Verstappen Restui Hadjar sebagai Penerus di Red Bull: Saya Tak Akan Balapan Selamanya
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen secara terbuka mendukung Isack Hadjar untuk mengambil alih kursinya di Red Bull Racing di masa depan.
- Hadjar, 22 tahun, telah menunjukkan performa impresif sejak promosi ke tim utama pada 2026, meski sempat absen tiga seri akibat cedera pergelangan tangan.
- Dukungan ini mempertegas strategi regenerasi Red Bull yang konsisten mengorbitkan talenta muda dari akademi mereka.

Juara dunia empat kali Formula 1, Max Verstappen, memberikan sinyal kuat bahwa Isack Hadjar adalah kandidat utama untuk menjadi penerusnya di Red Bull Racing. Dalam wawancara dengan Canal+, pembalap Belanda itu menyatakan harapannya agar rekan setimnya yang masih berusia 22 tahun tersebut dapat bertahan lebih lama di tim dan pada akhirnya mengambil alih peran sebagai pembalap utama.
Pernyataan ini muncul di tengah musim 2026 yang menyisakan enam seri. Verstappen saat ini menempati posisi keempat klasemen pembalap dengan 221 poin, sementara Hadjar berada di urutan kedelapan dengan 97 poin. Pembalap Prancis itu sempat melewatkan tiga balapan akibat cedera pergelangan tangan, namun secara umum penampilannya telah memikat banyak pihak, termasuk Verstappen sendiri.
Sejak bergabung dengan Red Bull pada awal 2026 setelah mencuri perhatian di musim perdananya bersama Racing Bulls, Hadjar dianggap sebagai sosok yang mampu memberikan tekanan positif di dalam tim. Red Bull memang sempat kesulitan menemukan tandem yang bisa menyamai performa Verstappen, tetapi kehadiran Hadjar memberikan angin segar. "Dia masih sangat muda, tapi sudah lama berada di program Red Bull. Bahkan sebelum membalap di F1, dia sudah sering hadir di beberapa balapan, mendengarkan dan mengikuti perkembangan," ujar Verstappen.
Verstappen juga menyinggung soal usia dan proses regenerasi yang wajar terjadi di tim sekelas Red Bull. "Saya perlahan merasa sedikit tua memiliki rekan setim yang jauh lebih muda. Tapi itu proses normal, dan memang itu yang seharusnya dicari oleh tim," katanya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan membalap selamanya dan Red Bull secara historis selalu mengandalkan talenta muda untuk mengambil estafet. "Itu sudah menjadi cara Red Bull bekerja, menemukan talenta baru, dan saya rasa itu akan terus berlanjut," tambahnya.
"Sebagai rekan setim, dia luar biasa. Dia baru saja memulai, tapi sejauh ini sangat menyenangkan. Itulah yang saya harapkan. Saya tidak akan balapan di sini selamanya. Dia beberapa tahun lebih muda dari saya, jadi semoga dia bisa bertahan lebih lama." — Max Verstappen
Dukungan Verstappen ini bukan sekadar pujian kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, Red Bull memang dikenal sebagai tim yang berani memberikan kesempatan kepada pembalap muda dari akademi mereka, seperti yang terjadi pada Verstappen sendiri, Pierre Gasly, dan Alex Albon. Keberhasilan Hadjar menembus tim utama di usia muda menunjukkan bahwa jalur pengembangan talenta Red Bull masih menjadi salah satu yang paling efektif di paddock.
Bagi Hadjar, sinyal restu dari Verstappen tentu menjadi motivasi tambahan. Meski musim ini sempat terhenti akibat cedera, ia telah menunjukkan kecepatan dan konsistensi yang membuatnya diperhitungkan. Dengan enam seri tersisa, ia masih memiliki kesempatan untuk menambah koleksi poin dan membuktikan bahwa dirinya layak menjadi penerus jangka panjang di Milton Keynes.
Pertanyaannya kini: apakah Red Bull akan segera mengunci masa depan Hadjar dengan kontrak jangka panjang, ataukah mereka masih akan memantau perkembangan hingga akhir musim? Yang jelas, Verstappen telah membuka pintu bagi generasi berikutnya, dan Hadjar tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mengisi kekosongan yang suatu hari nanti akan ditinggalkan sang juara dunia.



