Amorim Sebut Laga Milan Kontra Bournemouth 'Bukan Pertandingan' Usai Kartu Merah Dini
Baca dalam 60 detik
- Milan harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-28 setelah Mike Maignan diusir wasit, memicu kekalahan 0-3 dari Bournemouth.
- Dua kesalahan elementer dari situasi sepak pojok menjadi biang keladi: handball Koni De Winter dan dorongan Maignan kepada Tyler Adams.
- Kekalahan ini memperbesar tekanan pada Amorim yang baru 100 hari menangani Milan, sementara peluang di Liga Europa kian menipis.

Ruben Amorim tidak mencari pembenaran atas kekalahan 0-3 Milan dari Bournemouth di Vitality Stadium, Jumat (8/11/2024) dini hari WIB. Pelatih asal Portugal itu menegaskan bahwa pertandingan tidak berjalan sebagaimana mestinya setelah timnya kehilangan satu pemain di menit ke-28. โTidak ada permainan,โ ujarnya singkat kepada Sky Sport Italia.
Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Bagi Milan, ini adalah pukulan telak dalam perjalanan mereka di Liga Europa yang baru memasuki matchday ketiga. Dengan format kompetisi yang menempatkan selisih gol sebagai penentu, kekalahan telak di kandang Bournemouth bisa menjadi bumerang di akhir fase liga. Milan kini tertinggal di klasemen sementara dan harus bekerja ekstra keras untuk mengamankan tiket ke babak gugur.
Dua kesalahan fatal mewarnai 45 menit pertama. Berawal dari sepak pojok, Koni De Winter melakukan handball yang berujung pada penalti pertama bagi Bournemouth, dieksekusi Justin Kluivert. Belum reda tekanan, Mike Maignan melakukan dorongan kepada Tyler Adams di dalam kotak penalti. Wasit tak ragu memberikan kartu merah langsung dan penalti kedua. Marcus Tavernier yang maju sebagai eksekutor tidak menyia-nyiakan peluang, membawa Bournemouth unggul 2-0. Amine Adli menutup pesta gol tuan rumah lewat tendangan bebas di menit akhir.
Amorim mengakui bahwa rotasi pemain bukan alasan utama. Meski Milan berhasil mengalahkan RB Salzburg 4-1 dengan skuad cadangan, menghadapi tim Premier League seperti Bournemouth jelas berbeda. โIni bukan soal ritme atau Salzburg. Tidak ada permainan. Anda tidak bisa memberikan penalti dari situasi sudut seperti itu, dan Anda tidak bisa diusir wasit dalam kondisi seperti itu,โ tegasnya dengan nada kesal.
โKami harus tetap bermain dengan 11 orang. Ada pemain yang lebih berpengalaman, tapi sekarang kami harus bangkit dan bersiap untuk laga berikutnya. Kami harus berlari lebih banyak dengan satu pemain kurang, mencoba menekan di momen yang tepat. Ini malam yang negatif dalam segala aspek.โ
โ Ruben Amorim, pelatih Milan
Keputusan Maignan melakukan dorongan memang di luar nalar, terutama dengan aturan anyar yang memungkinkan penalti diberikan meski bola tidak sedang dalam permainan. Amorim mengaku belum sempat berbicara dengan kiper asal Prancis itu. โSaya tidak punya waktu, sekarang saya harus ke Milan untuk bersiap melawan Udinese. Kami akan membicarakannya nanti,โ ujarnya.
Kekalahan ini juga memperlihatkan kerentanan Milan yang sebenarnya sudah terendus saat menang 3-2 atas Atalanta akhir pekan lalu. Ketika itu, Milan nyaris kehilangan keunggulan 3-0 di San Siro. Kini, setelah 100 hari kepemimpinan Amorim, Milan masih belum menemukan konsistensi. โIni bagian dari perjalanan. Jika Anda melihat sejarah Milan, kami berada di titik yang berbeda. Fabio Capello memang berbicara tentang sejarah Milan, dan saya paham itu, tapi kami harus realistis. Saya menghargai cara kami berjuang, kami mencoba melakukan sesuatu, saling membantu, dan kami harus belajar dari momen ini,โ tutup Amorim.
Pertanyaan ke depan: mampukah Amorim membenahi mentalitas dan disiplin pemain sebelum laga krusial melawan Udinese di Serie A? Jika tidak, tekanan publik Milan akan semakin besar, dan proyek 100 hari sang pelatih bisa berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan.



