EA Sports Hidupkan Kembali Fight Night Setelah 15 Tahun, di Tengah Transisi Kepemilikan Baru
Baca dalam 60 detik
- EA Sports mengonfirmasi kebangkitan seri tinju Fight Night melalui akun Twitter resmi pada 20 Oktober, mengakhiri penantian 15 tahun sejak rilis terakhir Fight Night Champion pada 2011.
- Keputusan ini muncul saat Electronic Arts berada di bawah kendali Saudi Arabia's Public Investment Fund, yang berpotensi mengubah arah strategi portofolio game olahraga perusahaan.
- Belum ada detail platform, pengembang, atau jadwal rilis, tetapi teknologi dari seri UFC diperkirakan akan diadopsi untuk mempercepat pengembangan.

EA Sports secara resmi mengumumkan kebangkitan waralaba tinju legendaris, Fight Night, setelah lebih dari satu dekade vakum. Konfirmasi disampaikan melalui akun Twitter @EASPORTSFN pada 20 Oktober, disertai pesan singkat: "To everyone who stayed in our corner: Fight Night is coming back." Pengumuman ini langsung memicu euforia di kalangan penggemar game tinju yang telah lama menantikan kelanjutan seri tersebut.
Fight Night terakhir kali meluncurkan entri kelima, Fight Night Champion, pada Maret 2011 untuk PlayStation 3 dan Xbox 360. Sejak itu, franchise ini tidak pernah menyentuh konsol generasi berikutnya, meski permintaan pasar terus menggeliat. Selama hampir satu dekade, rencana kebangkitan sempat beberapa kali muncul dan tenggelam, dengan versi terakhir dari proposal pengembangan dilaporkan dibatalkan sekitar setahun lalu.
Keputusan untuk menghidupkan kembali Fight Night datang di tengah gejolak internal Electronic Arts (EA). Perusahaan kini berada di bawah kepemilikan baru yang dipimpin oleh Saudi Arabia's Public Investment Fund (PIF), yang mengakuisisi saham signifikan pada 2025. Perubahan struktur kepemilikan ini diperkirakan memengaruhi prioritas pengembangan, termasuk alokasi sumber daya untuk waralaba yang sempat terbengkalai. Langkah EA menghidupkan Fight Night juga dinilai sebagai respons terhadap tekanan kompetitif dari game tinju lain seperti Undisputed, yang selama ini mengisi kekosongan pasar.
Meski antusiasme tinggi, EA belum merilis detail spesifik mengenai platform, pengembang, maupun jendela rilis. Namun, sejumlah pengamat industri menduga bahwa pengembangan akan memanfaatkan teknologi dari seri UFC milik EA, yang selama ini sukses secara komersial. "Kemungkinan besar EA akan menggunakan fondasi teknis dari UFC untuk mempercepat produksi, mengingat kompleksitas simulasi tinju tidak jauh berbeda," ujar seorang analis game yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, komunitas modder telah lebih dulu menghidupkan kembali Fight Night Champion melalui proyek ambisius berjudul Fight Night Champion Reborn. Dirilis awal bulan ini, mod gratis untuk PC tersebut menambahkan dukungan hingga 144 FPS, penskalaan resolusi hingga 3x, DLSS 5, dan kamera orang ketiga. Meski tidak terkait dengan EA, inisiatif ini menunjukkan betapa besarnya hasrat penggemar terhadap seri tersebut.
"The fight is never over" โ tagline yang menyertai pengumuman resmi EA Sports, menyiratkan bahwa semangat Fight Night tetap hidup meski lama hiatus.
Bagi pasar Indonesia, kebangkitan Fight Night berpotensi menggairahkan kembali komunitas game tinju lokal yang selama ini terbatas pada judul seperti Undisputed atau game lawas. Dengan penetrasi konsol dan PC yang terus tumbuh, kehadiran Fight Night di platform modern dapat menjadi katalis bagi turnamen esports tinju di Tanah Air, terutama jika EA merilis versi yang mendukung kompetisi daring.
Ke depan, tantangan terbesar EA adalah memenuhi ekspektasi tinggi penggemar setelah 15 tahun penantian. Apakah mereka akan menghadirkan inovasi gameplay yang signifikan, atau sekadar mengandalkan nostalgia? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan, seiring EA mulai membocorkan detail lebih lanjut. Satu hal yang pasti, Fight Night telah menyatakan diri kembali ke ring โ dan publik menanti dengan gloves terpasang.



