Pesanan Saab Melonjak Tiga Kali Lipat, Dipicu Kontrak Jet Tempur Gripen untuk Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Saab mencatatkan pesanan baru senilai 65,8 miliar krona Swedia pada kuartal III, melampaui ekspektasi pasar dan naik tajam dari periode yang sama tahun lalu.
- Kontrak pengadaan 16 unit Gripen E untuk Ukraina menjadi pendorong utama, disusul pesanan pesawat pengintai GlobalEye dan sistem fregat Jerman.
- Meski kinerja keuangan solid, valuasi saham Saab dan sejumlah perusahaan pertahanan Eropa tengah diuji oleh keraguan investor terhadap kemampuan industri memenuhi target produksi.

Perusahaan pertahanan asal Swedia, Saab, membukukan lonjakan pesanan baru hingga lebih dari tiga kali lipat pada kuartal III 2026, ditopang oleh kesepakatan pengadaan jet tempur Gripen untuk Ukraina. Nilai pesanan baru mencapai 65,8 miliar krona Swedia (sekitar 6,6 miliar dolar AS), jauh melampaui ekspektasi analis yang dipatok pada 56,4 miliar krona dan naik drastis dari 20,9 miliar krona pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontrak terbesar yang masuk buku pesanan adalah pengadaan 16 unit Gripen E untuk Ukraina senilai 24,6 miliar krona. Kesepakatan itu diteken pada Juni dan baru diakui pada kuartal III, dengan jadwal pengiriman pada 2029โ2030. Selain itu, Saab juga mencatat pesanan pesawat pengintai GlobalEye senilai 10,1 miliar krona dari pelanggan di Timur Tengah yang identitasnya tidak diungkap, serta sistem untuk fregat baru Jerman senilai 8,7 miliar krona.
Kinerja ini menggarisbawahi percepatan belanja pertahanan di Eropa yang telah berlangsung sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada awal 2022. Pemerintah-pemerintah Eropa kini berlomba mengubah komitmen anggaran menjadi kemampuan militer riil, dan Saab menjadi salah satu penerima manfaat utama. Portofolio produknya yang mencakup jet tempur, kapal selam, rudal, hingga elektronik canggih menempatkan perusahaan itu pada posisi strategis di rantai pasok pertahanan Benua Biru.
"Permintaan pelanggan yang tumbuh tercermin dalam kontrak-kontrak besar, termasuk Gripen untuk Ukraina, GlobalEye, dan pesanan yang terkait fregat baru Jerman," ujar CEO Saab Micael Johansson dalam keterangan resmi, seperti dikutip CNBC.
Namun, di balik gemilangnya buku pesanan, pasar modal menunjukkan sinyal waspada. Saham Saab bersama sejumlah emiten pertahanan Eropa lainnya tertekan dalam beberapa bulan terakhir. Investor mulai mempertanyakan apakah harga saham telah melampaui kapasitas industri untuk mengeksekusi produksi tepat waktu. Kekhawatiran ini wajar: lonjakan pesanan tidak otomatis berarti lonjakan pendapatan dalam waktu dekat, terutama karena sebagian kontrak baru direalisasikan pada akhir dekade ini.
Bagi Indonesia, dinamika industri pertahanan Eropa ini menawarkan pelajaran sekaligus peluang. Sebagai negara yang tengah membangun kekuatan pertahanan nasional, Indonesia perlu mencermati dua hal: pertama, percepatan produksi dan pengiriman alutsista menjadi faktor penentu dalam memilih mitra strategis; kedua, tekanan pada valuasi saham perusahaan pertahanan global dapat memengaruhi biaya pengadaan dan negosiasi offset. Dalam jangka panjang, kebijakan belanja pertahanan yang stabil dan terencana akan menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi pembeli, tetapi juga bagian dari rantai pasok industri pertahanan global.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Saab dan para pemain industri pertahanan Eropa mampu mengonversi tumpukan pesanan menjadi pengiriman aktual. Jika kapasitas produksi tidak segera ditingkatkan, gelombang pesanan ini bisa berubah menjadi beban operasional. Sebaliknya, jika eksekusi berjalan mulus, Saab berpotensi mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama pertahanan Eropa pada dekade mendatang.



