Mantan Juara UFC Jessica Andrade Jadi Kurir Demi Tambahan Penghasilan
Baca dalam 60 detik
- Eks juara kelas jerami UFC, Jessica Andrade, mengaku bekerja sebagai kurir pengantar makanan selama masa pemulihan cedera bahu.
- Andrade juga mengerjakan proyek pertamanan di rumah teman untuk menambah pemasukan, menunjukkan realitas finansial petarung UFC.
- Kasus ini kembali menyoroti ketimpangan pendapatan antara petarung UFC dan petinju, dengan UFC hanya mengalokasikan sekitar 20% pendapatan untuk gaji atlet.

Jessica Andrade, mantan juara kelas jerami UFC, harus mencari penghasilan tambahan sebagai kurir pengantar makanan selama masa pemulihan cedera. Petarung asal Brasil berusia 34 tahun itu mengaku tidak malu melakukan pekerjaan kasar demi memenuhi kebutuhan finansial.
Andrade belum bertanding sejak kalah dari Loopy Godinez pada Agustus lalu, saat ia mengalami cedera bahu. Dalam podcast MMA Brasil Direto de Vegas, ia mengungkapkan bahwa ia mengantarkan pesanan makanan melalui aplikasi. "Saya melakukan apa pun yang diperlukan. Saya tidak takut kerja keras. Saya bisa melakukan apa saja," ujarnya.
Selain menjadi kurir, Andrade juga mengerjakan proyek pertamanan di rumah seorang temanโmemindahkan batu, menanam rumput, dan mengecat pagar. "Jika saya mahir, ini bisa menjadi tambahan keterampilan jika saya kekurangan uang. Kami butuh uang ekstra," katanya.
Ini bukan pertama kalinya Andrade menghadapi kesulitan finansial. Pada 2018, ia menjual pakaian, ransel, dan sarung tangan UFC-nya karena kesulitan sponsor, meski mengaku dibayar "cukup baik" oleh promosi. Pada 2023, ia bertarung lima kali hanya untuk membiayai perceraiannya. Setahun kemudian, ia menuduh mantan pelatih Gilliard Parana menahan uang miliknya, tuduhan yang dibantah Parana.
Kisah Andrade mencerminkan isu sistemik tentang rendahnya pendapatan petarung UFC. Data menunjukkan UFC hanya mengalokasikan sekitar 20% pendapatan untuk gaji atlet, sementara petinju mendapatkan sekitar 60% dari pendapatan acara mereka. Perbandingan ini mencuat setelah petinju Conor Benn dilaporkan menerima kontrak satu pertarungan senilai ยฃ11 juta dari Zuffa Boxing, perusahaan milik presiden UFC Dana White. Ketika dikritik, White berdalih bahwa gaji petarung UFC terus meningkat sejak 2001.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, kasus Andrade menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap oktagon, banyak petarung berjuang secara ekonomi. Dengan popularitas UFC yang kian besar di Tanah Air, pertanyaan tentang keadilan pendapatan atlet layak menjadi perhatian. Apakah model bisnis UFC akan berubah di masa depan, atau para petarung harus terus mencari pekerjaan sampingan seperti Andrade?



