Bitcoin Bertahan di Rp1,3 Miliar, Zcash Melonjak 11% Berkat Upgrade NU7
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$83.000 pada Rabu pagi Asia, naik 1,3% setelah rilis laba SpaceX dan Super Micro Computer menghidupkan kembali minat pada sektor AI.
- Zcash memimpin penguatan dengan lonjakan 11% ke US$1.260 setelah pengembang menetapkan blok aktivasi mainnet untuk upgrade NU7 yang memangkas waktu konfirmasi transaksi menjadi 25 detik.
- Analis Hashdex menilai fase bearish Bitcoin yang telah berlangsung 359 hari mendekati akhir, dengan kepemilikan short-term holder menyusut ke level terendah sejak Januari 2023.

Harga Bitcoin kembali menguji level US$83.000 pada perdagangan Rabu pagi waktu Asia, menguat 1,3% dari posisi sebelumnya di atas US$82.700. Pemicunya bukan sentimen kripto domestik, melainkan rilis kinerja keuangan SpaceX dan Super Micro Computer yang melampaui ekspektasi pasar, memantik kembali selera risiko terhadap saham teknologi global.
Penguatan Bitcoin berjalan seiring dengan reli bursa Asia. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 3,7%, sedangkan Taiex Taiwan menambah 1,4%. Di pasar berjangka, kontrak Nasdaq 100 naik 1%, sementara saham SpaceX melesat 8% pada perdagangan lanjutan dan Super Micro Computer melonjak 16%. Kombinasi ini menciptakan lingkungan makro yang kondusif bagi aset berisiko, termasuk mata uang digital.
Namun, tidak seluruh sektor teknologi menikmati euforia. Pengembang pusat data asal Australia, Nextdc, ambruk 40% setelah memangkas proyeksi kinerjanya. Anomali ini menggarisbawahi bahwa pasar sedang melakukan seleksi ketat terhadap pemain yang benar-benar diuntungkan oleh gelombang investasi kecerdasan buatan, bukan sekadar menaiki momentum.
Di antara mata uang kripto utama, Zcash (ZEC) menjadi bintang dengan kenaikan 11% ke sekitar US$1.260. Lonjakan ini dipicu oleh penetapan activation height untuk upgrade NU7 di mainnet, yaitu nomor blok yang menjadi titik bagi seluruh node untuk beralih ke aturan baru. Upgrade tersebut memangkas waktu antarblok dari 75 detik menjadi 25 detik, sehingga konfirmasi pembayaran menjadi tiga kali lebih cepat. Selain itu, 60% dari biaya transaksi akan dialokasikan ke cadangan yang dibayarkan secara bertahap, sebuah mekanisme yang telah diuji di jaringan testnet sejak awal Oktober.
Mata uang kripto lain turut mengikuti arus. HYPE dan DOGE masing-masing menguat lebih dari 3%, XRP menambah hampir 3% ke US$1,33, dan Ether naik 2% ke sekitar US$2.450. BNB dan SOL menguat antara 1% hingga 2%, sementara TRX stagnan. Data CoinDesk menunjukkan pola penguatan yang merata, menandakan bahwa kenaikan Bitcoin bukan fenomena terisolasi.
Dari sisi analisis teknikal dan siklus pasar, sejumlah pengamat menilai tekanan jual Bitcoin mulai kehabisan tenaga. Hashdex, dalam catatan yang dikirim ke CoinDesk, menyebut bahwa fase bearish Bitcoin telah berlangsung 359 hari hingga 30 September. Angka ini mendekati durasi siklus penurunan sebelumnya sejak 2011, yang masing-masing berlangsung 361, 377, dan 411 hari. Argumen lain datang dari komposisi kepemilikan: short-term holder, kelompok yang paling rentan menjual saat harga turun, kini hanya menguasai 16% dari total pasokan Bitcoin, porsi terkecil sejak Januari 2023.
"Fase bearish yang memanjang dan menyusutnya kepemilikan short-term holder menjadi sinyal bahwa tekanan jual struktural mulai berkurang," demikian inti catatan Hashdex, seperti dikutip CoinDesk.
Meski demikian, pasar masih menghadapi ujian nyata dalam waktu dekat. Federal Reserve dijadwalkan menggelar rapat pada 27-28 Oktober. Menurut analis, Bitcoin perlu merebut kembali level US$84.000 sebelum rapat tersebut untuk menunjukkan bahwa aset ini siap menghadapi volatilitas kebijakan moneter. Kegagalan bertahan di atas level itu berpotensi memicu aksi ambil untung dan mengembalikan harga ke zona konsolidasi.
Faktor eksternal lain yang perlu dicermati adalah pergerakan harga minyak. Brent menembus US$110 per barel akibat serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz yang mengancam jalur pengiriman, ditambah data industri Amerika Serikat yang mengindikasikan penurunan stok. Penguatan dolar dan koreksi imbal hasil Treasury menambah lapisan kompleksitas bagi pasar kripto, yang selama ini sensitif terhadap likuiditas global.
Konteks Indonesia
Bagi investor Indonesia, pergerakan Bitcoin di kisaran US$83.000 setara dengan sekitar Rp1,3 miliar per koin (asumsi kurs Rp15.800/US$). Level ini masih jauh di bawah puncak historis, tetapi cukup untuk menjaga minat terhadap aset kripto tetap hidup. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengalihkan pengawasan aset kripto dari Bappebti ke OJK sejak awal 2025, membawa implikasi baru bagi bursa kripto lokal dalam hal kepatuhan dan perlindungan konsumen. Sementara itu, Bursa Efek Indonesia belum memiliki instrumen langsung yang melacak harga Bitcoin, sehingga eksposur investor domestik masih terbatas pada platform perdagangan aset kripto terdaftar.
Ke depan, perhatian pasar akan terbagi antara hasil rapat The Fed dan kelanjutan adopsi upgrade jaringan seperti NU7 di Zcash. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$84.000 menjelang keputusan suku bunga, narasi bahwa fase bearish telah berakhir akan semakin kuat. Sebaliknya, kegagalan menembus level tersebut dapat memperpanjang periode konsolidasi dan menguji kesabaran investor ritel, termasuk di Indonesia, yang selama ini menjadi salah satu pasar kripto dengan pertumbuhan pengguna tercepat di Asia Tenggara.



