CoinDCX Telan Kerugian Rp250 Miliar Akibat Proses Internal Gagal, Pengguna Diminta Waspadai Dompet Lama
Baca dalam 60 detik
- Bursa kripto terbesar India, CoinDCX, menyerap kerugian 15,99 juta USDT setelah sistem penyapuan dana gagal memindahkan deposit pengguna dari dompet usang.
- Insiden ini membuka kembali luka lama pasca-peretasan Juli 2025 yang merugikan USD44 juta, sekaligus mempertanyakan efektivitas migrasi infrastruktur dompet.
- Meski perusahaan menjamin dana pengguna di cold wallet aman, regulator dan pelaku pasar akan mencermati prosedur mitigasi risiko operasional exchange di kawasan Asia.

CoinDCX, bursa aset kripto dengan volume transaksi terbesar di India, mengumumkan telah menanggung kerugian senilai 15,99 juta USDT—setara sekitar Rp250 miliar—setelah proses internal gagal memindahkan deposit nasabah dari dompet yang sudah dinonaktifkan. Pengumuman ini muncul beberapa hari setelah para penyelidik blockchain melaporkan adanya arus dana mencurigakan senilai USD16 juta dari alamat yang dikaitkan dengan platform berbasis Mumbai tersebut.
Kronologi insiden bermula pekan lalu ketika akun pemantau on-chain mendeteksi transfer tidak wajar dari sejumlah dompet yang terhubung ke CoinDCX. CEO CoinDCX, Sumit Gupta, sempat membantah laporan itu melalui media sosial X dan menyebutnya sebagai alarm palsu. Juru bicara perusahaan lantas menjelaskan bahwa alamat yang disorot merupakan dompet lama yang dibuat pada Januari 2025 dan telah diretas pada Juli 2025—insiden yang ketika itu merugikan exchange sekitar USD44 juta—serta tidak digunakan lagi sejak saat itu.
Namun, penyelidik blockchain terkemuka, ZachXBT, membantah klaim tersebut. Menurutnya, setidaknya satu alamat berlabel TQKJQ masih aktif digunakan oleh penyedia likuiditas dan bahkan menyapu deposit pengguna ke dompet panas publik CoinDCX yang sekarang hingga April dan Mei 2026. Temuan ini memicu pertanyaan tentang sejauh mana exchange benar-benar menutup akses ke infrastruktur lama mereka.
Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan Minggu (26/10), CoinDCX mengakui bahwa dompet tersebut adalah bagian dari infrastruktur operasional lama yang telah dinonaktifkan pasca-insiden keamanan 19 Juli 2025. Perusahaan menjelaskan bahwa sebagian pengguna tetap menyetor dana ke alamat usang tersebut, dan CoinDCX langsung mengkreditkan portofolio mereka begitu dana masuk. Namun, layanan sekunder yang disebut sweeping—yang seharusnya memindahkan dana dari alamat usang ke dompet utama—mengalami kegagalan selama periode tertentu. Akibatnya, deposit menumpuk di alamat yang seharusnya sudah tidak dipakai.
“Ini menyebabkan kerugian 15,99 juta USDT yang diserap oleh perusahaan,” tulis CoinDCX dalam blog resminya. Menariknya, perusahaan tidak menyebut insiden ini sebagai peretasan dan tidak mengungkap siapa pihak di balik pergerakan dana tidak wajar tersebut. CoinDesk telah menghubungi CoinDCX untuk mengonfirmasi apakah alamat lama itu diretas kembali, namun hingga berita ini diturunkan belum ada jawaban tambahan.
“Kami ingin menegaskan kembali bahwa seluruh dana pengguna tetap aman di cold wallet terpisah yang terlindungi oleh kustodi berlapis dan kontrol keamanan offline,” ujar perwakilan CoinDCX.
Perusahaan juga mengakui bahwa pihaknya membutuhkan waktu untuk melakukan tinjauan menyeluruh terhadap infrastruktur usang tersebut. “Kami bisa lebih proaktif, tetapi kami membagikan pembaruan ini segera setelah kami memiliki gambaran lengkap,” tambahnya. Pengakuan ini menunjukkan bahwa prosedur audit internal dan migrasi dompet belum sepenuhnya berjalan mulus, meskipun exchange bersikeras bahwa dana nasabah tidak terancam.
Bagi pasar kripto Asia, khususnya Indonesia, kasus CoinDCX menjadi pengingat bahwa risiko operasional—bukan hanya peretasan—dapat menimbulkan kerugian material. Bursa lokal seperti Indodax, Pintu, dan Tokocrypto tengah gencar mengedukasi pengguna tentang pentingnya memverifikasi alamat deposit dan memahami prosedur pemeliharaan dompet. Regulator dalam negeri, Bappebti, juga semakin menekankan pentingnya tata kelola risiko teknologi informasi bagi pedagang aset kripto. Insiden ini dapat mempercepat dorongan penerapan standar keamanan yang lebih ketat, termasuk kewajiban audit berkala terhadap dompet usang dan prosedur sweeping otomatis.
Ke depan, fokus akan tertuju pada langkah CoinDCX memperbaiki infrastruktur dan transparansi laporan insiden. Pertanyaan besarnya: apakah exchange lain di kawasan juga memiliki celah serupa yang belum terungkap? Para pelaku industri berharap kasus ini menjadi momentum bagi exchange global untuk memperkuat prosedur operasional dan memastikan tidak ada dana pengguna yang tertinggal di dompet yang sudah seharusnya dimuseumkan.



