Paddy Pimblett K.O. dalam 52 Detik, Kembali ke Jalur Perebutan Gelar UFC
Baca dalam 60 detik
- Petarung asal Liverpool, Paddy Pimblett, mengalahkan Benoit Saint-Denis melalui submission hanya dalam 52 detik di UFC 329, memperkuat posisinya di peringkat ringan.
- Kemenangan ini menjadi jawaban atas keraguan setelah kekalahan dari Justin Gaethje, dan Pimblett langsung menantang petarung top seperti Ilia Topuria dan Conor McGregor.
- Dengan rekor 24 kemenangan dari 28 pertarungan, Pimblett kini berpotensi mendapatkan kesempatan perebutan gelar juara kelas ringan UFC.

Paddy Pimblett kembali menunjukkan taringnya di oktagon UFC 329 dengan mengalahkan Benoit Saint-Denis hanya dalam 52 detik melalui kuncian guillotine yang mematikan. Kemenangan cepat ini tidak hanya membungkam kritikus yang meragukannya setelah kekalahan dari Justin Gaethje, tetapi juga menempatkannya kembali dalam perbincangan perebutan gelar juara kelas ringan.
Dalam laga co-main event yang digelar di T-Mobile Arena, Las Vegas, Pimblett berhasil menggagalkan percobaan takedown Saint-Denis dan langsung mengunci leher lawannya. Saint-Denis yang menolak menepuk kalah akhirnya pingsan, memaksa wasit Marc Goddard menghentikan pertarungan. Kemenangan ini menjadi yang ke-24 bagi Pimblett dari 28 pertarungan, dengan tujuh di antaranya lewat submission.
Pimblett, yang kini berusia 31 tahun, tidak menyia-nyiakan momen untuk menantang petarung-petarung top. "Saya seperti laba-laba. Begitu saya mencengkeram, Anda tidak akan lepas," ujarnya usai pertarungan. Ia secara terbuka menantang Ilia Topuria, meminta rematch dengan Justin Gaethje, dan bahkan menyebut nama Conor McGregor serta Max Holloway. Sikap percaya diri ini kontras dengan keraguan yang sempat menghantuinya setelah kekalahan perdananya di UFC sejak 2018.
Kemenangan ini juga menjadi angin segar bagi petarung asal Inggris lainnya. Luke Riley, yang berlatih di gym yang sama dengan Pimblett, membuka kartu pendahuluan dengan kemenangan TKO atas Kai Kamaka III. Riley kini memiliki rekor sempurna 14 kemenangan, memperkuat reputasinya sebagai prospek menjanjikan. Namun, tidak semua petarung Inggris beruntung; Lone'er Kavanagh harus mengakui keunggulan Brandon Royval melalui submission di ronde ketiga, menghambat ambisinya naik peringkat.
Pimblett sendiri memiliki sejarah panjang dengan UFC. Ia menolak tawaran kontrak saat berusia 21 dan 23 tahun, sebelum akhirnya bergabung pada 2021 di usia 26 tahun. Keputusan itu terbukti tepat karena ia terus naik peringkat secara stabil. Rivalitas dengan Ilia Topuria, yang dimulai sejak UFC London 2022, kini semakin memanas. Topuria baru saja kehilangan sabuk kelas ringan dari Justin Gaethje dan menderita patah tulang orbital, yang bisa membuka peluang bagi Pimblett untuk menjadi penantang nomor satu.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan betapa kompetitifnya divisi ringan UFC. Dengan gaya bertarung agresif dan kemampuan submission yang mematikan, Pimblett bisa menjadi inspirasi bagi petarung Tanah Air yang bercita-cita menembus UFC. Pertanyaan besarnya: akankah Pimblett mendapatkan kesempatan perebutan gelar dalam waktu dekat, atau harus menunggu pemulihan Topuria lebih dulu?



