Calpers Pangkas 26% Saham Magnificent Seven, Sinyal Gelembung AI Mulai Retak
Baca dalam 60 detik
- Dana pensiun terbesar kelima dunia itu memangkas kepemilikan langsung di tujuh raksasa teknologi AS seperempat lebih pada semester I, beralih ke private equity.
- Langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran valuasi saham teknologi yang dinilai sudah terlalu mahal dan keberlanjutan belanja AI yang membengkak.
- Peringatan Elon Musk soal pendanaan neocloud yang mengering menambah tekanan jual di pasar pramuka, memicu spekulasi konsolidasi sektor infrastruktur AI.

Calpers, dana pensiun terbesar kelima di dunia, memangkas kepemilikan langsungnya di tujuh raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) sebesar 26% pada paruh pertama tahun ini. Langkah tersebut menjadi sinyal terbaru bahwa investor institusional mulai meragukan keberlanjutan reli saham yang didorong euforia kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan perhitungan Financial Times terhadap laporan regulasi, dana yang mengelola lebih dari US$600 miliar itu mengurangi jumlah lembar saham yang dipegang langsung di kelompok yang dijuluki Magnificent Seven—Apple, Microsoft, Alphabet, Amazon, Nvidia, Meta Platforms, dan Tesla. Meski demikian, Calpers bukan meninggalkan pasar saham sepenuhnya; mereka mengalihkan sebagian dana ke private equity untuk menyebar risiko dan mengurangi ketergantungan pada segelintir perusahaan dominan.
Wakil Chief Investment Officer Calpers, Anton Orlich, kepada FT menyatakan bahwa valuasi saham publik saat ini tergolong mahal dan raksasa teknologi berpotensi tertinggal dibanding instrumen investasi lain. Pernyataan itu mempertegas sikap hati-hati kalangan pengelola dana pensiun yang selama ini menjadi pembeli setia saham teknologi.
Tekanan bukan hanya datang dari Calpers. Elon Musk, melalui SpaceX, mengumpulkan pinjaman senilai US$40 miliar untuk membiayai pembelian unit pemrosesan grafis (GPU) bagi perhitungan AI. Ia memperingatkan bahwa pembiayaan bagi perusahaan tanpa pendapatan substansial di luar pusat data AI telah mengering, dan memprediksi akan terjadi konsolidasi di antara penyedia neocloud—layanan komputasi awan khusus AI.
Peringatan itu langsung terasa di pasar pramuka hari Senin. Saham neocloud seperti CoreWeave, Cipher Digital, dan IREN kompak melemah. Investor tampak mencermati apakah model bisnis yang bertumpu pada belanja modal besar untuk GPU dapat bertahan ketika biaya utang meningkat dan aliran dana segar mulai seret.
“Valuasi ekuitas publik tampak mahal dan raksasa teknologi bisa underperform dibanding investasi lain,” ujar Anton Orlich, Deputy Chief Investment Officer Calpers, seperti dikutip Financial Times.
Bagi Indonesia, pergeseran portofolio Calpers dan gejolak di sektor neocloud global perlu dicermati oleh investor domestik, terutama yang memiliki eksposur pada saham teknologi AS baik secara langsung maupun melalui reksa dana dan produk indeks. Pelemahan saham teknologi dapat menekan kinerja portofolio valas, sementara penguatan dolar AS sebagai aset lindung nilai berpotensi menambah tekanan pada nilai tukar rupiah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) mungkin perlu mencermati potensi arus modal keluar dari pasar emerging, termasuk Indonesia, bila sentimen risiko global memburuk.
Di sisi lain, konsolidasi di sektor neocloud dapat membuka peluang bagi penyedia infrastruktur digital dalam negeri untuk bermitra atau menyediakan kapasitas komputasi alternatif. Namun, tanpa pendanaan yang memadai, rencana pengembangan pusat data AI nasional berisiko tertunda. Pemerintah perlu memastikan insentif fiskal dan kemudahan investasi tetap kompetitif agar tidak kehilangan momentum di tengah koreksi global.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa dalam koreksi di sektor teknologi dan apakah dana pensiun lain akan mengikuti jejak Calpers. Jika tren ini berlanjut, pasar AI yang selama ini menjadi motor penggerak Wall Street bisa kehilangan tenaga, dan gelombang konsolidasi di neocloud akan menjadi ujian pertama bagi ketahanan model bisnis berbasis utang.



