Ledakan Tambang Batu Bara di Shanxi Tewaskan 82 Orang, Penyelidikan Dilakukan
Baca dalam 60 detik
- Ledakan gas di Tambang Liushenyu, Shanxi, menewaskan 82 pekerja dan melukai 128 lainnya, menjadikannya bencana tambang terburuk sejak 2009.
- Pemerintah China mengerahkan robot inspeksi dan 345 personel penyelamat, namun operasi terhambat oleh genangan air dan ketidaksesuaian peta tambang.
- Tambang tersebut telah masuk daftar bahaya keselamatan parah pada 2024, memicu sorotan terhadap standar keselamatan industri batu bara China.

Ledakan gas di Tambang Batu Bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China utara, pada Jumat malam (11:29 GMT) mengakibatkan sedikitnya 82 orang tewas dan dua orang hilang. Peristiwa ini menjadi bencana pertambangan paling mematikan di China sejak 2009, dengan 247 pekerja dilaporkan sedang bertugas saat ledakan terjadi.
Otoritas setempat awalnya mengumumkan korban tewas mencapai 90 orang, namun kemudian merevisi angka tersebut menjadi 82 setelah penghitungan ulang. Sebanyak 128 pekerja dirawat di rumah sakit, dua di antaranya dalam kondisi kritis, sebagian besar mengalami keracunan gas beracun. Presiden Xi Jinping memerintahkan upaya maksimal untuk perawatan korban dan pencarian korban hilang, sementara Dewan Negara menjanjikan investigasi ketat dan hukuman berat bagi pihak yang bertanggung jawab.
Wang Yong, seorang penambang yang selamat, menuturkan kepada media setempat bahwa ia tidak mendengar suara ledakan, hanya melihat kepulan asap mendadak. "Saya mencium bau belerang, seperti bau peledakan. Saya berteriak menyuruh orang lari. Saat berlari, saya melihat orang-orang pingsan karena asap. Saya pun pingsan," ujarnya. Ia terbangun setelah sekitar satu jam dan berhasil keluar bersama rekannya.
Manajemen tambang dikabarkan telah ditahan untuk pemeriksaan. Penyebab ledakan gas belum diungkap, namun media pemerintah melaporkan kadar karbon monoksida—gas beracun tidak berbau—di dalam tambang melampaui batas aman. Operasi penyelamatan menghadapi kendala akibat genangan air di dekat lokasi ledakan dan ketidaksesuaian peta tambang dengan kondisi aktual.
"Saya mencium bau belerang, seperti bau peledakan. Saya berteriak menyuruh orang lari." — Wang Yong, penambang yang selamat
Tambang Liushenyu, yang dioperasikan oleh Tongzhou Group, telah masuk daftar "bahaya keselamatan parah" oleh Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China pada 2024. Perusahaan tersebut juga menerima dua sanksi administratif pada 2025 terkait masalah keselamatan. Pemerintah setempat memerintahkan inspeksi keselamatan segera di seluruh tambang batu bara di Shanxi dan menghentikan produksi di empat tambang milik grup yang sama.
Provinsi Shanxi menyumbang lebih dari seperempat total produksi batu bara China. Bencana ini mengingatkan pada masa kelam industri pertambangan China di awal 2000-an, ketika kecelakaan fatal sering terjadi. Meskipun standar keselamatan telah diperketat dan penertiban tambang ilegal digencarkan, insiden besar masih terjadi. Pada 2023, longsoran tambang terbuka di Mongolia Dalam menewaskan 53 orang, dan pada 2009 ledakan di Heilongjiang menewaskan lebih dari 100 orang.
China, sebagai konsumen batu bara terbesar dunia dan penghasil emisi gas rumah kaca tertinggi, terus menghadapi dilema antara kebutuhan energi dan keselamatan. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah kunjungan tinggi Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Rusia Vladimir Putin ke China, menyoroti tekanan internasional terhadap praktik industri batu bara China.



