Bangkai Paus Terdampar di Coogee Picu Perdebatan Etika: Dibuang ke Laut atau Dimuseumkan?
Baca dalam 60 detik
- Bangkai paus humpback muda yang terdampar di Lurline Bay, Sydney, memicu penutupan dua pantai populer dan memicu perdebatan antara ranger adat dan dewan kota.
- Gamay Rangers menolak pembuangan ke tempat pembuangan akhir karena paus dianggap leluhur sakral, sementara ahli kelautan menilai penenggelaman di lepas pantai lebih ramah lingkungan.
- Insiden ini menyoroti dilema pengelolaan bangkai paus di kawasan perkotaan, dengan opsi penenggelaman di landas kontinen hingga 50 km lepas pantai sebagai solusi yang didukung sains.

Bangkai paus humpback muda yang terdampar di Lurline Bay, antara Pantai Coogee dan Maroubra di Sydney, memicu penutupan sementara dua pantai paling ramai di Australia tersebut. Setelah sempat ditutup pada Kamis (22/10), Coogee kembali dibuka pada Jumat (23/10), namun Maroubra masih ditutup akibat gelombang berbahaya. Bangkai paus itu masih tersangkut di bebatuan meski air pasang telah surut, dan pihak berwenang memperingatkan bahwa pasang malam nanti dapat kembali mendorong bangkai ke tepi pantai, berpotensi menarik hiu ke area mandi.
Insiden ini bukan sekadar persoalan kebersihan pantai. Bagi masyarakat Adat Bidjigal, paus merupakan hewan totem yang sakral. Robert Cooley, ranger senior Gamay Rangers—kelompok ranger adat yang bekerja sama dengan dewan kota Randwick—menegaskan bahwa pihaknya menolak keras rencana membuang bangkai ke tempat pembuangan akhir (TPA). "Sangat menyedihkan mengetahui leluhur kami yang penting dibuang ke TPA bersama sampah kota lainnya," ujarnya. Cooley menjelaskan bahwa bangkai paus tersebut sudah dalam kondisi sangat membusuk, sehingga sulit untuk dimakamkan di tanah konservasi milik dewan adat, seperti yang dilakukan terhadap paus humpback muda yang terdampar di Pantai Cronulla awal tahun ini. "Prioritas utama sekarang adalah membiarkan alam mengambil jalannya di laut," tambahnya.
Opsi penenggelaman di lepas pantai mendapat dukungan dari ilmuwan. Olaf Meynecke, pengelola program penelitian paus dan iklim di Griffith University, menilai pembuangan ke TPA tidak etis dan tidak ramah lingkungan. Ia menyarankan agar bangkai ditarik hingga ke awal landas kontinen, sekitar 50 km dari pantai, sehingga dapat terurai secara alami dan mendukung ekosistem laut, termasuk hiu. "Kami justru ingin hiu memakan bangkai ini karena mempercepat penguraian, dan itu menjauhkan hiu dari area pantai tempat orang berenang," kata Meynecke. Ia menambahkan bahwa bahan peledak kadang digunakan untuk membuka rongga bangkai agar gas metana dari bakteri usus cepat keluar, sehingga bangkai tenggelam lebih cepat.
Kasus di Sydney ini bukan yang pertama. Awal tahun ini, penarikan bangkai paus sperma sejauh 20 km di pesisir selatan Sydney menuju Wollongong dan pembuangannya ke TPA sempat menuai kritik karena meningkatkan aktivitas hiu dan membuat perenang lengah. Sementara itu, di Australia Barat, Pantai Cottesloe terpaksa ditutup pekan ini setelah bangkai paus sepanjang tiga meter ditemukan membusuk; Wali Kota Cottesloe, Melissa Hawkins, mengatakan pihaknya mengerahkan buldoser untuk mengangkut sisa bangkai ke TPA.
Perdebatan tentang penanganan bangkai paus di kawasan perkotaan mencerminkan benturan antara praktik sanitasi modern dan nilai budaya masyarakat adat. Di Australia, kebijakan penanganan bangkai paus memang bervariasi antarnegara bagian. Namun, para ahli sepakat bahwa penenggelaman di laut dalam lebih baik daripada pembuangan ke TPA, tidak hanya dari sisi lingkungan tetapi juga untuk mengurangi risiko serangan hiu di pantai-pantai populer. Metode ini juga dinilai lebih menghormati siklus alam, sejalan dengan kepercayaan masyarakat Adat yang memandang paus sebagai bagian dari ekosistem sakral.
Ke depan, otoritas setempat dihadapkan pada pilihan sulit: menenggelamkan bangkai di laut dalam—yang membutuhkan biaya dan logistik tidak sedikit—atau mengambil jalan pintas dengan membuangnya ke TPA seperti yang terjadi di Cottesloe. Tekanan dari masyarakat adat dan ilmuwan kelautan kemungkinan akan mendorong perubahan kebijakan, terutama menjelang puncak musim migrasi paus. Apakah kota-kota pesisir di Australia siap mengadopsi protokol penanganan bangkai paus yang lebih etis dan berkelanjutan?



