Layar Lipat iPhone Duo Dilaporkan Retak, Apple Buka Suara soal Penggantian
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah pembeli iPhone Duo melaporkan munculnya garis terang horizontal di layar dalam perangkat, diduga akibat desain engsel.
- Apple menyatakan hanya sebagian kecil unit terdampak dan menawarkan penggantian lewat AppleCare, sementara biaya perbaikan di luar garansi mencapai 999 dolar AS.
- Insiden ini menghadirkan ujian reputasi bagi produk lipat perdana Apple, yang selama ini dianggap sebagai penentu arah pasar ponsel lipat global.

Apple akhirnya angkat bicara setelah sejumlah pembeli iPhone Duo, ponsel lipat pertamanya, melaporkan kerusakan pada layar dalam perangkat. Keluhan yang mencuat sejak akhir pekan lalu itu menyebut munculnya garis terang horizontal yang memancar dari area engsel, membuat sebagian unit tak lagi nyaman digunakan.
Juru bicara Apple kepada CNBC mengatakan perusahaan telah mengetahui persoalan tersebut dan menyebutnya hanya menimpa “sejumlah kecil” unit iPhone Duo. Apple menawarkan penggantian perangkat melalui program garansi AppleCare. Langkah itu diambil hanya beberapa hari setelah iPhone Duo mulai dijual di toko fisik pada Jumat (23/10/2026), dengan harga mulai 1.999 dolar AS atau sekitar Rp32 juta.
Di situs resminya, Apple mencantumkan biaya perbaikan layar dalam untuk iPhone Duo di luar garansi sebesar 999 dolar AS—hampir setengah harga jual perangkat. Angka itu menjadi sorotan karena menunjukkan betapa mahalnya komponen layar lipat, sekaligus memberi gambaran tentang risiko biaya yang harus ditanggung konsumen jika kerusakan terjadi di luar cakupan garansi.
Sebagian besar laporan awal berasal dari forum daring seperti Reddit dan X, sehingga tidak semuanya terverifikasi. Namun perhatian publik meningkat setelah iFixit, firma reparasi perangkat yang dikenal kredibel, membongkar iPhone Duo dan menguji ketahanannya terhadap debu. Dalam video teardown, teknisi iFixit Shahram Mokhtari mengungkapkan bahwa banyak laporan kerusakan menyebut pengguna mendengar bunyi “kriuk” saat melipat atau membuka perangkat, lalu tetap memaksakannya. “Tepat di lokasi kerusakan, bentuk engselnya sedikit berbeda,” ujarnya.
CEO iFixit Kyle Wiens melalui X menambahkan bahwa engsel terdiri atas puluhan komponen dengan presisi ekstrem. Menurutnya, variasi produksi sekecil apa pun atau sebutir pasir dapat merusak panel layar rapuh yang dilindungi engsel tersebut. Pernyataan itu menggarisbawahi tantangan rekayasa yang masih membayangi kategori ponsel lipat, yang telah menjadi masalah sejak Samsung merilis perangkat lipat awalnya pada 2019 dan mendapati layar dalam retak dalam pemakaian normal.
“Kami mengetahui adanya masalah yang memengaruhi layar dalam pada sejumlah kecil unit iPhone Duo. Jika pengguna mengalami kendala pada layar iPhone Duo, mereka dapat menghubungi AppleCare untuk mendapatkan penggantian,” kata juru bicara Apple.
Meski demikian, Apple menegaskan respons awal pengguna terhadap iPhone Duo sangat positif. Perusahaan juga mengklaim pengembang aplikasi bergerak cepat memperbarui perangkat lunak mereka agar memanfaatkan bentuk layar lipat yang lebih lebar, terutama untuk multitasking dan konsumsi media. Sejumlah reviewer awal memang memuji pengalaman menggunakan perangkat saat terbuka, tetapi mencatat masih banyak aplikasi yang belum dioptimalkan untuk formasi layar baru tersebut.
Bagi pasar Indonesia, dinamika ini relevan meski iPhone Duo belum dipastikan masuk secara resmi. Indonesia merupakan salah satu pasar ponsel terbesar di Asia Tenggara, dan konsumen Tanah Air dikenal sensitif terhadap daya tahan serta biaya servis. Kehadiran perangkat lipat dengan harga premium dan biaya perbaikan layar yang tinggi berpotensi memengaruhi persepsi konsumen terhadap kategori ini. Jika Apple ingin memperluas penetrasi di pasar domestik, jaminan purna jual dan ketersediaan suku cadang akan menjadi faktor penentu.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar apakah Apple dapat mengganti unit yang rusak, melainkan apakah desain engsel dan panel layar iPhone Duo cukup tangguh menghadapi pemakaian sehari-hari. Sebab, bagi produk perdana di kategori yang selama ini dianggap rawan, rekam jejak kerusakan dapat membekas lebih lama daripada antrean pembeli di hari peluncuran.



