Petani Penjaga Api di Ciremai Selamatkan Bayi Surili dari Karhutla, Pertemukan Kembali dengan Induknya
Baca dalam 60 detik
- Darsa (51), anggota Masyarakat Peduli Api, menemukan bayi surili lemas di dahan terbakar saat karhutla melanda Puncak Dulang, Gunung Ciremai.
- Setelah dirawat semalam, bayi primata endemik itu dikembalikan ke induknya di zona inti yang belum terbakar, bersama sekitar 15 surili lain.
- Kisah ini menyoroti peran masyarakat sipil dalam mitigasi karhutla sekaligus ancaman nyata bagi satwa endemik di kawasan konservasi.

Di tengah kobaran api yang membakar hutan Puncak Dulang, Gunung Ciremai, Jawa Barat, pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut, seorang petani anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Padabeunghar Silihwangi Majakuning, Darsa—akrab disapa Dodo—menemukan seekor bayi surili dalam kondisi lemas di dahan pohon yang terbakar. Peristiwa pada Kamis (22/10) malam itu menjadi titik awal upaya penyelamatan yang berlangsung lebih dari 12 jam.
Dodo, 51 tahun, tidak tinggal diam. Ia segera membawa bayi primata endemik tersebut menjauh dari area kebakaran dan menempatkannya di tenda darurat. Bayi surili itu telah menghirup banyak asap sehingga kondisinya menurun. Setelah dirawat semalaman, keesokan paginya ia mulai pulih dan kembali bersuara—sebuah tanda yang membuat Dodo yakin bahwa induknya mungkin masih berada di sekitar kawasan yang belum terbakar.
Upaya mengembalikan bayi surili ke pangkuan induknya bukan perkara mudah. Medan terjal dan sisa bara api masih menghadang. Pada Jumat (23/10) pagi sekitar pukul 07.00 WIB, Dodo menyusuri hutan sejauh 500 meter, namun induk surili tak kunjung ditemukan. Khawatir bayi itu celaka jika ditinggal, ia membawanya kembali ke tenda. Baru pada pukul 10.00 WIB, dengan fokus pencarian di zona inti Gunung Ciremai yang belum tersentuh api, Dodo berhasil menemukan induk surili setelah berjalan sekitar 300 meter dari lokasi penemuan awal.
"Kondisinya sudah terbakar, jadi kenapa si anakan surili ini ditinggal. Jadi induknya itu mungkin kena asap, jadi kacau ditinggal pada lari masuk ke zona inti yang belum terbakar. Untuk sama kita sudah dibuat sekat bakar, jadi api kemungkinan nggak masuk ke zona inti. Ada sekitar 15 ekor tuh ada. Karena memang itu habitat surili," tutur Dodo, seperti dikutip dari detikJabar.
Pertemuan itu bukan hanya mempertemukan ibu dan anak, tetapi juga mengungkap fakta lain: sekitar 15 surili terlihat bersama induk tersebut. Dodo menduga kawanan itu merupakan kelompok yang menyelamatkan diri dari hutan yang terbakar dan berlindung di zona inti yang relatif aman. Surili (Presbytis comata) merupakan primata endemik Jawa Barat yang statusnya rentan terhadap kerusakan habitat.
Kisah Dodo menjadi cermin bagaimana masyarakat di sekitar kawasan konservasi mengambil peran langsung dalam mitigasi bencana. MPA Padabeunghar Silihwangi Majakuning adalah kelompok swadaya yang dibentuk untuk mencegah dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Mereka kerap menjadi garda terdepan sebelum bantuan resmi tiba. Namun, upaya semacam ini juga menunjukkan kerentanan ekosistem Gunung Ciremai terhadap karhutla yang dipicu cuaca ekstrem dan aktivitas manusia.
Bagi satwa endemik seperti surili, kebakaran hutan bukan hanya ancaman langsung berupa luka bakar atau sesak napas, tetapi juga hilangnya tajuk pohon sebagai tempat berlindung dan mencari makan. Ketika api membakar vegetasi di kawasan yang menjadi habitatnya, primata ini terpaksa bermigrasi ke zona inti yang lebih aman. Namun, kepadatan populasi di area terbatas dapat memicu kompetisi pakan dan stres pada satwa.
Keberhasilan Dodo mengembalikan bayi surili ke induknya patut diapresiasi, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan kesigapan warga. Diperlukan sistem peringatan dini, patroli rutin, dan penguatan sekat bakar di kawasan rawan. Tanpa itu, kisah penyelamatan seperti ini hanya akan menjadi epilog dari rangkaian kebakaran yang terus berulang setiap musim kemarau.
Ke depan, muncul pertanyaan: sejauh mana pemerintah daerah dan pengelola taman nasional memperkuat kolaborasi dengan MPA untuk melindungi koridor satwa di Gunung Ciremai? Jika karhutla terus terjadi, bukan tidak mungkin surili dan primata endemik lain akan semakin terdesak dari habitat aslinya.



