Treble Winner: 375 Hari Oliver Glasner Mengubah Sejarah Crystal Palace
Baca dalam 60 detik
- Oliver Glasner membawa Crystal Palace meraih tiga trofi dalam 375 hari, termasuk gelar Eropa perdana klub di Conference League.
- Keputusan kontroversial mempertahankan Marc Guehi dan menolak menjual pemain kunci justru menjadi titik balik kesuksesan Palace.
- Keberhasilan ini mengubah ekspektasi klub dari sekadar bertahan di Premier League menjadi ambisius merebut trofi.

Oliver Glasner resmi mengakhiri masa baktinya di Crystal Palace dengan cara yang tak terlupakan: mempersembahkan trofi Conference League setelah mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 di Leipzig, melengkapi treble domestik dan Eropa yang diraih dalam 375 hari. Keberhasilan ini menandai transformasi total klub yang sebelumnya tanpa gelar besar selama 120 tahun.
Ketika Glasner pertama kali bertemu Ketua Steve Parish pada akhir 2023 atas rekomendasi direktur olahraga Dougie Freedman, tak ada yang membayangkan pertemuan itu akan mengubah haluan sejarah klub. Freedman, yang telah memantau karier Glasner di Wolfsburg dan Eintracht Frankfurt, yakin pelatih asal Austria itu memiliki visi yang tepat. Meski Parish biasanya lebih memilih manajer berpengalaman di Premier League, ia terkesan dengan pendekatan Glasner. Roy Hodgson masih menukangi Palace saat itu, tetapi tekanan untuk melakukan perubahan semakin kuat. Ketika Hodgson hengkang pada Februari 2024, proses menuju era Glasner sudah berjalan.
Perjalanan menuju puncak tidaklah mulus. Setelah menjuarai Piala FA dengan mengalahkan Manchester City, Palace dihantam keputusan UEFA yang mendegradasi mereka ke Conference League karena masalah kepemilikan multi-klub yang melibatkan John Textor. Parish menyebutnya sebagai "salah satu ketidakadilan terbesar dalam sepak bola Eropa", namun banding ke CAS gagal. Alih-alih terpuruk, Palace bangkit dengan memenangi Community Shield melawan Liverpool, juara Premier League. Namun, kepergian Eberechi Eze ke Arsenal dan nyaris lepasnya Marc Guehi ke Liverpool—yang dicegah Glasner dengan ancaman mundur—menimbulkan ketegangan di balik layar.
Krisis mencapai puncaknya pada Januari 2025, saat Palace menjalani 12 pertandingan tanpa kemenangan di semua kompetisi, tersingkir dari FA Cup oleh klub non-liga Macclesfield, dan terancam degradasi. Glasner secara mengejutkan mengumumkan akan hengkang pada akhir musim setelah klub menyetujui penjualan Guehi ke Manchester City. Ia menuding Parish dan petinggi klub "benar-benar meninggalkan" timnya. Namun, Parish memilih bertahan pada Glasner, menyadari bahwa manajer ini—meski emosional—adalah yang paling sukses dalam sejarah klub. Keputusan itu terbukti tepat.
Gelandang Adam Wharton menegaskan pengaruh Glasner: "Dia mengubah cara klub memandang kompetisi. Kami tidak hanya ingin bertahan di Premier League atau sekadar tampil di Eropa, kami ingin menang dan setinggi mungkin." Ellie Killick dari fanzine Eagle Eye View menambahkan, "Glasner benar-benar mengubah lintasan klub. Sebelumnya kami puas dengan papan tengah dan perjalanan Piala yang biasa-biasa saja. Kini, dalam 12 bulan, kami memenangi tiga piala dan berkeliling Eropa—sesuatu yang hanya mimpi 18 bulan lalu."
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Glasner memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran dan keberanian mempertahankan visi di tengah tekanan. Klub-klub Indonesia yang kerap berganti pelatih dapat mencontoh bagaimana Parish mempertahankan Glasner meski konflik internal memanas. Hasilnya, Palace kini memiliki fondasi untuk bersaing di level Eropa, sesuatu yang mungkin juga diidamkan klub-klub Asia Tenggara.
Glasner pamit dengan senyuman, menggoda Parish bahwa hari terbaik bukanlah final FA Cup melainkan kemenangan di Leipzig. "Saya bilang ke pemain setelah FA Cup, raihlah apa yang pantas kalian dapatkan—Europa League. Dengan penundaan setahun, klub, fans, pemain—kadang harus memutar jalan—kini Crystal Palace berada di tempat yang seharusnya," ujarnya. Pertanyaan besarnya: dapatkah penerus Glasner mempertahankan ambisi ini, atau Palace akan kembali ke zona nyaman?



