Ethereum Tunda Uji Glamsterdam di Hoodi, Celah Gas Bikin Kontrak Pintar Berisiko
Baca dalam 60 detik
- Pengujian upgrade Glamsterdam pada jaringan uji Hoodi dibatalkan hanya beberapa hari sebelum jadwal aktivasi pada 26 Oktober.
- Perubahan mekanisme penghitungan gas dalam EIP-8037 dan EIP-8038 berpotensi mengubah perilaku kontrak pintar saat transaksi gagal.
- Belum ada tanggal pengganti, sementara peningkatan batas gas Hoodi juga ikut tertunda.

Rencana pengujian upgrade Glamsterdam di jaringan uji Hoodi batal digelar pada Senin (26/10/2026). Tim pengembang Ethereum memutuskan menunda aktivasi tersebut setelah tim riset keamanan menemukan potensi masalah pada cara kontrak pintar yang sudah berjalan menangani transaksi gagal—sebuah celah yang dapat membuat kesalahan menjadi permanen.
Penundaan diumumkan dalam rapat All Core Devs Execution pada Kamis pekan lalu. Jadwal semula menetapkan upgrade aktif pada 26 Oktober pukul 17:42:48 UTC. Hingga kini, belum ada tanggal pengganti yang dipublikasikan. Keputusan ini menandai pertama kalinya uji publik Glamsterdam tertunda, setelah sebelumnya sukses di jaringan Sepolia pada 6 Oktober.
Inti persoalan terletak pada EIP-8037, proposal yang mengubah cara Ethereum membebankan biaya pembuatan catatan baru di basis datanya. Tujuannya membatasi pertumbuhan basis data seiring meningkatnya kapasitas transaksi jaringan. Namun, analisis firma keamanan ChainSecurity pada 13 Oktober menunjukkan bahwa perubahan tersebut, jika digabung dengan EIP-8038, dapat mengacaukan respons kontrak ketika kontrak lain yang dipanggil kehabisan gas—atau biaya yang digunakan untuk membayar operator jaringan.
Sejumlah kontrak pintar dirancang untuk menangkap operasi yang gagal dan melanjutkan proses. Mereka bisa mencatat kegagalan, menonaktifkan upaya berikutnya, atau beralih ke langkah lain. Dalam praktiknya, pengembang kerap mengandalkan sisa gas yang terlalu rendah agar aksi-aksi tersebut tidak selesai, sehingga seluruh transaksi dibatalkan. Glamsterdam mengubah perhitungan itu: gas yang dipakai untuk membuat catatan tertentu dapat dipulihkan saat perubahan dibatalkan. Akibatnya, kontrak bisa memiliki cukup gas untuk menyelesaikan penanganan kegagalan yang sebelumnya akan dibatalkan.
Risiko sebaliknya juga muncul. ChainSecurity memperkirakan pembuatan slot penyimpanan baru bisa membutuhkan 110.020 gas ketika jatah terpisah habis, jauh di atas 22.100 gas dalam aturan lama. Kontrak yang menggunakan anggaran gas existing berpotensi gagal saat menjalankan operasi yang seharusnya valid.
Hingga berita ini diturunkan, ChainSecurity belum membuktikan bahwa protokol produksi utama dapat dieksploitasi. Temuan mereka lebih pada simulasi perilaku perangkat lunak existing di bawah aturan yang diusulkan. Namun, bagi ekosistem Ethereum, sinyal ini cukup untuk menghentikan laju upgrade yang selama ini dikenal agresif. Glamsterdam sendiri membawa sejumlah perubahan signifikan, termasuk sistem baru pemilihan block builder dan peningkatan kapasitas blok.
"Kami perlu memastikan bahwa perubahan pada akuntansi gas tidak menciptakan efek samping yang tidak terduga bagi kontrak yang sudah beroperasi," ujar seorang pengembang inti Ethereum dalam rapat tersebut, seperti dikutip dari diskusi All Core Devs.
Bagi Indonesia, penundaan ini menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi blockchain—termasuk di sektor keuangan dan rantai pasok—sangat bergantung pada stabilitas protokol global. Pengembang lokal yang membangun di atas Ethereum perlu mencermati setiap perubahan aturan gas, karena kontrak pintar yang mereka gunakan bisa terpengaruh. Sementara itu, investor kripto di dalam negeri mungkin melihat volatilitas jangka pendek sebagai respons terhadap ketidakpastian jadwal upgrade.
Ke depan, fokus beralih ke langkah mitigasi. Tim pengembang kemungkinan akan mengevaluasi ulang desain EIP-8037 dan EIP-8038, atau menyiapkan mekanisme kompensasi bagi kontrak yang terdampak. Pertanyaannya, apakah Ethereum akan memilih menunda lebih lama demi keamanan, atau mempercepat solusi agar tidak kehilangan momentum kompetisi dengan jaringan lain?



