Infark Jantung, Termasuk yang Tak Terdeteksi, Terbukti Mempercepat Penurunan Fungsi Kognitif
Baca dalam 60 detik
- Studi longitudinal terhadap lebih dari 20.000 partisipan mengungkap bahwa semua jenis serangan jantung, termasuk silent heart attack, berkaitan dengan risiko penurunan kognitif yang lebih tinggi.
- Silent heart attack, yang sering tidak terdiagnosis, ditemukan lebih umum pada perempuan dan dikaitkan dengan penyakit pembuluh darah kecil di otak yang mempercepat kerusakan kognitif.
- Para peneliti menyarankan penggunaan elektrokardiogram (EKG) dan riwayat medis sebagai strategi murah untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi mengalami penurunan kognitif.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Stroke mengonfirmasi bahwa serangan jantung, baik yang terdiagnosis secara klinis maupun yang tidak disadari (silent heart attack), dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif dalam jangka panjang. Temuan ini didasarkan pada analisis data dari lebih dari 20.000 partisipan berusia 45 tahun ke atas yang terdaftar dalam studi REGARDS (REasons for Geographic And Racial Differences in Stroke) di Amerika Serikat.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan dua arah antara penyakit kardiovaskular dan penurunan kognitif. Kondisi seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, variabilitas tekanan darah tinggi, dan fibrilasi atrium diketahui meningkatkan risiko gangguan kognitif. Sebaliknya, gangguan kognitif juga meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular seperti stroke dan serangan jantung. Studi ini memperkuat bukti tersebut dengan fokus pada dampak spesifik dari infark miokard (MI) terhadap laju penurunan kognitif.
Dalam studi ini, peneliti mengklasifikasikan partisipan berdasarkan riwayat serangan jantung yang dilaporkan sendiri dan hasil elektrokardiogram (EKG). Silent heart attack didefinisikan sebagai adanya bukti EKG tentang infark sebelumnya tanpa diagnosis klinis. Dari total 2.183 partisipan (10,4%) yang pernah mengalami serangan jantung, sebanyak 804 di antaranya (3,8%) merupakan silent heart attack. Selama masa tindak lanjut 10–14 tahun, penilaian kognitif tahunan menunjukkan bahwa semua jenis MI, termasuk silent MI, berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kognitif, terutama gangguan berat.
Menariknya, penurunan skor kognitif terjadi secara seragam pada partisipan kulit putih, kulit hitam, dan laki-laki untuk semua jenis MI. Namun, pada perempuan, hanya silent MI dan MI yang dilaporkan sendiri yang dikaitkan dengan penurunan kognitif lebih cepat. Hal ini menunjukkan bahwa silent MI mungkin lebih sering terjadi pada perempuan karena gejala yang tidak khas atau kurangnya diagnosis. Peneliti menduga bahwa infark serebral subklinis—stroke kecil tanpa gejala yang sering mendahului stroke simptomatik—berkontribusi terhadap kerusakan kognitif pada kelompok ini.
Mekanisme yang mendasari hubungan ini belum sepenuhnya dipahami. Cheng-Han Chen, MD, seorang kardiolog intervensi yang tidak terlibat dalam penelitian, menjelaskan bahwa orang yang mengalami serangan jantung mungkin juga memiliki penyumbatan di pembuluh darah otak, yang menyebabkan iskemia dan infark otak yang mempercepat defisit kognitif. EKG, yang mendeteksi gelombang Q abnormal pada pasien pasca-MI, dapat menjadi alat skrining yang berguna untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi.
“Bukti adanya infark miokard sebelumnya dikaitkan dengan laju penurunan kognitif yang dipercepat pada populasi nasional besar yang biracial. Menggunakan EKG dan riwayat yang dilaporkan sendiri dapat memberikan strategi pragmatis dan murah untuk mengidentifikasi individu dengan risiko penurunan kognitif yang tinggi.” — Penulis studi.
Penelitian ini menekankan pentingnya menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah sebagai upaya pencegahan penurunan kognitif. Rekomendasi gaya hidup seperti aktivitas fisik teratur, diet rendah lemak jenuh dan natrium, menghindari tembakau dan alkohol, serta mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tetap menjadi kunci. Dengan deteksi dini melalui EKG pada pasien berisiko tinggi, intervensi dapat dilakukan lebih awal untuk memperlambat penurunan kognitif.
Ke depannya, integrasi skrining EKG dalam pemeriksaan rutin pada populasi usia menengah ke atas dapat menjadi langkah preventif yang efektif. Meskipun penelitian ini memberikan wawasan baru, masih diperlukan studi lebih lanjut untuk memahami jalur biologis yang menghubungkan serangan jantung dengan kesehatan otak, serta untuk mengembangkan strategi intervensi yang tepat.



