Bitcoin di Ambang Midterm AS: Siklus Bear Market Kini Tak Lagi Sejalan?
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin telah pulih 40% dari titik terendah Juli, jauh sebelum pemilihan midterm AS pada 3 November, mematahkan pola historis yang biasanya menempatkan dasar pasar tepat setelah pemilu.
- Data historis menunjukkan pelemahan Bitcoin menjelang midterm lebih konsisten mengikuti siklus pasar kripto sendiri ketimbang faktor politik elektoral.
- Jika pola baru ini bertahan, investor perlu mengkaji ulang asumsi bahwa pemilu AS selalu menjadi katalis pembalikan tren bearish Bitcoin.

Pasar kripto memasuki fase krusial menjelang pemilihan midterm Amerika Serikat pada 3 November mendatang. Bitcoin, yang diperdagangkan di kisaran US$81.867 pada 23 Oktober, telah menempuh jalur pemulihan yang berbeda dari pola historis tiga siklus pemilu sebelumnya. Jika biasanya dasar pasar baru terbentuk setelah hari pemungutan suara, kali ini titik terendah justru terjadi jauh lebih awalโtepatnya pada 1 Juli di level US$57.850, atau sekitar 125 hari sebelum pemilu. Hingga 22 Oktober, harga telah merangkak naik sekitar 40% dari level tersebut, memunculkan pertanyaan apakah korelasi antara midterm dan siklus bear market Bitcoin mulai melemah.
Rekam jejak menunjukkan, pada 2015, 2018, dan 2022, Bitcoin mencapai titik nadir masing-masing sekitar 71, 38, dan 13 hari setelah pemilu. Namun, pola itu tidak terulang tahun ini. Sebaliknya, pelemahan tajam justru terjadi pada paruh pertama tahun, dengan penurunan sekitar 29% dalam enam bulan sebelum midterm 2018 dan 37% pada periode yang sama menjelang pemilu 2022. Kini, pergerakan harga Bitcoin lebih mencerminkan dinamika internal pasar aset digital itu sendiri, alih-alih sekadar merespons jadwal elektoral.
Perbandingan dengan saham teknologi juga memberi petunjuk. Invesco QQQ Trust, yang melacak indeks Nasdaq 100, mengalami penurunan sekitar 23% dari akhir September 2018 hingga Desember 2018, dengan sebagian besar koreksi terjadi pasca-pemilu. Pada 2022, QQQ melemah 17% dalam tiga bulan sebelum pemungutan suara. Namun, pada siklus 2014, QQQ justru menguat 17% dalam enam bulan sebelum midterm, menandakan bahwa pola pelemahan menjelang pemilu tidak sepenuhnya konsisten. Yang menarik, dalam 90 hari terakhir, Bitcoin berhasil mencatat kenaikan 26%, sementara QQQ hanya naik 3%, mengindikasikan bahwa faktor pendorong utama Bitcoin saat ini lebih bersifat spesifik sektor kripto.
"Perbandingan ini menunjukkan bahwa kelemahan historis Bitcoin menjelang midterm lebih mencerminkan siklus pasar kripto itu sendiri daripada efek pemilu," demikian analisis yang dikutip dari CoinDesk.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Meskipun pemilu AS tidak secara langsung memengaruhi kebijakan domestik, sentimen pasar global sering kali merembet ke bursa kripto dalam negeri. Berdasarkan data Bappebti, volume transaksi aset kripto di Indonesia pada kuartal III 2026 tercatat naik signifikan, seiring dengan minat investor ritel yang semakin besar. Jika Bitcoin benar-benar telah melepaskan diri dari pola midterm, maka strategi investasi jangka pendek yang mengandalkan momen politik AS sebagai titik masuk perlu dikaji ulang. Sebaliknya, investor disarankan lebih mencermati indikator on-chain dan likuiditas global.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pemulihan 40% ini berlanjut hingga akhir tahun atau justru terhenti seiring ketidakpastian kebijakan moneter. Dengan pemilu yang tinggal menghitung hari, pasar akan menguji apakah tesis "decoupling" ini bertahan, atau justru sejarah kembali terulang dengan koreksi pasca-pemilu yang lebih dalam.



