Siput Laut Pelangi: Spesies Mungil yang Menandai Pergeseran Ekosistem Laut Inggris
Baca dalam 60 detik
- Siput laut pelangi (rainbow sea slug) yang biasanya hidup di perairan Spanyol dan Portugal kini ditemukan berkembang biak di lepas pantai Cornwall, Inggris, akibat menghangatnya suhu laut.
- Penampilannya yang mencolok dengan warna cerah seperti permen menjadi peringatan bagi predator bahwa hewan ini tidak enak dimakan, sekaligus daya tarik bagi para peneliti dan penggemar biota laut.
- Fenomena ini menjadi indikator perubahan iklim yang lebih luas, dengan spesies laut bergerak ke utara mencari suhu yang lebih dingin, memicu pertanyaan tentang dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem setempat.

Spesies siput laut berwarna-warni yang dikenal sebagai rainbow sea slug (nama ilmiah Facelina bostoniensis) untuk pertama kalinya tercatat berkembang biak di perairan Inggris. Penemuan di Falmouth, Cornwall, ini menjadi sinyal bahwa pemanasan suhu laut telah mendorong perluasan habitat hewan tropis ke wilayah yang sebelumnya terlalu dingin.
Hewan mungil berukuran sekitar dua sentimeter ini biasanya menghuni pesisir Spanyol dan Portugal. Namun, sejak 2022, keberadaannya terdeteksi di Kepulauan Scilly, dan kini populasinya mulai mengakar di teluk-teluk selatan Cornwall dan Devon. Menurut para ahli, pergeseran ini terjadi sangat cepat—sebuah tanda bahwa perubahan iklim bukan lagi proyeksi masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung di lautan.
Penemuan tersebut berawal dari sebuah bioblitz—survei kehidupan pantai yang melibatkan masyarakat umum—yang diselenggarakan oleh Rock Pool Project. Dalam kegiatan yang digelar saat surut musim semi di Falmouth itu, seekor siput laut pelangi ditemukan di bawah batu, bersebelahan dengan lingkaran putih telur yang baru saja diletakkan. Bagi para peserta, momen itu seperti menemukan permata hidup di antara batu-batu berlumut.
Warna-warni mencolok pada tubuh siput laut pelangi bukan tanpa tujuan. Corak pink cerah, tonjolan biru menyerupai jari (disebut cerata), serta ujung kuning dan oranye merupakan bentuk peringatan bagi predator bahwa hewan ini tidak dapat dimakan. Strategi kamuflase yang justru bersifat aposematik—menarik perhatian agar tidak dimangsa—ini menjadikannya salah satu makhluk laut paling flamboyan.
“Sejak saat itu saya telah melihat lebih dari 20 di sini. Perkembangbiakannya sangat cepat,” ujar Ellie Maynard, relawan proyek sekaligus ahli biologi kelautan, seperti dikutip dari laporan tersebut.
Kemunculan siput laut pelangi juga diiringi oleh spesies langka lain, seperti hair curler slug yang pertama kali mencapai Inggris pada September lalu. Kehadiran mereka memperkaya catatan keanekaragaman hayati setempat, tetapi sekaligus menjadi alarm bagi keseimbangan ekosistem. Spesies pendatang dapat bersaing dengan biota asli untuk mendapatkan makanan dan ruang hidup, meskipun dampak jangka panjangnya belum sepenuhnya dipahami.
Fenomena ini bukan isolated incident. Di berbagai belahan dunia, pemanasan laut telah memicu migrasi massal spesies laut ke arah kutub. Di Inggris, kenaikan suhu permukaan laut rata-rata sekitar 0,3°C per dekade sejak 1980-an telah menciptakan kondisi yang lebih ramah bagi hewan-hewan dari wilayah selatan. Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan ini dapat mengubah struktur rantai makanan dan pada akhirnya memengaruhi perikanan serta mata pencaharian masyarakat pesisir.
Bagi Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, pergeseran serupa juga mungkin terjadi. Suhu laut Indonesia yang menghangat dapat memaksa spesies endemik bermigrasi ke perairan yang lebih dalam atau lebih dingin, sementara spesies invasif dari luar mungkin masuk. Pemantauan berbasis masyarakat seperti bioblitz di Inggris bisa menjadi model partisipasi publik dalam mendeteksi perubahan ekosistem secara dini.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah laut akan berubah, melainkan seberapa cepat kita dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Penemuan siput laut pelangi di Cornwall hanyalah satu bab kecil dari kisah besar yang sedang ditulis oleh iklim—sebuah pengingat bahwa setiap spesies, sekecil apa pun, memiliki peran dalam jaring kehidupan yang semakin rentan.



