Empat Bulan Jadi Dog Walker, Mantan Eksekutif Marketing Ini Sebut Pelajaran Karier Lebih Berharga dari MBA
Baca dalam 60 detik
- Sally Simmons meninggalkan pekerjaan marketing mapan dan memilih menjadi dog walker profesional selama empat bulan pada 2022.
- Dengan tarif awal 15 dolar AS per kunjungan, ia membangun 30 ulasan bintang lima dan pendapatan hingga 84 dolar AS per malam.
- Pengalaman itu mengubah definisi suksesnya dan memberi pelajaran manajemen klien yang ia bawa kembali ke dunia korporat.

Keputusan Sally Simmons meninggalkan posisi marketing di industri kesehatan untuk menjadi dog walker profesional selama empat bulan pada 2022 bukan sekadar pelarian dari kejenuhan. Perempuan asal California itu menilai pengalaman tersebut sebagai salah satu pelajaran karier paling berharga yang pernah ia jalani—bahkan lebih berdampak daripada gelar MBA yang baru saja ia selesaikan.
Simmons bukan pekerja lepas tanpa arah. Ia memiliki gelar master bisnis dan sempat meniti karier di bidang pemasaran global. Namun, pindah dari Kentucky ke California pada Oktober 2021 membuatnya kelelahan: bekerja jarak jauh dengan jam kantor Pantai Timur sambil menyelesaikan studi membuat hari-harinya habis di depan layar. Di tengah tekanan itulah ia melihat seorang dog walker di TikTok dan mulai mempertanyakan makna kesuksesan yang selama ini ia kejar.
Keputusan itu diambil cepat. Dalam hitungan minggu pada musim semi 2022, ia mengundurkan diri, lulus dari sekolah bisnis, terbang ke Eropa untuk menghadiri pernikahan teman lama, lalu melanjutkan perjalanan ke Texas untuk berbicara di sebuah simposium waralaba. Di sela-sela itu, ia membuat profil di platform Rover, menonjolkan pengalaman sukarela di penampungan hewan dan kebiasaan merawat hewan peliharaan teman-teman.
Strategi penetapan harga menjadi cerminan pendekatan bisnisnya. Simmons sengaja mematok tarif di bawah pasar—sekitar 15 dolar AS per kunjungan dan 17 dolar AS per jalan kaki 30 menit—untuk mengumpulkan ulasan. Ia menerima hampir semua tawaran, termasuk menginap di rumah klien pada akhir pekan dan menampung anjing di apartemennya. Setiap klien mendapat laporan rinci: foto, catatan lucu, bahkan hitungan berapa kali anjing buang air. Tujuannya jelas, menjadi orang yang dipercaya merawat anggota keluarga, bukan sekadar penyedia jasa.
Hasilnya datang lebih cepat dari perkiraan. Ulasan mengalir, profilnya semakin dipercaya, dan tarif pun dinaikkan bertahap. Pada akhir masa empat bulan, Simmons telah mengantongi peringkat sempurna dengan 30 ulasan, klien berulang, dan jadwal yang padat. Salah satu kenangan favoritnya adalah ketika sebuah keluarga memintanya merawat dua anjing selama akhir pekan pernikahan mereka. Ia menghabiskan dua setengah hari di resor mewah dan mendandani kedua anjing dengan tuksedo kecil sebelum berjalan di lorong.
“Saya menyadari bahwa passion terlihat, apa pun jenis pekerjaannya. Keterampilan yang paling penting—hadir, mendengarkan, peduli, membangun kepercayaan, dan membuat perubahan kecil yang konsisten—berlaku di semua karier,” kata Simmons, seperti dikutip dari pengalamannya.
Bagi Simmons, empat bulan itu bukan sekadar jeda. Ia belajar bahwa kesuksesan tidak selalu identik dengan jabatan impresif atau klien besar. Pengalaman menjadi dog walker justru memperkuat kemampuannya membangun hubungan dengan klien, mengelola ekspektasi, dan menjaga konsistensi layanan—keterampilan yang ia bawa kembali ke dunia pemasaran. Bahkan, tawaran pekerjaan marketing yang ia terima sekarang datang saat ia sedang berjalan kaki bersama anjing klien. Ia menerima telepon itu di trotoar, lalu melanjutkan rutinitasnya.
Kembali ke dunia korporat bukan keputusan sulit. Saat itu ia sedang hamil anak pertama dan membutuhkan stabilitas, tunjangan, serta pendapatan tetap. Insiden kecil—seekor anjing yang mengejar tupai dan menariknya hingga terjatuh—menjadi penanda bahwa musimnya sebagai dog walker profesional telah berakhir. Namun, ia mengaku pola hidupnya berubah: ia kini memilih log off pukul 5 sore, berjalan kaki di tepi pantai setelah minggu yang berat, dan menyisipkan olahraga di sela jam makan siang.
Kisah Simmons bukan anjuran untuk meninggalkan pekerjaan mapan. Ia sendiri mengakui bahwa keputusan itu dimungkinkan oleh tabungan pribadi dan dukungan pasangan yang memiliki pendapatan tetap. Namun, pengalamannya menyoroti fenomena yang lebih luas: semakin banyak profesional muda yang mempertanyakan hubungan antara produktivitas, kesehatan mental, dan definisi karier yang bermakna. Di Indonesia, diskusi serupa mengemuka di kalangan pekerja urban yang menghadapi tekanan kerja jarak jauh dan budaya hustle.
Pertanyaannya ke depan: apakah perusahaan akan mampu menawarkan fleksibilitas dan ruang bernapas yang membuat karyawan tidak perlu mengambil jeda ekstrem untuk menemukan kembali ritme hidup mereka? Ataukah fenomena “berhenti sejenak” akan terus menjadi jalan pintas yang mahal bagi mereka yang mampu membiayainya?



