Bitcoin Tembus di Bawah US$80.000, Pasar Kripto Cemas Menanti Sinyal The Fed
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin merosot mendekati US$79.800 pada perdagangan Asia, dipicu aksi kurangi risiko menjelang rapat The Fed.
- Ether, XRP, dan Solana ikut tertekan; hanya TRX yang menguat tipis di tengah aksi jual hampir merata.
- Pelaku pasar mencermati petunjuk kenaikan suku bunga Desember dari Ketua The Fed, yang bisa memperketat likuiditas aset berisiko.

Bitcoin melemah hampir 2% ke kisaran US$79.800 pada Senin pagi waktu Asia, menandai pertama kalinya mata uang kripto terbesar itu diperdagangkan di bawah ambang US$80.000 dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan ini terjadi saat pelaku pasar memangkas eksposur risiko menjelang rapat kebijakan Federal Reserve, sementara gelombang aksi jual di sektor kecerdasan buatan (AI) kembali menekan saham teknologi di kawasan.
Tekanan jual tidak hanya menghantam Bitcoin. Ether turun nyaris 3% ke sedikit di atas US$2.300, XRP kehilangan sekitar 3% menjadi US$1,28, dan Solana tergelincir 2% dengan posisi yang nyaris bertahan di US$100. Dogecoin, Zcash, Hyperliquid, dan BNB masing-masing melemah 1% hingga 2%. Hanya TRX yang mencatat kenaikan tipis kurang dari 1%, menurut data CoinDesk. Koreksi yang merata ini menggarisbawahi bahwa sentimen negatif bersifat sistemik, bukan terbatas pada satu token saja.
Menurut Jeff Mei, Chief Operating Officer bursa kripto BTSE, perhatian utama pekan ini tertuju pada rapat The Fed. Meski bank sentral diperkirakan tidak mengubah suku bunga acuan, pasar akan mencermati seberapa kuat sinyal kenaikan pada Desember. "Itulah yang paling menentukan arah kripto," ujarnya dalam surel kepada CoinDesk. Mei menambahkan bahwa kombinasi harga minyak yang tinggi, eskalasi konflik AS-Iran, dan inflasi dapat mendorong The Fed mengambil nada agresif, yang berarti suku bunga lebih tinggi dan likuiditas lebih ketat bagi aset berisiko, termasuk kripto dan saham.
Keputusan The Fed dijadwalkan diumumkan pada Rabu. Pelaku pasar akan menyimak konferensi pers Ketua Kevin Warsh untuk menangkap petunjuk apakah kenaikan suku bunga akan dilakukan pada Desember. Suku bunga yang lebih tinggi membuat biaya pinjaman meningkat dan cenderung menarik dana keluar dari aset berisiko seperti mata uang kripto. Dalam konteks ini, pergerakan Bitcoin pekan ini lebih mencerminkan posisi defensif investor daripada perubahan fundamental jaringan.
Di Asia, aksi jual saham terkait AI berlanjut. Indeks Kospi Korea Selatan, yang menjadi barometer sentimen AI karena bobot besar perusahaan chip seperti Samsung Electronics, turun 1% setelah strategis Goldman Sachs memangkas target 12 bulan indeks tersebut sebesar 25%. Saham chip menjadi pecundang terbesar di Nikkei Jepang, sementara pengembang model AI China juga melemah. Futures Nasdaq 100 turun 0,1% saat investor bersiap menyambut laporan keuangan perusahaan teknologi besar AS pekan ini. Indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,1% dan masih berjuang pulih dari empat pekan berturut-turut kerugian, rentetan terpanjang sejak April.
Di sisi lain, harga minyak memberikan sedikit kelegaan. Brent crude turun 2% dari level tertinggi enam bulan menjadi sekitar US$114 per barel setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa sudah "mendekati waktu pengambilan keputusan" terkait kesepakatan dengan Iran atau melanjutkan serangan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS justru naik, mencerminkan pergeseran preferensi investor menuju aset yang lebih aman.
Secara teknis, Bitcoin perlu kembali menembus US$82.500, level support yang hilang Kamis lalu, agar penurunan pekan ini dapat disebut sebagai jeda sementara. Jika level tersebut gagal direbut, tekanan jual berpotensi berlanjut, terutama bila The Fed memberikan sinyal hawkish yang lebih tajam dari perkiraan.
"Kombinasi harga minyak yang tinggi, eskalasi konflik AS-Iran, dan inflasi dapat mendorong The Fed mengambil nada agresif, yang berarti suku bunga lebih tinggi dan likuiditas lebih ketat bagi kripto dan saham." โ Jeff Mei, COO BTSE
Bagi investor Indonesia, pergerakan ini menjadi pengingat bahwa pasar kripto domestik tidak kebal terhadap gejolak global. Meski Bappebti mencatat pertumbuhan basis investor, arus modal asing dan sentimen risk-off di pasar global dapat menekan harga aset digital di dalam negeri. Pelaku pasar dalam negeri disarankan mencermati arah kebijakan The Fed dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah, yang secara historis memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar AS.
Ke depan, pertanyaan utamanya adalah apakah penurunan di bawah US$80.000 ini merupakan koreksi sehat dalam siklus bullish atau awal dari pembalikan tren. Jawabannya akan sangat bergantung pada nada komunikasi The Fed Rabu nanti dan apakah pelaku pasar melihat ruang bagi likuiditas untuk kembali mengalir ke aset berisiko.



