Darurat Wabah Ebola Bundibugyo: 88 Tewas, Ilmuwan Berlomba Uji Coba Obat dan Vaksin di Kongo & Uganda
Baca dalam 60 detik
- Ancaman tanpa obat: Wabah Ebola strain Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda telah mengakibatkan 336 kasus suspek dan 88 kematian (data CDC 17 Mei)—sementara belum ada vaksin atau pengobatan spesifik yang disetujui untuk strain ini.
- Dua kandidat obat: Uji coba klinis WHO akan menguji dua terapi: remdesivir (antiviral spektrum luas) dan MBP134 (campuran antibodi). MBP134 terbukti menyelamatkan 5 dari 6 monyet yang terinfeksi Bundibugyo dalam studi 2019, bahkan ketika hewan sudah menunjukkan gejala parah.
- Vaksin terbatas: Satu-satunya vaksin Ebola yang disetujui (Ervebo) efektif untuk strain Zaire, tetapi efektivitasnya terhadap Bundibugyo masih belum jelas—perkiraan awal hanya sekitar 50 persen

KINSHASA/GENEV A — Para ilmuwan berlomba melawan waktu untuk menguji coba terapi eksperimental dan vaksin potensial melawan virus Ebola Bundibugyo—strain langka yang tidak memiliki pengobatan atau vaksin yang disetujui—seiring melonjaknya wabah di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Menurut data CDC per 17 Mei 2026, wabah ini telah dikaitkan dengan 336 kasus suspek dan 88 kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang mempersiapkan uji coba klinis untuk dua terapi eksperimental, menunggu persetujuan dari pemerintah DRC dan Uganda.
Dua Terapi yang Diharapkan: Remdesivir dan MBP134
Amanda Rojek, peneliti klinis dari University of Oxford yang tergabung dalam upaya WHO untuk menguji coba cepat terapi melawan filovirus (termasuk Ebola dan Marburg), mengungkapkan bahwa uji coba akan difokuskan pada dua kandidat. Pertama, remdesivir—antiviral spektrum luas buatan Gilead Sciences yang pernah diuji coba melawan Ebola Zaire pada wabah 2018-2019 di DRC serta melawan SARS-CoV-2 selama pandemi global. Kedua, MBP134—koktail dua antibodi yang dikembangkan oleh Mapp Biopharmaceuticals, yang mampu mengenali berbagai jenis virus Ebola. MBP134 pernah diberikan pada wabah strain Sudan di Uganda pada 2022, tetapi saat itu di luar uji klinis (di bawah "compassionate use") sehingga tidak dapat ditentukan efektivitasnya. Namun, data pada hewan sangat menjanjikan. Thomas Geisbert, virolog dari University of Texas Medical Branch, dalam studi 2019 menemukan bahwa MBP134 menyembuhkan 5 dari 6 monyet yang terinfeksi Bundibugyo—bahkan setelah hewan menunjukkan gejala demam. "Ini adalah terapi sejati. Kami telah menggunakannya melawan Bundibugyo dan hasilnya fantastis. Anda bisa menunggu sampai mereka sangat sakit. Ini benar-benar meniru seseorang yang datang ke klinik dalam kondisi sangat sakit," ujar Geisbert.
Larry Zeitlan, CEO Mapp, mengonfirmasi bahwa perusahaan memiliki cukup dosis MBP134 untuk uji coba dan obat tersebut dimiliki oleh Otoritas Riset dan Pengembangan Biomedis Lanjutan (BARDA) pemerintah AS. Sementara itu, pilihan vaksi untuk uji coba sangat terbatas. Geisbert dan koleganya memang telah mengembangkan vaksin eksperimental yang melindungi monyet dari Bundibugyo—baik diberikan sebelum atau sesudah paparan—tetapi vaksin tersebut belum tersedia untuk uji klinis.
📊 DATA WABAH (17 MEI 2026)
Kasus suspek: 336
Kematian: 88
Strain: Bundibugyo (tanpa vaksin/obat spesifik)
Lokasi: DRC dan Uganda
Kandidat obat: Remdesivir & MBP134 (uji coba WHO)
Vaksin Ervebo: Lemparan Koin yang Tidak Pasti
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Afrika (CDC Africa) sedang mengevaluasi apakah akan menguji coba Ervebo—satu-satunya vaksin Ebola yang disetujui—dalam wabah saat ini. Ervebo terbukti sangat efektif melawan Ebola Zaire (strain yang menyebabkan wabah besar 2014-2016 di Afrika Barat). Namun, efektivitasnya terhadap Bundibugyo masih belum jelas. Dalam studi 2011, Geisbert menemukan bahwa tiga dari empat monyet yang menerima vaksin Ebola Zaire (mirip Ervebo) terlindungi dari infeksi Bundibugyo. Namun, ia mencatat bahwa Bundibugyo tidak sepenuhnya mematikan pada monyet yang digunakan, sehingga sulit menarik kesimpulan. Perkiraan terbaiknya adalah Ervebo akan efektif sekitar 50 persen melawan Bundibugyo. "Ini semacam lemparan koin," ujarnya. Jika wabah ini berlarut-larut—sesuatu yang tidak diinginkan oleh peneliti mana pun—uji coba dapat merekrut cukup peserta untuk menentukan apakah intervensi tersebut benar-benar bekerja.
Prospek ke Depan: 'Hari-hari Awal yang Berubah Cepat'
Ke depan, keberhasilan uji coba akan sangat bergantung pada seberapa cepat persetujuan pemerintah DRC dan Uganda diberikan, serta logistik pelaksanaan uji klinis di tengah wabah yang masih berkembang. Rojek optimis: "Saya pikir kita berada dalam posisi yang sangat kuat untuk meluncurkan uji coba dengan cepat. Kami bekerja siang dan malam saat ini." Namun, Geisbert mengingatkan bahwa wabah ini masih sangat awal dan situasinya bisa berubah dengan cepat. Jika wabah dapat dikendalikan dengan cepat—tentu itu kabar baik bagi kesehatan masyarakat—maka uji coba mungkin tidak akan memiliki cukup partisipan untuk menghasilkan data yang signifikan secara statistik. Sebaliknya, jika wabah berlanjut, para peneliti akan mendapatkan jawaban tentang efektivitas remdesivir dan MBP134 pada manusia—sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk kesiapsiagaan wabah di masa depan. Apapun hasilnya, upaya cepat WHO dan para ilmuwan internasional menunjukkan bahwa pelajaran dari wabah Ebola 2014-2016 telah mengubah cara dunia merespons kedaruratan kesehatan masyarakat: dari reaksi lambat menjadi proaktif, dengan protokol uji coba yang sudah siap sebelum wabah benar-benar meledak.
"It's a true therapeutic — we've used it against Bundibugyo and it works fantastically, and you can wait until they're very sick. It really mimics someone that walks into a clinic and is very sick." — Thomas Geisbert, virologis, University of Texas Medical Branch.



