Kemenangan Lula Guncang Pasar Brasil, ETF Anjlok 20% dan Real Merosot
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan mengejutkan Lula da Silva dalam pemilu Brasil memicu aksi jual besar-besaran di pasar keuangan, dengan ETF EWZ turun lebih dari 20%.
- Investor khawatir agenda fiskal Lula akan memperburuk defisit anggaran, sementara rivalnya, Flávio Bolsonaro, dianggap lebih ramah pasar.
- Tekanan jual juga meluas ke saham-saham neocloud seperti CoreWeave dan Nebius setelah komentar Elon Musk, menambah ketidakpastian global.

Kemenangan Luiz Inácio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil telah memicu gejolak di pasar keuangan negara itu. ETF iShares MSCI Brazil (EWZ) yang diperdagangkan di Amerika Serikat anjlok lebih dari 20% dalam perdagangan overnight, berpotensi menjadi penurunan harian terburuk dalam sejarah ETF tersebut. Nilai tukar real Brasil juga tertekan, dengan kontrak berjangka November merosot 10% di sesi Asia.
Hasil pemilu yang menempatkan Lula sebagai pemenang untuk masa jabatan keempat yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mengejutkan pasar, yang sebelumnya memperkirakan Senator Flávio Bolsonaro akan memenangkan putaran pertama. Bolsonaro menolak mengakui kekalahan dan berencana mengajukan pembatalan hasil, sementara keputusan Mahkamah Agung untuk memperpanjang waktu pemungutan suara dianggapnya tidak dapat diterima.
Di pasar saham AS, emiten-emiten Brasil mengalami tekanan jual yang dalam. Petrobras turun lebih dari 20% sebelum pembukaan pasar, bank Itaú Unibanco merosot hampir 30%, dan produsen minuman Ambev melemah 19%. Aksi jual ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal di bawah pemerintahan Lula, yang diperkirakan akan lebih ekspansif dibandingkan dengan kandidat yang dianggap lebih pro-pasar.
Analis menilai bahwa pasar obligasi dan ekuitas Brasil akan menghadapi volatilitas tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Lula harus meyakinkan investor bahwa ia mampu menstabilkan lintasan utang negara dan menjaga disiplin fiskal. Sebelumnya, Bolsonaro dipandang sebagai kandidat yang lebih mendukung austerity dan deregulasi, sehingga kemenangan Lula menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya belanja pemerintah dan potensi kenaikan inflasi.
"Apa yang dilakukan investor adalah membuang semua bayi bersama air mandinya," kata Dave Mazza dari Roundhill, menggambarkan reaksi pasar yang berlebihan terhadap hasil pemilu.
Tekanan di Brasil juga berimbas pada sentimen global. Saham-saham neocloud seperti CoreWeave, Nebius, dan IREN kembali tertekan setelah Elon Musk memberikan komentar pedas di platform X, yang memicu kekhawatiran tentang model bisnis mereka yang menggunakan utang agresif untuk membangun pusat data. Saham-saham ini sudah turun lebih dari 30% sepanjang Oktober akibat kekhawatiran investor terhadap yield kredit yang melebar ke level distressed.
Bagi Indonesia, gejolak di Brasil dapat menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya stabilitas fiskal dan komunikasi kebijakan yang kredibel di mata investor global. Sebagai negara berkembang dengan pasar obligasi yang besar, Indonesia rentan terhadap perubahan sentimen risiko global. Jika Brasil mengalami kesulitan menarik modal asing, hal ini bisa mempengaruhi aliran dana ke negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia, terutama jika investor mulai membedakan antara negara dengan fundamental fiskal yang kuat dan lemah.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada langkah konkret Lula dalam menyusun kabinet dan merancang kebijakan fiskal. Apakah ia akan mampu meyakinkan pasar bahwa Brasil tetap berkomitmen pada tanggung jawab fiskal, atau justru sebaliknya? Sementara itu, investor global juga akan mencermati perkembangan di neocloud dan sektor teknologi, serta keputusan suku bunga dari The Fed, ECB, dan BOJ minggu ini. Ketidakpastian ini menuntut kehati-hatian ekstra bagi investor di pasar negara berkembang.



