Eric Dane Kira Gejala ALS Hanya Efek Kebanyakan Main Ponsel, Ini Pelajaran soal Deteksi Dini
Baca dalam 60 detik
- Eric Dane awalnya menganggap kesulitan menggenggam sumpit sebagai gangguan saraf akibat terlalu sering mengetik di ponsel.
- Butuh sembilan bulan pencarian jawaban medis sebelum ALS terdiagnosis, menyoroti pentingnya literasi gejala neurologis.
- Kisah dalam memoarnya menegaskan urgensi kesadaran publik dan akses layanan neurologi yang merata.

Aktor Eric Dane, yang dikenal lewat perannya di serial Grey's Anatomy, sempat mengira gejala awal ALS yang dialaminya hanyalah efek samping kebiasaan mengetik di ponsel. Kesalahpahaman itu terungkap dalam memoarnya, My Book of Days: A Memoir in Moments, yang dirilis setelah ia meninggal pada Februari 2026 di usia 53 tahun. Dane didiagnosis ALS dua tahun sebelumnya, dan pengalamannya menjadi cermin betapa sulitnya mengenali penyakit degeneratif saraf pada tahap awal.
Dalam buku tersebut, Dane menuturkan bahwa pada Januari 2024 ia sedang menyantap sushi bersama anak-anaknya ketika tiba-tiba tangan kanannya tidak lagi mampu menggenggam sumpit. Ia merasakan kesemutan lalu mati rasa pada jari-jarinya. "Saya pikir ini semacam gangguan saraf aneh. Saya abaikan, mungkin saya terlalu banyak mengetik," tulisnya. Namun tiga minggu kemudian, keluhan serupa muncul lagi dengan intensitas lebih parah hingga ia sama sekali tidak bisa memegang sumpit.
Dane kemudian menghabiskan sembilan bulan untuk mencari jawaban medis sebelum akhirnya dinyatakan mengidap ALS pada April 2025. Pengakuan publiknya saat itu menyita perhatian karena ALS, atau amyotrophic lateral sclerosis, merupakan penyakit progresif yang menyerang sel saraf motorik dan perlahan melumpuhkan otot-otot tubuh. Gejala awalnya sering kali samar, seperti kelemahan pada satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, atau kram otot yang mudah disalahartikan sebagai kelelahan biasa.
Kisah Dane juga menyoroti peran keluarga dalam menghadapi penyakit terminal. Rebecca Gayheart, mantan istri yang kini berpisah, awalnya khawatir dengan rencana Dane menulis buku tentang hidupnya. Namun ia kemudian menilai keputusan itu tepat demi kedua putri mereka, Georgia (14) dan Billie (16). "Saya bersyukur ia melakukannya, karena itu memberi kesempatan bagi anak-anak saya untuk mengenal ayah mereka sebagai manusia," ujarnya kepada PEOPLE.
"Saya akan menghadapi ini. Saya akan berjuang. Saya akan menunjukkan kepada anak-anak perempuan saya bagaimana menjalani hidup dengan anggun dan bermartabat, apa pun yang terjadi. Ini sudah menjadi tujuan hidup saya." โ Eric Dane dalam memoarnya.
Dalam buku itu, Dane juga mengisahkan momen saat ia memberitahu Gayheart tentang diagnosisnya. "Saya katakan, 'Ini yang kita takutkan'. Saya tidak ingat sepatah kata pun setelah itu. Dia menangis di ujung telepon," tulisnya. Ia pun memutuskan untuk memprioritaskan anak-anaknya dan menjadikan perjuangan melawan ALS sebagai misi hidupnya.
Bagi Indonesia, kasus Dane menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini penyakit neurologis. Akses terhadap layanan neurologi di Tanah Air masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara kesadaran masyarakat tentang gejala ALS terbilang rendah. Kampanye kesehatan masyarakat dan pelatihan bagi tenaga medis primer perlu diperkuat agar pasien tidak kehilangan waktu berharga seperti yang dialami Dane. Kisahnya menunjukkan bahwa gejala ringan yang tampak sepele bisa menjadi sinyal awal penyakit serius.
Ke depan, warisan Dane melalui memoarnya diharapkan dapat memicu diskusi lebih luas tentang pendanaan riset ALS dan dukungan bagi para penyandang disabilitas. Apakah kisah ini akan mendorong pemerintah dan lembaga kesehatan untuk lebih serius menangani penyakit langka? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: kesadaran adalah langkah pertama menuju penanganan yang lebih baik.



