Beckham Putra: Debut Timnas Indonesia dan Pelajaran Berharga dari Pemain Eropa
Baca dalam 60 detik
- Beckham Putra mengenang debutnya bersama Timnas Indonesia pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 di bawah asuhan Patrick Kluivert.
- Ia menyoroti pentingnya belajar dari pemain diaspora yang berkarier di Eropa, terutama dalam hal disiplin dan profesionalisme.
- Kini dengan 11 caps dan 2 gol, Beckham bertekad menerapkan ilmu tersebut di level klub dan kompetisi internasional.

Gelandang Persib Bandung, Beckham Putra Nugraha, membuka cerita tentang momen debutnya bersama Timnas Indonesia pada pertengahan tahun lalu. Kesempatan pertama itu datang di akhir putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, saat pelatih Patrick Kluivert memanggilnya untuk menghadapi China dan Jepang. Beckham tampil 16 menit ketika Indonesia menang 1-0 atas China, lalu 45 menit dalam kekalahan 0-6 dari Jepang.
Bagi pemain yang akrab disapa Etam ini, debut tersebut bukan sekadar catatan sejarah pribadi. Ia menilai pengalaman itu sebagai momentum belajar langsung dari para pemain yang berkarier di Eropa. Saat itu, skuad Garuda diperkuat sejumlah nama seperti Ole Romeny, Calvin Verdonk, Thom Haye, Joey Pelupessy, Jay Idzes, Justin Hubner, hingga Emil Audero. Kehadiran mereka memberi warna berbeda pada dinamika tim, terutama dalam hal standar profesionalisme sehari-hari.
Dalam wawancara khusus yang membahas film dokumenter The Longest Wait, Beckham mengungkapkan rasa bangganya bisa berlatih bersama pemain-pemain top Eropa. Ia menyebut mereka sebagai teladan dalam hal menjaga waktu, pola latihan, asupan makanan, dan istirahat. "Bagaimana mereka memaintain waktu, latihan, makan, dan istirahat—itu jadi pembelajaran yang sangat bagus," ujarnya, seperti dikutip dari kanal Bola.com. Ia pun berusaha menerapkan kebiasaan tersebut di Super League bersama Persib.
Pernyataan Beckham menyoroti satu hal yang kerap luput dari perdebatan soal naturalisasi: transfer pengetahuan. Kehadiran pemain diaspora tidak hanya menambah kekuatan di lapangan, tetapi juga mempercepat proses pembelajaran bagi pemain lokal. Dalam jangka panjang, efeknya bisa terasa pada budaya kerja di klub-klub Indonesia. Beckham, yang kini berusia 24 tahun, adalah contoh bagaimana pemain muda lokal dapat menyerap etos profesional dari rekan-rekan yang terbiasa bersaing di liga Eropa.
"Banyak pemain yang bisa saya jadikan teladan, bagaimana keseharian mereka dan pengalaman mereka yang sangat bagus," kata Beckham.
Setahun lebih setelah debut, Beckham telah mengemas 11 caps dengan dua gol dan satu assist. Catatan itu menunjukkan ia mulai dipercaya di level internasional, meski persaingan di lini tengah Timnas Indonesia semakin ketat. Pelatih Patrick Kluivert, yang kini tak lagi menangani tim, sempat memberi kepercayaan pada Beckham di laga-laga krusial. Ke depan, tantangannya adalah mempertahankan konsistensi performa di klub agar tetap masuk radar pelatih anyar.
Bagi Persib, perkembangan Beckham menjadi sinyal positif. Klub-klub Liga 1 memang kerap dikritik karena kurang memberi ruang bagi pemain muda untuk berkembang. Namun, pengalaman Beckham di Timnas—terutama interaksinya dengan pemain Eropa—bisa menjadi modal berharga untuk meningkatkan standar latihan di klub. Jika pola ini direplikasi, bukan tidak mungkin lahir lebih banyak pemain lokal yang siap bersaing di level Asia.
Pertanyaannya, seberapa jauh pelajaran dari pemain Eropa itu bisa mengubah kultur sepak bola Indonesia? Beckham mungkin baru satu contoh. Namun, arah yang ia tempuh—menyerap ilmu dari yang terbaik dan menerapkannya di kompetisi domestik—adalah langkah kecil yang layak diapresiasi. Kini bola ada di tangan pelatih dan pengambil kebijakan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung percepatan itu.



