Lula Raih Masa Jabatan Keempat di Brasil, Kalahkan Bolsonaro Muda dalam Putaran Kedua
Baca dalam 60 detik
- Luiz Inácio Lula da Silva memenangkan pemilihan presiden Brasil dengan 51,75% suara, mengalahkan Flávio Bolsonaro yang meraih 48,25%.
- Kemenangan ini membalikkan defisit 2,2 juta suara pada putaran pertama menjadi keunggulan 4,3 juta suara, berkat penurunan angka golput dari 21,08% menjadi 19,21%.
- Hasil ini memperkuat posisi kiri di Amerika Latin dan menjadi pukulan bagi sekutu politik Bolsonaro, termasuk mantan Presiden AS Donald Trump.

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan pemilihan presiden putaran kedua pada Minggu (26/10), mengalahkan penantang dari sayap kanan jauh, Flávio Bolsonaro. Dengan hampir 99% suara terhitung, politisi berusia 80 tahun itu meraih 51,75% suara, unggul atas rivalnya yang berusia 45 tahun dengan 48,25%.
Kemenangan ini terasa istimewa karena Lula sempat tertinggal pada putaran pertama awal Oktober. Saat itu, ia kalah tipis dari Bolsonaro, membuat masa depan politiknya dipertanyakan dan menimbulkan keputusasaan di kalangan progresif Brasil selama tiga minggu. Sejak kembalinya demokrasi pada 1980-an, belum pernah ada kandidat yang kalah di putaran pertama kemudian memenangkan putaran kedua. Namun, Lula membuktikan sebaliknya.
Perubahan drastis terjadi karena Lula berhasil menggerakkan pendukungnya untuk datang ke tempat pemungutan suara. Pada putaran pertama, angka golput mencapai rekor 21,08%, yang secara tidak proporsional merugikan Lula karena pendukungnya cenderung tinggal jauh dari TPS. Pada putaran kedua, angka golput turun menjadi 19,21%. Alhasil, Lula yang sebelumnya kalah 2,2 juta suara, kini menang dengan selisih 4,3 juta suara.
Kemenangan Lula disambut euforia di jalanan São Paulo, tempat ia memantau penghitungan suara. Ribuan pendukung berkumpul, melambaikan bendera merah bergambar wajahnya. "Saya merasa luar biasa... Ini adalah cara Brasil memberi tahu dunia bahwa ekstrem kanan itu fasis, anti-orang kulit hitam, anti-orang miskin, anti-negara, anti-kelompok gay... Kami akan mereorganisasi kekuatan demokratis," kata Reginaldo Lopes, sekutu kunci Lula, seperti dikutip The Guardian.
Hasil ini merupakan pukulan berat bagi Flávio Bolsonaro dan klan Bolsonaro. Ayahnya, Jair Bolsonaro, yang menjabat presiden sebelumnya, sedang menjalani hukuman 27 tahun penjara karena merencanakan kudeta. Jair berharap putranya menang agar ia bisa bebas dan diberi peran dalam pemerintahan. Kekalahan ini juga mengecewakan Donald Trump, sekutu internasional terpenting klan Bolsonaro. Trump berharap Bolsonaro muda menjadi bagian dari rangkaian pemimpin pro-Trump di Amerika Latin, bersama Abelardo de la Espriella (Kolombia), Daniel Noboa (Ekuador), José Antonio Kast (Chile), dan Javier Milei (Argentina).
Bagi Lula, kemenangan ini adalah babak akhir yang sensasional dalam karier politiknya yang panjang. Pria yang lahir dari keluarga miskin di pedesaan ini memulai karier sebagai pemimpin serikat pekerja di pinggiran industri São Paulo pada akhir 1970-an. Setelah tiga kali gagal mencalonkan diri sebagai presiden (1989, 1994, 1998), ia akhirnya menjadi presiden pertama Brasil dari kelas pekerja pada 2002. Ia mundur setelah dua periode berturut-turut sesuai konstitusi, lalu kembali berkuasa pada 2022 setelah mengalahkan Jair Bolsonaro. Kini, ia meraih masa jabatan keempat yang bersejarah.
Kemenangan Lula juga didorong oleh demonstrasi besar-besaran pada Sabtu (25/10). Lebih dari satu juta orang memadati Pantai Copacabana di Rio de Janeiro, dan bahkan lebih banyak lagi berbaris di Avenida Paulista di pusat São Paulo. "Rakyat telah bangkit... Tidak pernah ada demonstrasi seperti ini. Ini adalah protes terbesar dalam sejarah Brasil," kata Josias Silva, seorang sopir truk yang hadir di rally Rio.
Meski demikian, suasana di Brasília, tempat Jair Bolsonaro menjalani tahanan rumah, dilaporkan penuh kemarahan dan kebingungan. Pendukung Lula di São Paulo juga sempat geram dengan dugaan upaya politisi pro-Bolsonaro yang mencoba menggagalkan pemilu dengan sabotase transportasi umum di daerah-daerah pemilih Lula. "Saya pikir ini upaya kudeta lain yang dilakukan ekstrem kanan di Brasil. Tapi kita harus benar-benar berjuang agar bisa menang," ujar Lucas Lopes, seorang warga São Paulo.
Kemenangan Lula di tengah tekanan politik dan upaya delegitimasi menunjukkan ketahanan demokrasi Brasil. Namun, tantangan ke depan tidak ringan: ia harus menghadapi oposisi yang masih kuat, menyatukan negara yang terbelah, dan membuktikan bahwa pemerintahan keempatnya mampu membawa stabilitas ekonomi serta keadilan sosial. Akankah Lula mampu merangkul semua pihak dan mewujudkan janji-janji kampanyenya? Publik Brasil dan dunia akan menyaksikannya.



