Andy Murray Beralih dari Lapangan Tenis ke Layar Kaca: Dokumenter Hotel Mewahnya Tayang Desember
Baca dalam 60 detik
- Mantan petenis nomor satu dunia Andy Murray dan istrinya, Kim Sears, membintangi serial dokumenter tiga bagian Channel 4 berjudul Our Scottish Hotel.
- Dokumenter ini merekam proyek renovasi besar-besaran Hotel Cromlix senilai £21,4 juta, termasuk pembukaan dua restoran dan pusat kesehatan.
- Serial yang tayang Desember ini menyoroti tantangan finansial dan logistik di balik bisnis perhotelan kelas atas, serta kehidupan 80 staf yang bekerja di sana.

Setelah menggantung raket pada 2024, Andy Murray tidak menghilang dari sorotan. Kini, mantan petenis nomor satu dunia itu bersiap tampil di layar kaca melalui serial dokumenter tiga bagian berjudul Our Scottish Hotel yang akan disiarkan Channel 4 pada Desember mendatang. Bersama istrinya, Kim Sears, Murray membuka pintu Hotel Cromlix—sebuah properti bintang lima di dekat Dunblane, Skotlandia—untuk kamera, memperlihatkan sisi lain kehidupannya sebagai pengusaha perhotelan.
Dokumenter ini bukan sekadar tayangan gaya hidup selebritas. Channel 4 menyoroti transformasi ambisius yang tengah berlangsung di Cromlix: renovasi sayap bangunan, pembukaan dua restoran baru, dan pengembangan pusat kesehatan di area hutan. Proyek tersebut melibatkan sekitar 80 karyawan dan menuntut investasi besar, dengan valuasi hotel yang kini mencapai £21,4 juta menurut laporan keuangan terbaru dari perusahaan Murray, 77 Management.
Bagi Murray, 39 tahun, langkah ini menandai babak baru setelah pensiun dari tenis profesional usai Olimpiade Paris 2024. Sepanjang kariernya, ia mengoleksi tiga gelar Grand Slam, dua medali emas Olimpiade, dan pernah menduduki peringkat teratas dunia. Setelah pensiun, ia sempat menjadi pelatih Novak Djokovic pada akhir 2024 hingga Mei 2025, serta menekuni golf. Kini, peran sebagai tuan rumah hotel dan bintang dokumenter menjadi fokus barunya.
Kim Sears, 38 tahun, mengaku antusias dengan proyek dokumenter ini. Ia menyebut dua tahun terakhir sebagai periode penuh perubahan di Cromlix, dengan proyek pembangunan besar dan arah baru untuk kuliner serta kesehatan. "Saya sangat ingin mendokumentasikan momen ini karena banyak cerita personal dan penemuan menarik di sepanjang jalan," ujarnya seperti dikutip dalam siaran pers. Ia juga menambahkan bahwa bekerja bersama Andy dalam proyek ini adalah pengalaman pertama bagi mereka dan menjadi kurva pembelajaran yang menarik.
Emily Shields, commissioning editor Channel 4, menilai Cromlix sebagai dunia yang memikat untuk dijelajahi. Menurutnya, serial ini menawarkan pandangan langka ke balik layar bisnis yang tidak mengabaikan detail sekecil apa pun. "Kim dan Andy sedang melakukan transformasi ambisius, tetapi inti ceritanya adalah tentang orang-orang: tim yang bekerja keras menghidupkan Cromlix, dan keinginan bersama untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar istimewa," kata Shields.
Hotel Cromlix sendiri memiliki nilai personal bagi pasangan itu. Murray membelinya pada 2013, tahun bersejarah ketika ia menjadi pria Inggris pertama dalam 77 tahun yang menjuarai Wimbledon. Dua tahun kemudian, resepsi pernikahan mereka digelar di hotel tersebut setelah akad di Katedral Dunblane. Kini, hotel itu menjelma menjadi bisnis perhotelan yang diperhitungkan, dengan restoran Cradle yang telah diakui Michelin Guide.
Dokumenter ini direkam selama hampir setahun, mengikuti berbagai tantangan finansial dan logistik dalam menjaga standar bintang lima selama renovasi. Penutupan hotel selama lima bulan pada awal tahun menjadi salah satu episode yang disorot. Setelah dibuka kembali pada Juni, Cromlix menawarkan kamar tambahan, pusat kesehatan di area hutan, dan dua restoran yang langsung menarik perhatian.
Bagi publik Indonesia, kisah Murray ini mungkin terasa jauh. Namun, ada pelajaran tentang bagaimana seorang atlet elite mengelola transisi karier dan diversifikasi bisnis. Di saat banyak pesepakbola atau atlet nasional mulai melirik investasi di properti dan hospitality, langkah Murray menunjukkan bahwa membangun bisnis perhotelan bukan sekadar soal modal, tetapi juga manajemen reputasi dan ketekunan dalam detail. Apalagi, dokumenter ini akan memperlihatkan sisi manusiawi di balik gemerlap bisnis—sesuatu yang jarang terungkap.
Channel 4 akan menayangkan tiga episode berdurasi satu jam each. Selain kisah renovasi, serial ini juga merekam kontribusi para staf, lika-liku konstruksi, dan keputusan pasangan tersebut tentang masa depan estate. Apakah dokumenter ini akan menjadi portofolio baru bagi Murray di dunia hiburan, atau justru menjadi batu loncatan bagi bisnis perhotelannya? Publik akan menantikan Desember nanti.



