Bitcoin dan Emas Bangkit dari Tekanan Yen, tapi Ancaman Minyak US$100 Masih Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin pulih ke sekitar US$82.000 setelah sempat jatuh di bawah US$81.000, sementara emas kembali ke US$4.020 per ons.
- Penguatan yen Jepang hanya sementara, memicu likuidasi posisi kripto senilai US$435 juta yang didominasi taruhan bullish.
- Harga minyak WTI yang bertahan di kisaran US$100 berpotensi menekan inflasi global dan menahan laju aset berisiko, termasuk kripto.

Pasar aset digital dan logam mulia menunjukkan pemulihan pada Jumat (23/10) setelah sempat tertekan oleh lonjakan yen Jepang. Bitcoin kembali mendekati level US$82.000 dari titik terendah di bawah US$81.000 pada perdagangan semalam, sementara emas bangkit ke US$4.020 per ons dari posisi terendah US$3.986 โ level yang terakhir terlihat pada 29 Juli. Pergerakan ini terjadi di tengah rebound indeks saham Asia dan futures Nasdaq yang naik 0,17% ke 29.190.
Meski demikian, pemulihan tersebut tidak serta-merta menghapus kekhawatiran yang lebih besar. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih bertahan di sekitar US$100 per barel, bahkan setelah Presiden AS Donald Trump mengaktifkan undang-undang era Perang Dingin untuk mendorong produksi bahan bakar. Langkah itu belum mampu mendinginkan pasar energi secara signifikan. Jika harga minyak terus melambung, tekanan inflasi global bisa kembali menghantui dan menekan aset-aset berisiko, termasuk kripto.
Tekanan awal datang dari Jepang. Data inflasi yang lebih panas dari perkiraan memperkuat spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga lebih lanjut. Yen pun melonjak ke 156,07 per dolar AS, level tertinggi sejak 18 September, didorong pula oleh aksi cari aman (safe haven) akibat kekhawatiran terkait kecerdasan buatan (AI). Namun, penguatan itu ternyata hanya sesaat. Yen dengan cepat melemah kembali ke arah 157 per dolar AS, seiring pasar mencerna ulang posisi carry trade yang selama ini membiayai taruhan risiko.
Gejolak yen memang kerap merambat ke pasar global karena mata uang itu menjadi sumber pendanaan utama bagi strategi carry trade. Ketika yen menguat tajam, posisi-posisi berleverage di aset berisiko terpaksa ditutup, memicu likuidasi berantai. Data menunjukkan posisi futures kripto senilai US$435 juta terlikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan US$385 juta di antaranya adalah posisi long โ sinyal bahwa leverage pasar condong ke sisi bullish. Koreksi tajam pun tak terhindarkan sebelum akhirnya harga memantul.
Pergerakan yen yang fluktuatif menjadi pengingat bahwa pasar kripto semakin terintegrasi dengan dinamika makro global. Ketika mata uang safe haven bergerak, efeknya langsung terasa di aset digital.
Selain minyak, faktor lain yang menahan laju bitcoin adalah lemahnya permintaan terhadap ETF bitcoin spot di Amerika Serikat. Pada Kamis (22/10), dana-dana yang tercatat di bursa itu mencatat arus keluar bersih sebesar US$381 juta, menurut data awal dari SoSoValue. Tanpa aliran masuk yang konsisten, reli harga yang tajam akan sulit terwujud. Pasar kripto saat ini lebih banyak digerakkan oleh sentimen makro dan likuiditas jangka pendek ketimbang akumulasi institusional yang solid.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Rupiah dan pasar obligasi domestik sering terpengaruh oleh pergerakan dolar AS dan yen. Ketika yen melemah lagi, tekanan terhadap dolar bisa mereda, tetapi jika minyak tetap tinggi, biaya impor energi Indonesia berpotensi membengkak dan menekan neraca perdagangan. Di sisi lain, kripto sebagai instrumen alternatif masih menawarkan peluang, namun volatilitasnya yang tinggi menuntut kehati-hatian ekstra, terutama bagi investor ritel yang menggunakan leverage.
Ke depan, arah pasar akan sangat bergantung pada dua variabel: kebijakan moneter BOJ dan pergerakan harga minyak. Jika BOJ mempercepat normalisasi suku bunga, yen bisa kembali menguat dan memicu gelombang risk-off baru. Sebaliknya, jika harga minyak bertahan di atas US$100, inflasi global akan tetap tinggi dan bank sentral utama mungkin enggan melonggarkan kebijakan. Pertanyaannya, apakah bitcoin mampu menembus resistance moving average 50 hari dan melanjutkan reli, atau justru terperangkap dalam pusaran ketidakpastian makro yang lebih panjang?



