Skymark Airlines Boeing 737 Alami Pendaratan Darurat di Haneda Akibat Ban Pecah
Baca dalam 60 detik
- Pesawat Skymark Airlines tujuan Fukuoka mendarat darurat di Haneda setelah indikasi masalah ban, satu ban ditemukan pecah.
- Seluruh 169 penumpang dan awak selamat, tidak ada laporan cedera dalam insiden yang melibatkan Boeing 737 tersebut.
- Landasan Pacu C Haneda ditutup sementara untuk pemeriksaan dan dibuka kembali pukul 19.40 waktu setempat.

Sebuah pesawat Boeing 737 milik Skymark Airlines melakukan pendaratan darurat di Bandara Haneda, Tokyo, pada Senin (25/5) setelah kru mendeteksi adanya masalah pada ban. Otoritas penerbangan Jepang mengonfirmasi bahwa satu ban pesawat ditemukan pecah saat inspeksi pasca-pendaratan.
Pesawat yang mengudara dari Haneda menuju Fukuoka, Jepang barat daya, lepas landas sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Sekitar dua jam kemudian, pilot memutuskan untuk menyatakan keadaan darurat dan kembali ke bandara asal. Keputusan ini diambil setelah sistem peringatan di kokpit mengindikasikan potensi kerusakan pada roda pendaratan.
Menurut Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang, tidak ada korban jiwa atau luka-luka dalam insiden ini. Seluruh 169 orang di dalam pesawat—termasuk 163 penumpang dan 6 awak—dievakuasi dalam kondisi selamat. Maskapai juga mengonfirmasi bahwa tidak ada cedera yang dilaporkan.
Insiden ini menyoroti pentingnya prosedur keselamatan penerbangan yang ketat. Meskipun masalah ban jarang berakibat fatal, pendaratan darurat menjadi langkah antisipatif yang lazim dilakukan untuk mencegah risiko lebih besar, seperti kegagalan roda saat mendarat. Skymark Airlines, sebagai maskapai berbiaya rendah terkemuka di Jepang, memiliki catatan keselamatan yang baik, dan insiden ini tidak mempengaruhi jadwal penerbangan secara signifikan setelah landasan dibuka kembali.
Otoritas bandara dan maskapai saat ini masih melakukan investigasi untuk menentukan penyebab pasti pecahnya ban. Pemeriksaan teknis menyeluruh terhadap pesawat juga tengah berlangsung sebelum diizinkan beroperasi kembali. Kejadian serupa sebelumnya pernah terjadi di berbagai maskapai global, dan biasanya disebabkan oleh benda asing di landasan, keausan ban, atau tekanan ban yang tidak sesuai.
Ke depannya, insiden ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh operator penerbangan untuk terus mematuhi standar perawatan pesawat yang ketat, terutama pada komponen kritis seperti roda pendaratan. Keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama, dan respons cepat dari pilot serta kru dalam situasi darurat patut diapresiasi.



