Bursa Asia Terjun Bebas, Saham China Masuk Zona Bear Market, Bitcoin Ikut Melemah
Baca dalam 60 detik
- Indeks CSI 300 anjlok 2% pada Kamis, menandai penurunan 20% dari puncak Juni dan resmi memasuki fase bear market.
- Teknologi China di Hong Kong catat sesi terburuk sejak pengumuman tarif 'Liberation Day' April 2025, dengan valuasi forward tertekan ke 13 kali laba.
- Bitcoin mundur ke sekitar US$82.000 setelah gagal bertahan di atas US$84.000, sementara minyak mentah WTI menembus US$100 per barel.

Bursa saham Asia dilanda aksi jual besar-besaran pada Kamis (22/10/2026), dengan indeks acuan China CSI 300 ambles 2% hingga mencatat penurunan 20% dari puncaknya pada Juni—sebuah definisi teknis bear market. Pelemahan ini dipicu oleh ambruknya saham teknologi dan lonjakan harga minyak yang memperkeruh sentimen investor.
Tekanan tidak berhenti di China. Indeks Nikkei 225 Jepang merosot sekitar 3%, Kospi Korea Selatan terpuruk 3,5%, indeks Taiwan kehilangan 2%, dan Hang Seng Hong Kong turun 3%. Saham teknologi China yang diperdagangkan di Hong Kong mengalami sesi terburuk sejak pengumuman tarif "Liberation Day" oleh Presiden AS Donald Trump pada April 2025, menurut analis Bloomberg, David Ingles.
Menurut Ingles, indeks teknologi tersebut telah anjlok lebih dari 40% dari puncaknya, nyaris menghapus seluruh kenaikan yang terjadi setelah paket stimulus Beijing pada 24 September. Valuasi forward saham teknologi China kini terkompresi ke sekitar 13 kali laba, mencerminkan keraguan pasar terhadap prospek pertumbuhan sektor tersebut.
Laporan laba kuartal ketiga dari perusahaan-perusahaan AS yang bercampur menambah ketidakpastian seputar investasi kecerdasan buatan. Tesla turun sekitar 3% setelah memangkas proyeksi belanja modal, sementara Meta Platforms menaikkan batas bawah panduan belanjanya. Di pasar komoditas, emas melemah lebih dari 1% ke bawah US$4.100 per ons, dan perak merosot lebih dari 3,5% ke sekitar US$55.
Bitcoin juga tidak luput dari tekanan. Setelah sempat menembus US$84.000, harga cryptocurrency terbesar itu mundur ke sekitar US$82.000, mengutip data CoinDesk. Futures indeks Nasdaq 100 turun hampir 2%, sementara indeks volatilitas Cboe (VIX) melonjak 10% ke level 18—sekitar 30% lebih tinggi dari titik terendah September.
"Pasar saham terus tertekan meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun, yang seharusnya membuat investasi saham lebih menarik," catat laporan pasar. Imbal hasil obligasi 10 tahun AS berada di sekitar 5,077%, di bawah puncak terbarunya sekitar 5,4%.
Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak. West Texas Intermediate (WTI) menembus US$100 per barel, sedangkan Brent naik di atas US$112—level tertinggi sejak Mei. Kenaikan ini menambah kekhawatiran inflasi dan berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Bagi investor Indonesia, gejolak di pasar global ini patut dicermati. Pelemahan bursa Asia dan penguatan dolar AS dapat memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah serta arus modal keluar dari pasar emerging, termasuk Indonesia. Namun, penurunan imbal hasil obligasi AS bisa menjadi sinyal bahwa pasar mulai memperhitungkan perlambatan ekonomi global, yang pada gilirannya mempengaruhi kebijakan moneter domestik.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi AS dan langkah bank sentral dalam merespons lonjakan harga minyak. Apakah tekanan jual ini akan berlanjut hingga akhir pekan, atau justru menjadi titik balik bagi aset berisiko? Yang jelas, kombinasi bear market China, volatilitas kripto, dan lonjakan minyak menciptakan lanskap investasi yang menantang bagi pelaku pasar global.



