ETF Bitcoin Serap Rp17,6 Triliun dalam Tiga Hari, Tapi Laju Masih Jauh dari Pemicu Reli Tajam
Baca dalam 60 detik
- Dana investor ke ETF Bitcoin spot AS melonjak lebih dari USD1 miliar dalam tiga hari terakhir, sinyal awal kembalinya minat institusi.
- Rata-rata aliran harian baru sekitar USD86 juta, jauh di bawah ambang historis USD200 juta yang biasanya menyertai reli besar.
- Tanpa percepatan aliran masuk yang konsisten, kenaikan harga Bitcoin berisiko tertahan di kisaran teknis meski sentimen membaik.

Minat institusi terhadap Bitcoin kembali menguat setelah produk exchange-traded fund (ETF) spot yang tercatat di bursa Amerika Serikat menyerap lebih dari USD1 miliar dana investor hanya dalam tiga hari perdagangan. Data SoSoValue menunjukkan total aliran masuk mencapai sekitar USD1,08 miliar, angka yang cukup untuk meredakan kekhawatiran akan keringnya likuiditas, tetapi belum memadai untuk memicu lonjakan harga tajam seperti yang terjadi pada tiga fase reli sebelumnya.
Kembalinya arus dana ini menjadi oase di tengah pasar yang sejak awal Juli bergerak naik sekitar 39%, dari kisaran USD60.000 ke USD83.500 per koin. Meski demikian, laju penyerapan dana harian rata-rata hanya sekitar USD86 juta, atau kurang dari separuh ambang USD200 juta yang secara historis menandai dimulainya uptrend kuat. Sepanjang periode tersebut, hanya tujuh hari yang mencatat aliran masuk di atas USD500 juta, atau sekitar satu dari sebelas hari bursa, dibandingkan satu dari lima hari pada reli-reli besar 2024–2025.
Vikram Subburaj, CEO Giottus yang berbasis di India, menilai perbaikan permintaan institusional masih bersifat tentatif. Dalam catatan tertulis kepada klien, ia menegaskan bahwa arus dana tetap volatil dan perlu berlanjut secara konsisten untuk mengonfirmasi pemulihan yang lebih kokoh. Pandangan ini sejalan dengan pola historis: reli tajam Bitcoin nyaris selalu bertepatan dengan periode penyerapan dana ETF yang deras dan berkelanjutan, bukan sekadar lonjakan singkat beberapa hari.
Perbandingan antarperiode memperlihatkan jarak yang lebar. Pada reli Januari–Maret 2024, harga Bitcoin melesat 79% dari sekitar USD39.900 ke USD71.400, ditopang rata-rata aliran masuk USD294 juta per hari, dengan sepuluh hari di atas USD500 juta dan satu hari menembus USD1 miliar. Reli Agustus–Desember 2024 bahkan lebih deras: kenaikan 96% dari USD54.100 ke USD106.100, dengan rata-rata USD202 juta per hari, enam belas hari di atas USD500 juta, dan tiga hari di atas USD1 miliar. Adapun reli April–Juli 2025 mencatat kenaikan 53% dari USD78.400 ke USD119.900, dengan rata-rata USD248 juta per hari.
Jika diakumulasi, sepanjang 199 hari bursa pada tiga periode emas tersebut, ETF Bitcoin menyerap USD46,7 miliar atau sekitar USD235 juta per hari. Angka itu menjadi tolok ukur yang sulit ditandingi oleh kondisi saat ini. Aliran dana yang lebih tipis membuat pasar lebih rentan terhadap aksi ambil untung dan koreksi teknis, meski secara fundamental adopsi institusi tetap tumbuh.
Permintaan institusional menunjukkan perbaikan yang masih tentatif. Arus dana tetap volatil dan dibutuhkan aliran masuk berkelanjutan untuk mengonfirmasi pemulihan yang lebih kuat.
— Vikram Subburaj, CEO Giottus
Bagi investor Indonesia, dinamika ini relevan karena eksposur terhadap Bitcoin umumnya diperoleh melalui bursa kripto domestik yang harganya mengikuti likuiditas global. Aliran dana ETF AS yang tipis dapat membuat pergerakan harga di platform lokal lebih mudah terombang-ambing oleh sentimen jangka pendek, terutama saat volume perdagangan dalam negeri sedang sepi. Sebaliknya, percepatan aliran masuk ETF berpotensi menjadi katalis yang turut mengangkat minat ritel domestik, meski otoritas tetap mengingatkan risiko volatilitas aset kripto.
Perlu dicatat, sejarah bukan jaminan. Kenaikan harga juga bisa datang dari jalur lain, seperti permintaan di pasar futures atau pembelian langsung di pasar spot yang tidak terekam dalam data ETF. Namun, tanpa percepatan aliran dana yang konsisten, skenario reli tajam dari level saat ini masih membutuhkan konfirmasi. Pertanyaannya, apakah lonjakan tiga hari terakhir akan berlanjut menjadi tren penyerapan yang deras, atau justru menguap seperti beberapa episode sebelumnya?



