Badai Adam Landa Spanyol, Austen Ancam Inggris: Ratusan Ribu Mengungsi, Champi Super Topan di Asia
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan ekstrem 632 mm dalam 36 jam di Pego, Alicante, memicu banjir bandang yang menewaskan lima orang dan memaksa 850.000 warga menjalani lockdown sementara.
- Inggris dan Irlandia bersiap menghadapi Badai Austen dan Boelo dengan angin kencang hingga 90 mph, sementara Super Topan Champi mengancam Taiwan, China, dan Jepang.
- Otoritas Eropa dan Asia mempercepat evakuasi serta penutupan sekolah, sementara para ahli iklim menilai pola cuaca ekstrem ini sebagai sinyal percepatan krisis iklim global.

Badai Adam yang melanda wilayah timur Spanyol awal pekan ini menorehkan rekor curah hujan luar biasa: 632 mm dalam 36 jam di Pego, Alicante, dengan 430 mm di antaranya turun hanya dalam enam jam. Kota Valensia, Olivia, mencatat 600 mm dalam 24 jam. Akibatnya, 145 kotamadya di Valensia dan Alicante memberlakukan karantina wilayah sementara pada Senin, memengaruhi sekitar 850.000 penduduk. Sedikitnya lima orang tewas, 500 orang berhasil diselamatkan, dan 2.100 lainnya dievakuasi.
Meski badai terburuk telah berlalu dan kondisi di Valensia serta Alicante berangsur membaik, gangguan lokal diperkirakan masih berlanjut. Kepulauan Balearik juga terdampak, dengan lebih dari 130 insiden tercatat di Ibiza, termasuk genangan air di bandara yang menyebabkan sejumlah penerbangan dialihkan atau ditunda. Peristiwa ini menambah daftar bencana hidrometeorologi di Eropa yang semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, Inggris menghadapi badai musim dingin pertama yang dinamai Austen. Sistem tekanan rendah ini bergerak melalui Selat Inggris, membawa angin merusak ke Inggris barat daya, Wales, Irlandia barat daya, dan Prancis utara. Hembusan angin diperkirakan mencapai 50-60 mph, namun pesisir barat laut Prancis yang terbuka bisa mengalami angin hingga 80-90 mph. Badai Austen disusul cepat oleh sistem tekanan rendah dalam lainnya, Badai Boelo, yang diprediksi melintasi Skotlandia utara pada akhir pekan.
Boelo akan membawa kondisi cuaca sangat tidak stabil ke sebagian besar Inggris dan Irlandia, dengan angin merusak serta hujan lebat berkepanjangan. Skotlandia barat akan menghadapi hembusan terkuat, sementara wilayah lain di Inggris dan Irlandia diperkirakan mengalami angin 40-55 mph. Irlandia barat akan mengalami angin 50-60 mph, dengan hingga 70-80 mph di area terbuka Irlandia barat laut. Hujan lebat dari Boelo diperkirakan mencapai 10-20 mm, dan bisa mencapai 30-60 mm di Irlandia barat, Wales, serta Inggris barat daya. Kombinasi dengan curah hujan dari Austen meningkatkan risiko banjir.
Sementara itu, Super Topan Champi bergerak menuju China dan Jepang akhir pekan ini setelah melintasi Taiwan timur laut pada Jumat. Meski melemah sejak Rabu, Champi masih tergolong topan signifikan dengan kekuatan setara badai kategori 5, menghasilkan hembusan 185 mph dan angin berkelanjutan 121 mph. Setelah hujan deras awal pekan, hingga 900 mm hujan diperkirakan turun di wilayah pegunungan Taiwan utara dan timur dari Selasa hingga Sabtu. Akibatnya, sekolah diliburkan, penerbangan dibatalkan, dan gelombang setinggi enam meter mengancam, dengan kerusakan diperkirakan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Bagi Indonesia, rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan terhadap cuaca ekstrem. Meski secara geografis jauh, pola badai yang semakin intens ini sejalan dengan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang meningkatnya frekuensi fenomena hidrometeorologi di Asia Tenggara, termasuk potensi banjir dan angin kencang. Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat sistem peringatan dini serta infrastruktur adaptif untuk mengurangi risiko bencana serupa.
Para ahli iklim menilai bahwa frekuensi dan intensitas badai yang lebih tinggi ini merupakan konsekuensi dari pemanasan global. Mereka mendesak negara-negara untuk mempercepat transisi energi dan meningkatkan investasi dalam ketahanan iklim. Tanpa langkah mitigasi yang serius, kejadian serupa diperkirakan akan terus berulang dengan dampak yang lebih besar.
Dengan Badai Boelo yang masih dalam perjalanan dan Super Topan Champi yang mengancam Asia Timur, pertanyaannya kini: seberapa siap negara-negara di dunia menghadapi musim badai yang semakin ganas di masa depan?



