Investigasi Blackout Sumatera: Bareskrim Pastikan Murni Faktor Teknis dan Cuaca Ekstrem, Bukan Sabotase
Baca dalam 60 detik
- Bareskrim Polri bersama PLN menyimpulkan bahwa pemadaman listrik massal di Sumatera pada 22 Mei 2026 dipicu oleh gangguan teknis pada jaringan transmisi akibat cuaca buruk, bukan aksi sabotase.
- Gangguan pada SUTET 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera terbelah, memicu efek domino yang memadamkan enam provinsi.
- PLN telah memulihkan 100% sistem kelistrikan Sumatera dan memastikan pasokan aman, sementara Puslabfor masih meneliti sampel kabel putus untuk memastikan penyebab pasti.
Bareskrim Polri bersama PT PLN (Persero) secara resmi mengumumkan hasil investigasi awal atas pemadaman listrik besar-besaran yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada Jumat, 22 Mei 2026. Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Senin (25/5/2026), aparat penegak hukum memastikan bahwa peristiwa tersebut murni disebabkan oleh faktor teknis dan cuaca ekstrem, tanpa adanya indikasi sabotase atau unsur kesengajaan.
Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifudin menjelaskan bahwa tim gabungan yang terdiri dari Direktorat Tindak Pidana Tertentu, Direktorat Tindak Pidana Umum, Puslabfor Bareskrim Polri, Ditreskrimsus Polda Jambi, serta PLN telah melakukan investigasi lapangan di lokasi tower transmisi di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi pada Minggu (24/5/2026). Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa gangguan bermula pada pukul 18.44 WIB di jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai. Cuaca buruk berupa hujan lebat dan angin kencang diduga menjadi pemicu utama yang menyebabkan sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatera, sehingga memicu ketidakstabilan frekuensi dan tegangan listrik.
Akibat gangguan tersebut, sistem kelistrikan Sumatera terpisah menjadi dua bagian: wilayah selatan mengalami kelebihan daya pembangkit, sementara wilayah utara kekurangan pasokan. Kondisi ini memicu trip secara berantai pada sejumlah pembangkit, yang kemudian menyebabkan pemadaman massal di enam provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan. Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN Edwin Nugraha Putra menambahkan bahwa fenomena power swing atau osilasi tegangan dan frekuensi yang sangat tinggi terjadi akibat aliran daya yang berbalik arah, memperparah situasi.
Irjen Pol Nunung menegaskan bahwa hasil pemeriksaan awal menunjukkan pola kerusakan kabel berbentuk serabut terurai, bukan potongan rapi yang lazim ditemukan pada aksi sabotase. "Sampai dengan saat ini dapat kami pastikan bahwa tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut. Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca ekstrem," ujarnya. Meski demikian, bagian kabel yang putus telah diamankan dan tengah menjalani pemeriksaan laboratorium forensik oleh Puslabfor Polri guna mengungkap penyebab pasti secara ilmiah. Beberapa kemungkinan yang masih didalami meliputi faktor mekanis akibat gesekan dan angin, panas akibat sambungan longgar, serta tarikan atau goyangan akibat cuaca ekstrem.
PLN sendiri telah bergerak cepat melakukan pemulihan secara bertahap melalui mekanisme black start menggunakan pembangkit diesel dan gas, dilanjutkan dengan pengoperasian PLTGU dan PLTU hingga seluruh sistem kembali normal. Edwin Nugraha Putra memastikan bahwa pada Senin (25/5/2026), sejumlah pembangkit besar telah kembali masuk ke sistem, sehingga pasokan listrik di seluruh Sumatera dinyatakan aman dan stabil. "Seluruh sistem kelistrikan Sumatera telah kembali normal 100 persen dan saat ini beroperasi dengan aman dan stabil," pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur kelistrikan nasional terhadap kondisi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi. Ke depan, penguatan sistem transmisi dan prosedur mitigasi risiko perlu menjadi prioritas agar gangguan serupa tidak kembali terulang. Meski investigasi masih berlanjut, kepastian tidak adanya unsur sabotase setidaknya meredakan kekhawatiran publik akan potensi ancaman keamanan nasional.



