Studi Ungkap Dampak Lockdown COVID-19 terhadap Kreativitas: Antara Waktu Luang dan Emosi
Baca dalam 60 detik
- Penelitian dari Paris Brain Institute menemukan bahwa mayoritas responden merasa lebih kreatif selama lockdown pertama COVID-19 dibandingkan sebelumnya.
- Faktor utama peningkatan kreativitas adalah perubahan emosi positif dan bertambahnya waktu luang, sementara hambatan tidak secara signifikan memengaruhi.
- Temuan ini menunjukkan bahwa ekspresi kreatif dapat menjadi mekanisme koping untuk mengelola stres selama masa sulit.

Sebuah studi terbaru dari Paris Brain Institute di Sorbonne University mengungkap bagaimana lockdown pertama COVID-19 memengaruhi kreativitas masyarakat. Melalui survei daring berbahasa Prancis yang melibatkan 343 partisipan, para peneliti menemukan bahwa rata-rata responden melaporkan peningkatan kreativitas subjektif selama masa karantina ketat di Prancis. Hasil riset ini telah dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology.
Penelitian ini berupaya menjembatani paradoks antara tekanan psikologis yang tinggi dan munculnya gelombang kreativitas, seperti tren membuat roti sourdough atau berkebun. Para ilmuwan menggunakan dua pendekatan: pertama, mengukur perubahan kreativitas yang dirasakan sendiri (subjective creativity change/SCC); kedua, menginventarisasi 28 aktivitas kreatif seperti memasak, menjahit, menulis, dan mendekorasi. Lima aktivitas teratas yang paling sering dilakukan responden adalah memasak, olahraga dan program dansa, program pengembangan diri, serta berkebun.
Menariknya, jumlah hambatan yang dihadapi selama pandemi tidak berkorelasi langsung dengan tingkat kreativitas. Responden dengan kreativitas tinggi maupun rendah sama-sama menghadapi banyak rintangan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Dr. Ajay Agrawal dari University of Toronto, yang menyebutkan bahwa justru adanya keterbatasan dapat memicu otak kreatif untuk mencari solusi.
Dua faktor terbesar yang memengaruhi naik-turunnya kreativitas adalah perubahan emosional dan—dalam kadar lebih kecil—ketersediaan waktu luang. Peneliti mengonfirmasi bahwa suasana hati positif berkaitan dengan peningkatan kreativitas, sementara emosi negatif justru menekannya. Dr. Alizée Lopez-Persem, penulis utama studi, menjelaskan bahwa masih ada perdebatan mengenai arah hubungan ini: apakah kreativitas membuat kita bahagia, atau kebahagiaan yang mendorong kreativitas? Namun, analisis mereka menunjukkan bahwa ekspresi kreatif membantu individu mengelola emosi negatif akibat isolasi.
“Ekspresi kreatif memungkinkan individu mengelola emosi negatif terkait pengurungan dengan lebih baik, sehingga mereka merasa lebih baik selama masa sulit ini.” — Dr. Alizée Lopez-Persem
Penghapusan waktu perjalanan pulang-pergi memberikan jam tambahan bagi banyak orang, meskipun tidak merata—orang tua dengan anak di rumah justru mungkin kehilangan waktu luang. Survei menanyakan jam kerja, waktu luang, dan ruang pribadi, dan hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan waktu luang berkaitan langsung dengan kenaikan kreativitas. Sementara itu, sifat keterbukaan terhadap pengalaman baru (openness) juga berkorelasi dengan skor SCC, namun efeknya tetap signifikan setelah dikontrol oleh waktu luang dan faktor afektif.
Studi ini memberikan perspektif berharga tentang bagaimana krisis dapat memicu inovasi dan adaptasi. Ke depan, temuan ini dapat dimanfaatkan untuk merancang intervensi yang mendukung kesejahteraan mental melalui aktivitas kreatif, terutama dalam situasi penuh tekanan.



