Kemenangan Bersejarah Mahasiswa Serbia: Vučić Tumbang, Rakyat Rebut Jalanan Tempat Mereka Dihajar
Baca dalam 60 detik
- Aleksandar Vučić mengakui kekalahan dari gerakan mahasiswa setelah bertahun-tahun memimpin Serbia dengan tangan besi.
- Daftar Mahasiswa diproyeksikan meraih 135–140 kursi di parlemen, mengakhiri dominasi Partai SNS yang hanya mendapat 105 kursi.
- Euforia rakyat di jalanan Belgrade dan Novi Sad menandai berakhirnya era represi, tetapi tantangan demokratisasi dan integrasi Eropa masih menanti.

Setelah hampir dua tahun berunjuk rasa secara damai menentang pemerintahan yang makin otoriter, ratusan ribu warga Serbia akhirnya menuai kemenangan. Presiden Aleksandar Vučić mengakui kekalahan dari gerakan mahasiswa dalam pemilihan umum yang digelar Minggu (26/10/2026), sebuah pergeseran politik yang mengguncang kawasan Balkan.
Berdasarkan hasil awal, Daftar Mahasiswa (Students' List) diproyeksikan meraih 135 hingga 140 kursi di parlemen beranggota 250 orang. Sementara itu, partai berkuasa SNS yang berhaluan kanan hanya memperoleh 105 kursi. Pengakuan Vučić disambut sorak-sorai di seluruh negeri, terutama di Belgrade dan Novi Sad, kota tempat protes bermula pada November 2024 setelah runtuhnya atap stasiun kereta api yang menewaskan belasan orang.
Di Belgrade, puluhan ribu orang tumpah ke jalan-jalan utama, mengibarkan bendera, menyalakan suar, dan bersorak di tengah bunyi klakson kendaraan yang tak henti. “Sungguh aneh, di jalan yang sama tempat polisi memukuli kami, di jalan tempat kami mundur berkali-kali menghadapi gendarmerie, kini kami berdiri sebagai pemenang,” kata Sara, seorang demonstran berusia 24 tahun.
Kemenangan ini bukan sekadar pergantian kekuasaan. Gerakan mahasiswa yang menjelma menjadi kekuatan politik formal kini memikul beban berat: membalikkan arah otoritarianisme yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Daftar calon mereka mencakup lebih dari 160 doktor, sejumlah petani, atlet, dan tokoh masyarakat—sebuah komposisi yang mencerminkan koalisi luas dan harapan akan pembaruan.
Namun, platform kebijakan mereka masih menyisakan sejumlah pertanyaan krusial. Isu keanggotaan Serbia di Uni Eropa akan diputuskan melalui referendum, sementara Kosovo tetap diklaim sebagai bagian integral Serbia. Dua hal ini berpotensi menjadi sumber ketegangan baru, baik di dalam negeri maupun dalam hubungan internasional.
Euforia juga terlihat di Novi Sad, kota yang menjadi episentrum protes. Ribuan orang berkumpul, merayakan hasil yang mereka sebut sebagai “kemenangan rakyat.” Di Belgrade, massa bergerak menuju taman pusat tempat pendukung setia Vučić berkemah selama lebih dari setahun. Dengan gembira, mereka merobohkan pagar dan tenda yang selama ini menutup akses ke ruang publik tersebut.
“Rakyat menang! Rakyat mengalahkan diktator! Rakyat akan memimpin Serbia!” seru Nebojsa Cosic, seorang warga, saat orang-orang bergandengan tangan menari Kolo, tarian rakyat Serbia.
Bagi banyak pihak, momen ini lebih dari sekadar perayaan lokal. Duško Suvajac, 52 tahun, menilai kemenangan ini sebagai simbol bagi Eropa dan dunia. “Ini adalah demonstrasi bagaimana kebebasan bisa mengalahkan kejahatan,” ujarnya. Pernyataan itu menggema di tengah gelombang pemilu di berbagai belahan dunia yang mempertemukan kekuatan kanan otoriter melawan kubu pro-demokrasi.
Meski demikian, kegembiraan tidak menutupi kenyataan bahwa jalan menuju konsolidasi demokrasi masih terjal. Pemerintahan baru harus segera membenahi sektor peradilan, kebebasan pers, dan pemberantasan korupsi yang selama ini menjadi ciri rezim sebelumnya. Harapan besar dari rakyat—seperti diungkapkan Tamara, 35 tahun, “Saya tahu masa sulit masih menanti, tapi ini adalah kelegaan luar biasa dan energi untuk terus maju”—menjadi modal sekaligus ujian.
Dunia akan menyoroti bagaimana Serbia di bawah kepemimpinan baru ini menavigasi tekanan geopolitik antara Timur dan Barat. Apakah kemenangan mahasiswa ini akan menjadi preseden bagi gerakan prodemokrasi di negara lain, atau justru tersandung oleh realitas politik yang keras? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: jalanan Belgrade kini bersaksi bahwa suara rakyat, yang dulu dibungkam dengan pentungan, akhirnya berhasil mengguncang istana.



