Aaronson Jadi Titik Lemah Leeds: 24 Laga Tanpa Gol, Farke Diminta Berhenti Memaksakan
Baca dalam 60 detik
- Brenden Aaronson kembali tampil buruk saat Leeds United ditahan Sunderland 0-0, memperpanjang puasa gol menjadi 24 pertandingan Premier League.
- Statistik menunjukkan gelandang serang asal Amerika Serikat itu kalah dalam 75 persen duel dan kehilangan bola sepuluh kali, menjadikannya pemain terburuk di lapangan.
- Tekanan terhadap Daniel Farke meningkat untuk mencoret Aaronson dari starting XI dan mempertimbangkan opsi lain sebelum bursa transfer Januari.

Leeds United kembali menuai hasil imbang tanpa gol saat bertandang ke markas Sunderland pada lanjutan Premier League, Minggu (5/10/2025). Hasil ini mempertegas masalah efisiensi lini depan The Whites yang musim ini sudah lima kali bermain imbang dari delapan pertandingan, meski secara keseluruhan posisi ketujuh di klasemen masih terbilang positif.
Di balik catatan tersebut, sorotan utama tertuju pada performa Brenden Aaronson. Gelandang serang asal Amerika Serikat itu kembali dipercaya mengisi peran nomor sepuluh di belakang Dominic Calvert-Lewin, namun gagal memberikan kontribusi berarti. Sepanjang laga, ia hanya mencatat dua peluang tercipta—yang pertama baginya di Premier League musim ini—tetapi tetap nihil dalam menciptakan peluang besar (big chance) bagi rekan setim.
Statistik individu Aaronson kian memperjelas masalah. Dari 22 sentuhan, ia kehilangan bola sepuluh kali dan hanya memenangi satu dari empat duel (75 persen kalah). Kontribusi defensifnya pun minim, hanya satu, jauh di bawah Harry Wilson yang mencatat empat. Bahkan Wilson, yang juga tampil di bawah standar dengan nol dribel sukses dan nol tembakan sebelum ditarik keluar pada menit ke-66, masih lebih produktif karena menciptakan satu peluang besar dari situasi bola mati.
Kegagalan Aaronson bukan hal baru. Sejak mencetak dua gol ke gawang Newcastle pada Januari lalu, ia tidak pernah lagi menjebol gawang lawan di liga dan hanya menyumbang dua assist. Konsistensi buruk ini membuat sebagian pengamat menilai bahwa pelatih Daniel Farke seharusnya berhenti memberikan kesempatan starter kepada pemain berusia 26 tahun tersebut, setidaknya hingga performanya membaik atau hingga bursa transfer Januari membuka jalan bagi kepindahan.
"Aaronson terlalu ringan dalam duel dan kehilangan bola terlalu sering. Leeds butuh sosok yang bisa menghubungkan lini tengah dan depan dengan lebih efektif," ujar seorang analis taktis yang mengamati pertandingan, seperti dikutip dari kajian pertandingan.
Di sisi lain, hasil imbang ini juga menyoroti ketajaman lini depan Leeds secara keseluruhan. Selain kemenangan 4-1 atas Newcastle, tim asuhan Farke hanya mampu mencetak lima gol dalam tujuh pertandingan liga lainnya. Masalah ini diperparah dengan minimnya kontribusi dari gelandang serang, yang seharusnya menjadi penyuplai bola bagi para penyerang.
Bagi Leeds, keputusan terkait Aaronson akan menjadi ujian bagi Farke dalam mengelola skuad. Dengan jadwal padat dan persaingan ketat di papan tengah, setiap poin sangat berharga. Memaksakan pemain yang sedang tidak dalam performa terbaik berisiko merugikan tim, terlebih ketika opsi lain seperti Willy Gnonto atau Georginio Rutter tersedia untuk mengisi peran kreatif.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Farke akan tetap setia pada Aaronson atau mulai melakukan rotasi. Jika tren negatif ini berlanjut, bukan tidak mungkin posisi Leeds di papan atas akan tergerus, dan tekanan publik terhadap pelatih akan semakin besar. Keputusan dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi indikator arah ambisi klub asal Yorkshire tersebut.



