Macron Kutuk Serangan Rasialis di Trappes: Satu Tewas, Enam Luka, Termasuk Anak 12 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria bersenjata melepaskan tembakan dari mobil di Trappes dan La Verrière, menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya, termasuk seorang gadis berusia 12 tahun yang tertembak delapan kali.
- Presiden Macron menyebut insiden itu sebagai 'serangan teroris dan rasialis' serta menyerukan persatuan, sementara penyelidik antiterorisme mendalami motif ras, etnis, dan agama korban.
- Peristiwa ini terjadi di tengah tensi politik Prancis menjelang pemilu presiden, dengan isu rasisme dan imigrasi menjadi sorotan tajam.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan bersenjata yang terjadi di kota Trappes, sebelah barat Paris, Jumat (23/10/2026) pagi waktu setempat. Seorang pria bersenjata melepaskan tembakan dari dalam mobil, menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya, termasuk seorang gadis berusia 12 tahun. Macron menyebut insiden tersebut sebagai “serangan teroris dan rasialis” yang telah direncanakan.
Dalam kunjungannya ke lokasi kejadian pada Jumat malam, Macron menyatakan bahwa penembak secara sengaja menargetkan korban berdasarkan warna kulit mereka. Ia menuturkan, rasisme di Prancis kerap menjadi bagian dari “wacana lingkungan” yang membentuk “atmosfer” tertentu. “Jangan biarkan serangan teroris ini memecah belah kita,” ujarnya, seraya menyerukan penghormatan dan persatuan. Macron juga mengakui banyak warga Prancis akan merasa takut dan berpikir, “Ini bisa terjadi pada saya.”
Data sementara dari otoritas setempat menyebutkan, insiden bermula sekitar pukul 10.30 waktu setempat ketika tersangka berusia 39 tahun, yang diidentifikasi sebagai Kevin T., mengendarai mobilnya melalui Trappes dan La Verrière di departemen Yvelines. Selama kurang lebih 15 menit, ia menembakkan senjata otomatis ke sejumlah lokasi: pompa bensin, pusat medis, dan taman bermain anak. Korban tewas diketahui bernama Pengo Bossio Wangi, seorang pria kulit hitam muda, yang disebut dalam unggahan Instagram akademi seni bela diri campuran tempatnya bernaung. Sementara itu, dua dari lima korban luka adalah petugas kebersihan asal Afrika yang sedang membersihkan sekolah ketika penembak keluar dari mobil dan melepaskan tembakan.
Wali Kota Trappes, Ali Rabeh, yang memiliki akar keluarga Maroko, menilai serangan itu sebagai “serangan rasialis, kemungkinan besar Islamofobia.” Ia menyatakan, “Orang-orang yang menjadi target hari ini bisa saja ibu saya, saudara laki-laki saya, atau saudara ipar saya.” Rabeh menambahkan, “Seorang gadis 12 tahun berada di antara hidup dan mati setelah ditembaki secara brutal. Kejahatannya mungkin hanya karena ia berkulit berwarna.” Ia pun menyerukan agar seluruh elemen masyarakat Prancis menahan diri dan mengutuk retorika yang “secara ideologis mempersenjatai mereka yang mampu melakukan tindakan semacam ini.”
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menegaskan, “Investigasi masih berlangsung, tetapi ini jelas kejahatan teroris. Ini tindakan yang sangat serius.” Pihak berwenang juga mengungkap bahwa tersangka telah memasang jebakan di rumahnya menggunakan tabung gas dan kabel listrik yang terhubung ke pengatur waktu. Seorang anggota keluarganya ditahan untuk diinterogasi.
Insiden ini terjadi di tengah situasi politik Prancis yang memanas. Pekan lalu, aksi unjuk rasa besar-besaran berujung ricuh di sejumlah kota, dengan gedung publik dibakar, ratusan toko dirusak dan dijarah, serta sedikitnya 2.400 orang ditangkap. Gelombang protes susulan diperkirakan kembali terjadi pada Sabtu ini, dipicu oleh kelangkaan guru, bangunan sekolah yang rusak, dan biaya hidup yang tinggi. Di sisi lain, Marine Le Pen, pemimpin partai sayap kanan National Rally, tengah menikmati elektabilitas tinggi menjelang pemilihan presiden musim semi mendatang, saat Macron akan turun dari jabatannya. Setelah serangan Trappes, Fabien Roussel, kandidat dari Partai Komunis, menulis di media sosial bahwa kaum kanan ekstrem bertanggung jawab atas “kebencian rasialis” di Prancis. Le Pen sendiri mengutuk “motif rasisme yang keji” dalam “tindakan biadab” tersebut.
Serangan ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang arah kohesi sosial Prancis. Dengan pemilu presiden yang semakin dekat, apakah peristiwa ini akan memperdalam polarisasi atau justru menjadi momentum bagi seluruh kekuatan politik untuk bersatu melawan ekstremisme? Publik Prancis, dan juga masyarakat internasional, akan mencermati bagaimana pemerintah dan para pemimpin politik merespons tragedi ini dalam beberapa pekan ke depan.



