Bitcoin Tembus di Bawah US$80.000 saat AS Evakuasi Personel dari Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin anjlok 2,2% ke US$79.700, level terendah dalam beberapa pekan, dipicu eskalasi ketegangan AS-Iran.
- Evakuasi besar-besaran personel diplomatik dan militer AS dari Timur Tengah memicu aksi risk-off di pasar aset digital.
- Tekanan geopolitik membayangi reli kripto pasca-pemilu AS, dengan investor beralih ke aset safe haven.

Harga Bitcoin merosot di bawah ambang US$80.000 pada perdagangan akhir pekan, menandai titik terendah dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat memulai evakuasi cepat personel dari kedutaan dan pangkalan militer di seluruh Timur Tengah, menyusul intelijen yang mengindikasikan Iran tengah mempersiapkan serangan terhadap warga Amerika.
Laporan The Wall Street Journal, Sabtu pagi waktu setempat, menyebut evakuasi tersebut jauh lebih luas dibandingkan laporan sebelumnya yang hanya menyebut pengosongan sebagian staf diplomatik di Arab Saudi. Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton dalam memo Jumat kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio menulis bahwa Iran telah "secara substansial meningkatkan upaya menargetkan personel AS" dan bahwa "upaya plot mematikan terhadap warga Amerika telah mencapai tahap lanjut, baik di Timur Tengah maupun di sejumlah negara lain."
Ketegangan ini bukan pertama kali menekan pasar aset digital. Sejak awal pekan, sentimen investor sudah rapuh akibat ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan. Bitcoin tercatat turun 2,2% dalam 24 jam terakhir ke level US$79.700, sementara Ether, XRP, dan Solana masing-masing melemah di kisaran 3% hingga 4%. Koreksi ini memperpanjang tren pelemahan yang sudah berlangsung sejak pertengahan pekan, ketika harga sempat bertahan di atas US$82.000.
Pernyataan Presiden Donald Trump di sebuah rapat umum di Florida pada Jumat malam menambah bahan bakar ketidakpastian. Ia mengisyaratkan kemungkinan eskalasi militer baru terhadap Iran setelah pemilihan tengah periode awal November. "Kita mungkin akan melakukan 'Epic Fury' kecil lagi," ujarnya, merujuk pada operasi militer sebelumnya. Ancaman ini memicu kekhawatiran pasar akan konflik berskala lebih besar yang dapat mengganggu stabilitas energi dan perdagangan global.
Di sisi lain, pasar kripto juga menghadapi dinamika internal. Stablecoin berbasis aset dunia nyata (RWA) yang terdiversifikasi masih menawarkan imbal hasil 5โ7% dari kredit riil, sementara pendanaan kripto terkompresi ke sekitar 4%. Platform GENIUS mendorong imbal hasil ke luar rantai, dengan total pasar yang berpotensi tumbuh menjadi US$4 miliar dalam tiga tahun. Namun, tekanan makro dari ketegangan geopolitik tampaknya lebih dominan memengaruhi sentimen jangka pendek.
"Pasar kripto sangat sensitif terhadap berita geopolitik, terutama yang melibatkan konflik militer. Aksi jual kali ini mencerminkan peralihan cepat ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah," kata seorang analis pasar yang enggan disebutkan namanya.
Bagi investor Indonesia, pelemahan Bitcoin ini patut dicermati. Meskipun pasar kripto domestik belum terintegrasi langsung dengan bursa global, korelasi harga aset digital dengan sentimen global tetap tinggi. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS dapat memperbesar tekanan jual di bursa kripto lokal, terutama jika investor ritel memilih mengamankan modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya mengingatkan bahwa volatilitas aset kripto sangat dipengaruhi faktor eksternal, termasuk kebijakan moneter dan geopolitik.
Ke depan, arah harga Bitcoin akan sangat bergantung pada perkembangan di Timur Tengah. Jika ketegangan mereda dan evakuasi tidak berlanjut menjadi konflik terbuka, pasar mungkin akan kembali stabil. Namun, jika retorika militer meningkat menjelang pemilu AS, tekanan jual bisa berlanjut. Pertanyaannya, apakah investor kripto akan tetap bertahan atau beralih ke aset yang lebih aman hingga ketidakpastian mereda?



