Spencer Pratt: Kenangan Manis di Pacific Palisades Ludes Terbakar, Kini Incar Kursi Wali Kota LA
Baca dalam 60 detik
- Bintang reality show Spencer Pratt kehilangan rumah dan seluruh memorabilia dalam kebakaran Pacific Palisades 2025, namun tetap bernostalgia dengan masa lalu.
- Pratt mencalonkan diri sebagai wali kota Los Angeles dan berjanji akan meninggalkan kota jika kalah, seraya menggugat pemerintah atas kebakaran.
- Kisah Pratt menyoroti kerentanan komunitas kelas atas terhadap bencana iklim, relevan dengan risiko kebakaran hutan di Indonesia.

Bagi Spencer Pratt, Pacific Palisades bukan sekadar tempat tinggal—itu adalah surga kecil yang kini tinggal kenangan. Rumah bintang reality show The Hills itu ludes dilalap api dalam kebakaran besar yang melanda kawasan elite Los Angeles pada 2025. Kini, di usianya yang ke-42, Pratt tidak hanya meratapi kehilangan, tetapi juga melangkah ke panggung politik dengan mencalonkan diri sebagai wali kota Los Angeles.
Dalam wawancara dengan Interview Magazine, Pratt mengenang masa-masa indah di lingkungan yang ia sebut sebagai komunitas sejati. "Saya punya kehidupan terbaik. Saya mencintai segalanya tentang tempat ini, lingkungan ini. Ini adalah komunitas nyata, seperti sesuatu dari Pleasantville. Anda kenal tetangga Anda," ujarnya. Namun, kebakaran tidak hanya merenggut rumah fisiknya, tetapi juga seluruh barang berharga—mulai dari album foto, buku tahunan, hingga video rumah—yang tersimpan sebelum era ponsel pintar. "Semua kenangan saya hanya ada di otak saya sekarang," keluhnya.
Kebakaran Pacific Palisades 2025 menjadi salah satu bencana alam paling dahsyat di California, menghancurkan ribuan properti dan memicu gelombang tuntutan hukum. Pratt dan istrinya, Heidi Montag, turut menggugat Pemerintah Kota Los Angeles dan Departemen Air dan Listrik (LADWP) atas kelalaian yang menyebabkan kebakaran. "Saya akan mengambil uang dari taman negara bagian Gov. Newsom dan LADWP, lalu pergi mencari tempat di mana anak-anak saya tidak harus melihat zombie telanjang," sindir Pratt, merujuk pada krisis tunawisma dan narkoba di Los Angeles.
Ambisi politik Pratt bukanlah isapan jempol. Ia serius mencalonkan diri dan berjanji akan meninggalkan Los Angeles jika kalah. "Jika Karen Bass terpilih kembali, atau Nithya [Raman] terpilih, saya akan selesai dengan upaya tinggal di Los Angeles," tegasnya kepada komedian Adam Carolla. Baginya, kekalahan berarti ia akan mencari "mimpi Amerika terakhir" di negara bagian lain. Sikap ini mencerminkan frustrasi sebagian warga terhadap penanganan bencana dan krisis perkotaan di Los Angeles.
Kisah Pratt memiliki relevansi dengan Indonesia, terutama di tengah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda Sumatra dan Kalimantan. Meskipun skala dan penyebabnya berbeda, bencana serupa menghancurkan rumah dan mata pencaharian ribuan keluarga. Kasus Pratt mengingatkan bahwa tidak ada komunitas yang kebal terhadap bencana alam, dan tuntutan hukum terhadap pemerintah seringkali menjadi jalan terakhir untuk mencari keadilan. Di Indonesia, korban karhutla juga kerap menggugat perusahaan atau pemerintah atas kerugian yang diderita.
Ke depan, pertarungan politik Pratt akan menjadi ujian apakah seorang figur kontroversial dari dunia hiburan bisa dipercaya memimpin kota metropolitan. Namun, di balik ambisi itu, ada pertanyaan mendasar: akankah sistem hukum dan kebijakan publik mampu mencegah bencana serupa terulang? Atau, seperti yang dikhawatirkan Pratt, apakah warga harus memilih antara meninggalkan rumah mereka atau terus hidup dalam ketakutan?


