Anggaran Healey: Pertumbuhan Ekonomi Inggris Menguat, tapi Tekanan Inflasi dan Utang Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Perekonomian Inggris tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada paruh pertama 2026, namun inflasi yang melonjak dan beban utang menjadi ujian bagi Kanselir John Healey.
- Pasar obligasi kini lebih mengkhawatirkan defisit Prancis dan prospek utang AS dibandingkan Inggris, memberi ruang bagi Healey untuk fokus pada disiplin fiskal.
- Anggaran yang akan diumumkan pekan ini harus menyeimbangkan dukungan bagi rumah tangga dengan keyakinan investor bahwa pinjaman tetap terkendali.

Kanselir Inggris John Healey akan menyampaikan anggaran pada Rabu (11/3/2026) di tengah paradoks ekonomi: pertumbuhan yang mengejutkan di satu sisi, namun inflasi yang kembali menggeliat dan beban utang yang membengkak di sisi lain. Pasar keuangan dan anggota parlemen dari Partai Buruh sama-sama menanti apakah Healey mampu menjaga momentum pemulihan tanpa mengorbankan kredibilitas fiskal.
Sejak menjabat, Healey menerapkan prosedur keamanan ala intelijen untuk mencegah kebocoran anggaran. Langkah ini merupakan respons atas spekulasi yang dianggap memperburuk stabilitas ekonomi pada anggaran sebelumnya. Pendekatan hati-hati ini mencerminkan gaya kepemimpinan Healey yang pragmatis, berbeda dengan pendahulunya yang sering melakukan perubahan kebijakan mendadak.
Data terbaru menunjukkan ekonomi Inggris tumbuh 0,6% pada kuartal I dan 0,5% pada kuartal II 2026, menjadikannya negara dengan pertumbuhan tercepat di antara negara G7. Bahkan, kuartal III diproyeksikan mencapai 0,6-0,8%, dua kali lipat dari prediksi Office for Budget Responsibility (OBR) dan lembaga independen. Ini adalah laju pertumbuhan tercepat dalam delapan bulan pertama sejak 2017, di luar periode pemulihan pascapandemi.
Meski demikian, bayang-bayang tetap ada. Inflasi yang melonjak ke 3,5% pada September—lebih tinggi dari ekspektasi—telah meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of England dalam waktu dekat. Bagi sebagian pemilik rumah, ini berarti cicilan hipotek yang lebih mahal. Angka pinjaman pemerintah juga melampaui perkiraan, menambah tekanan pada kas negara.
Di sisi lain, pasar obligasi global kini lebih menyoroti melebarnya spread antara obligasi Prancis dan Jerman, serta prospek utang jangka panjang Amerika Serikat. Inggris tidak lagi menjadi pusat kekhawatiran seperti pada 2022, ketika kombinasi perang Ukraina, bailout energi besar-besaran, dan anggaran mini Liz Truss membuat biaya pinjaman Inggris menjadi yang tertinggi di G7—dijuluki "premi moron" oleh pasar keuangan.
Healey, yang menghabiskan lima tahun di Kementerian Keuangan di bawah Gordon Brown, membawa pengalaman itu ke dalam pendekatannya. Namun, ia menghadapi realitas yang jauh berbeda: defisit £120 miliar, batasan OBR, komitmen manifesto, dan guncangan energi akibat perang Iran. Dalam wawancara dengan BBC, ia menegaskan komitmennya pada disiplin fiskal. "Tidak ada uang seperti pada 1990-an. Publik tidak bodoh," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pengendalian keuangan publik harus menjadi tulang punggung anggarannya.
"Tantangan sekarang adalah memastikan kita menyeimbangkan pembukuan, mengelola dan mengendalikan belanja publik, dan perdana menteri serta saya berada dalam satu barisan untuk memenuhi aturan fiskal dengan buffer," kata Healey.
Salah satu elemen menarik dari anggaran ini adalah rencana pemerintah Buruh yang secara teoritis lebih condong ke kiri untuk menghemat pembayaran kesejahteraan. Tujuannya adalah mengembalikan 1,35 juta orang yang saat ini tidak bekerja karena masalah kesehatan mental ke dunia kerja. Beberapa laporan menyebutkan bahwa pembayaran tunjangan bagi kaum muda mungkin dipotong, dengan pemerintah lebih berinvestasi dalam program pelatihan dan terapi kerja.
Bagi Indonesia, dinamika ekonomi Inggris ini patut dicermati. Sebagai mitra dagang dan tujuan investasi, stabilitas ekonomi Inggris memengaruhi arus modal dan permintaan ekspor. Kebijakan fiskal yang ketat namun pro-pertumbuhan dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam mengelola defisit dan utang, terutama di tengah ketidakpastian global. Selain itu, reformasi kesejahteraan yang berfokus pada kesehatan mental dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia yang juga menghadapi tantangan produktivitas akibat masalah kesehatan jiwa.
Ke depan, Healey harus meyakinkan pasar bahwa matematika anggarannya masuk akal dan rencana pertumbuhannya realistis. Reaksi pasar obligasi, terutama saat Debt Management Office merilis "gilt remit", akan menjadi indikator kredibilitas. Jika berhasil, ia dapat menciptakan ruang fiskal untuk belanja pertahanan dan perawatan sosial yang mendesak. Namun, jika gagal, Inggris bisa kembali menghadapi tekanan biaya pinjaman yang tinggi. Pertanyaannya, mampukah Healey menavigasi antara tuntutan anggota parlemen dan ekspektasi pasar tanpa mengorbankan pemulihan ekonomi?



