Polymarket Pecat CMO Matthew Modabber, Sahabat CEO, Usai Skandal Dagang Palsu
Baca dalam 60 detik
- Polymarket memberhentikan CMO Matthew Modabber setelah investigasi internal mengungkap skema perdagangan fiktif yang meresahkan investor.
- Hubungan pertemanan lama dengan CEO Shayne Coplan sempat memicu ketegangan, namun dewan akhirnya menilai pemisahan itu perlu demi citra perusahaan.
- Langkah ini menjadi sinyal keseriusan Polymarket membersihkan diri menjelang potensi penawaran umum perdana.

Platform prediksi pasar terdesentralisasi Polymarket dikabarkan memutuskan hubungan kerja dengan Chief Marketing Officer Matthew Modabber. Keputusan itu diambil setelah penyelidikan internal mengungkap sejumlah insiden yang dinilai merugikan reputasi perusahaan, termasuk dugaan manipulasi perdagangan fiktif. Modabber, yang menjabat sejak Januari 2024, juga dikenal sebagai sahabat dekat CEO Polymarket Shayne Coplan sejak bangku sekolah menengah.
Menurut laporan New York Post yang mengutip sumber anonim, pemberhentian tersebut melalui proses panjang karena melibatkan hubungan personal. Coplan sempat dilaporkan murka dan mengancam akan memecat anggota tim hukum yang mendorong pemecatan Modabber. Namun, sang CEO akhirnya menerima bahwa berpisah adalah jalan terbaik bagi perusahaan. Polymarket disebut tengah merampungkan perjanjian pemisahan dengan Modabber.
Kasus ini bermula dari laporan Wall Street Journal pada Juni lalu. Tim Modabber dituding membuat halaman web palsu untuk menampilkan video pengguna Polymarket yang meraup untung dari transaksi fiktif. Skema itu memicu penyelidikan dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat. Hingga kini, penyelidikan masih berjalan dan belum ada pihak yang dinyatakan bersalah. Polymarket sendiri menegaskan komitmennya untuk menjaga pasar yang akurat, adil, dan transparan.
Polymarket adalah platform pasar prediksi berbasis blockchain yang memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil peristiwa dunia nyata, mulai dari pemilu, olahraga, cuaca, hingga ajang Oscar. Popularitasnya melonjak menjelang Pilpres AS 2024, ketika peluang yang ditawarkan platform sering dikutip media arus utama. Kesuksesan itu mengangkat nama Coplan, yang pada usia 28 tahun dinobatkan sebagai miliarder termuda di AS versi New York Post.
Dewan direksi Polymarket dalam beberapa pekan terakhir menyimpulkan bahwa Modabber menjadi penghalang upaya perusahaan untuk melepaskan citra sebagai startup nakal. Perusahaan tengah bersiap menuju penawaran umum perdana (IPO), sehingga kebersihan operasional dan tata kelola menjadi prioritas. Langkah pemecatan ini dipandang sebagai upaya serius membersihkan diri dari praktik yang bisa merusak kepercayaan investor.
Bagi pasar kripto dan platform prediksi, kasus ini menjadi ujian integritas. Regulator di berbagai yurisdiksi, termasuk Indonesia, semakin jeli mengawasi produk keuangan berbasis blockchain yang menyerupai judi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti telah mengingatkan bahwa setiap instrumen investasi harus transparan dan bebas manipulasi. Jika Polymarket ingin ekspansi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, standar etika pemasaran dan perdagangan harus dipenuhi.
Ke depan, perhatian tertuju pada hasil penyelidikan CFTC. Jika terbukti ada pelanggaran, bukan tidak mungkin Polymarket menghadapi sanksi berat yang menghambat rencana IPO. Namun, jika tidak ada temuan, perusahaan tetap harus membuktikan bahwa budaya internalnya sudah berubah. Publik dan investor akan mencermati apakah pemecatan Modabber cukup untuk memulihkan kepercayaan, atau justru membuka kotak pandora praktik serupa di platform prediksi lain.



