Ronaldo Lewati Batas 2 Miliar Dolar, Atlet Aktif Pertama dengan Kekayaan Sebesar Itu
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo menjadi pesepak bola pertama yang nilai kekayaan bersihnya melampaui 2 miliar dolar AS, sebuah rekor yang belum pernah dicapai atlet mana pun.
- Pendapatan tahunan Ronaldo diperkirakan 224 juta poundsterling, jauh di atas Lionel Messi (108 juta) dan Kylian Mbappe (75 juta).
- Dengan kontrak Al Nassr berakhir 2027 dan usia yang akan menginjak 42 tahun, dominasi finansial Ronaldo diperkirakan mulai menurun dalam beberapa tahun ke depan.

Cristiano Ronaldo menorehkan sejarah baru di luar lapangan: nilai kekayaan bersihnya diperkirakan menembus 2 miliar dolar AS (sekitar Rp36,1 triliun), menjadikannya pesepak bola pertama yang mencapai ambang tersebut. Pencapaian ini menempatkan pemain berusia 41 tahun itu di jajaran elite atlet global dengan kekayaan yang belum pernah diraih pesepak bola mana pun sebelumnya.
Menurut daftar yang dirilis Forbes dan dikutip talkSPORT, Jumat (23/10/2026), Ronaldo diperkirakan mengantongi pendapatan 224 juta poundsterling sepanjang tahun ini—setara Rp5,4 triliun. Angka itu berasal dari gaji di Al Nassr, kontrak sponsor, serta lini bisnis pribadinya. Ia juga kembali menempati posisi teratas sebagai pesepak bola dengan bayaran tertinggi di dunia untuk tahun ketiga berturut-turut.
Dominasi finansial Ronaldo terlihat dari perbandingan dengan rival terdekatnya. Lionel Messi diperkirakan memperoleh 108 juta poundsterling (Rp2,61 triliun), sementara Kylian Mbappe meraup 75 juta poundsterling (Rp1,81 triliun). Erling Haaland (Manchester City) berada di posisi keempat dengan 64 juta poundsterling, disusul Vinicius Junior (Real Madrid) dengan 57 juta poundsterling.
Bagi Ronaldo, 2 miliar dolar bukan sekadar angka. Ia menjadi atlet aktif pertama dalam sejarah olahraga yang melampaui total pendapatan sepanjang karier sebesar itu sebelum dipotong pajak dan biaya agen. Prestasi ini menegaskan pergeseran lanskap komersial sepak bola: bintang veteran yang bermain di liga non-Eropa tetap bisa meraup pendapatan luar biasa besar berkat kombinasi gaji fantastis, hak komersial, dan jejak media sosial yang masif.
Kerja sama dengan merek global seperti Nike, Lego, Panini, dan Whoop menjadi tulang punggung pemasukan non-gaji. Popularitasnya di platform digital—dengan ratusan juta pengikut—menjadi aset yang sulit ditandingi pesepak bola lain. Namun, laporan Forbes memperkirakan 2026 akan menjadi tahun terakhir Ronaldo menduduki puncak daftar bayaran tertinggi. Kontraknya dengan Al Nassr berakhir pada musim panas 2027, dan ia sendiri telah mengisyaratkan bahwa musim ini bisa menjadi yang terakhir.
“Ronaldo telah mengubah cara pesepak bola membangun kekayaan. Ia bukan hanya atlet, tetapi juga merek global yang pendapatannya melampaui banyak perusahaan menengah,” demikian inti laporan Forbes.
Di tengah pencapaian finansialnya, Ronaldo masih mengejar target olahraga yang belum terpenuhi: 1.000 gol. Hingga laporan ini diterbitkan, ia telah mengoleksi 975 gol dalam 1.335 pertandingan untuk klub dan tim nasional Portugal. Dengan usia yang akan genap 42 tahun pada Februari 2027, peluang menembus empat digit gol masih terbuka, meski waktu semakin terbatas. Debut profesionalnya terjadi pada Agustus 2002, saat ia baru berusia 17 tahun.
Sementara itu, Lionel Messi diperkirakan terus mengerek kekayaannya. Kapten Timnas Argentina itu disebut berpotensi menembus 1,5 miliar poundsterling pada 2027. Kontraknya di Inter Miami—diperpanjang Oktober 2025—memberinya gaji 52 juta poundsterling per tahun hingga akhir 2028, ditambah sekitar 56 juta poundsterling dari aktivitas komersial. Messi pernah dua kali menjadi atlet dengan bayaran tertinggi dunia (2019 dan 2022), tetapi tahun ini ia berada di posisi ketiga di bawah Ronaldo dan petinju Meksiko, Canelo Alvarez.
Bagi publik Indonesia, fenomena Ronaldo bukan hanya tontonan. Liga Arab Saudi yang diperkuatnya telah menjadi magnet baru bagi penggemar sepak bola Tanah Air, menggeser perhatian dari liga-liga Eropa tradisional. Kesuksesan komersial Ronaldo juga memberi pelajaran bagi industri olahraga nasional tentang pentingnya membangun merek pribadi dan diversifikasi pendapatan di luar gaji klub. Ke depan, pertanyaannya: akankah rekor 2 miliar dolar ini bertahan lama, atau justru menjadi pemicu bagi generasi pesepak bola berikutnya untuk menembus batas yang lebih tinggi?



