Kevin Lee Ungkap Satu Keputusan Politik yang Membuat Kariernya "Tamat" di Mata UFC
Baca dalam 60 detik
- Mantan petarung kelas ringan UFC Kevin Lee mengklaim bahwa kariernya dihancurkan secara sengaja oleh promotor karena alasan politik pada tahun 2019.
- Lee menolak permintaan untuk bertemu Donald Trump usai kemenangannya di MSG, dan seminggu kemudian justru memilih berpidato mendukung Bernie Sanders, yang menurutnya membuat manajemen UFC marah.
- Merasa diperlakukan tidak adil dan dibuang perlahan hingga ke laga prelims, Lee membandingkan nasibnya dengan Michael Chiesa yang pensiun dengan meriah, sembari memperingatkan petarung lain agar menjauhi politik.

Mantan penantang gelar kelas ringan UFC, Kevin Lee, secara blak-blakan mengungkapkan bahwa satu keputusan politik yang ia buat di masa lalu telah menghancurkan kariernya bersama promotor MMA terbesar di dunia tersebut. Lee mengklaim bahwa ia dianggap "mati" (dead in the water) oleh pihak manajemen UFC karena menolak bertemu Donald Trump dan lebih memilih untuk mendukung Bernie Sanders.
Pengakuan kontroversial ini mencuat setelah Lee menyoroti perlakuan sangat kontras yang diterima oleh Michael Chiesa, petarung yang baru saja pensiun dan mendapat perpisahan meriah layaknya pahlawan dari UFC. Lee merasa perlakuan buruk yang ia terima di akhir kariernya—seperti ditempatkan di laga pembuka (prelims) yang minim sorotan—bukanlah masalah performa, melainkan hukuman atas afiliasi politiknya.
Fakta Pengakuan Kontroversial Kevin Lee:
- Akar Masalah: Mengklaim kariernya diasingkan oleh UFC akibat pilihan politik yang berseberangan dengan petinggi promotor.
- Insiden 2019: Menolak undangan untuk bertemu dengan Presiden AS saat itu, Donald Trump, usai kemenangannya di Madison Square Garden (MSG).
- Langkah Politik: Memilih untuk bertemu dan memberikan pidato dukungan untuk senator Bernie Sanders seminggu setelah insiden MSG.
- Peringatan untuk Atlet: Menyarankan petarung UFC aktif untuk tidak mencampuri urusan politik jika ingin karier mereka aman.
Titik balik kejatuhan kariernya, menurut Lee, terjadi pada ajang UFC 244 di New York tahun 2019. Setelah mencetak kemenangan KO brutal atas Gregor Gillespie, Lee diberitahu bahwa Donald Trump—yang hadir di arena—ingin menemuinya. Alih-alih menerima undangan tersebut, Lee memilih menyelinap ke kerumunan dan meninggalkan gedung. Seminggu kemudian, ia justru tampil di hadapan publik memberikan pidato dukungan untuk kandidat presiden dari sayap kiri, Bernie Sanders.
"Saya tahu persis kapan saya dianggap salah di mata UFC. Setelah saya menang di MSG pada 2019, mereka bilang Trump ingin bertemu. Saya menyelinap ke kerumunan dan pergi dari gedung. Lalu saya bertemu Bernie Sanders seminggu kemudian dan berpidato untuknya. Pada titik itulah, saya benar-benar sudah dianggap tamat oleh mereka."
Tabel Komparasi Perlakuan UFC Menurut Pandangan Kevin Lee
| Aspek | Kevin Lee | Michael Chiesa (Sebagai Perbandingan) |
|---|---|---|
| Afiliasi Politik | Terbuka menolak faksi sayap kanan (Trump) dan mendukung sayap kiri (Sanders) | Bermain aman dan tidak bersinggungan secara publik dengan pandangan politik manajemen |
| Perlakuan Akhir Karier | Diasingkan, sulit mendapat jadwal, dan diturunkan ke kartu prelims (awal) | Mendapatkan apresiasi besar, dukungan promosi, dan perpisahan pensiun yang terhormat |
| Dukungan Promotor | Merasa diboikot dan kehilangan nilai jual di mata petinggi UFC | Dinilai sebagai anak emas yang didukung penuh oleh perusahaan |
Pernyataan Lee ini kembali membuka diskusi panas di kalangan penggemar mengenai seberapa besar pengaruh pandangan politik pribadi seorang atlet terhadap perlakuan yang mereka terima dari jajaran eksekutif promotor. Melalui curhatannya, Lee berharap para petarung generasi baru bisa mengambil pelajaran agar tidak mengorbankan karier mereka demi politik.



