Dunia diplomasi internasional menyaksikan langkah mengejutkan dari federasi sepak bola dunia. Laporan dari Bernama pada 20 Februari 2026 mengungkapkan bahwa Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadiri pertemuan perdana Board of Peace yang dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump di Washington. Kehadiran Infantino bukan sekadar formalitas, melainkan untuk mengumumkan kemitraan nyata dalam membangun infrastruktur olahraga di wilayah konflik, khususnya di Jalur Gaza.
Diplomasi Sepak Bola di Jalur Gaza
Dalam pertemuan tersebut, FIFA memaparkan rencana ambisius untuk membangun sejumlah lapangan sepak bola dan sebuah stadion berkapasitas 25.000 penonton di Jalur Gaza. Proyek ini didukung oleh pendanaan sebesar US$75 juta yang akan digalang bersama Dewan Perdamaian tersebut. Langkah ini dipandang sebagai bentuk "Soft Power" di mana sepak bola digunakan sebagai instrumen rekonsiliasi dan harapan di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan.
Secara politis, kedekatan Infantino dengan pemerintahan Trump memicu berbagai reaksi. Kritikus menyoroti bahwa hubungan ini semakin erat menjelang perhelatan Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebelumnya, pada Desember 2025, FIFA bahkan menganugerahi Trump dengan "FIFA Peace Prize", sebuah penghargaan baru yang semakin menegaskan hubungan istimewa antara badan sepak bola dunia tersebut dengan kepemimpinan AS saat ini.
Visi 'Saving Lives' Melalui Olahraga
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah menyelamatkan nyawa melalui inisiatif perdamaian yang nyata, mengabaikan perdebatan mengenai penghargaan prestisius lainnya. Keterlibatan FIFA memberikan legitimasi global pada inisiatif tersebut, meskipun tantangan implementasi di lapangan tetap besar. Keberhasilan proyek stadion di Gaza nantinya akan menjadi ujian bagi efektivitas kolaborasi antara kekuatan politik besar dan organisasi olahraga dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.




