Mercedes Tak Lagi Dominan di F1 2026: Empat Tim Bersaing Ketat, Gelar Masih Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Mercedes memenangi enam balapan awal F1 2026, tetapi keunggulan mereka menyusut setelah Ferrari, McLaren, dan Red Bull melakukan upgrade mobil.
- Wakil bos tim Bradley Lord menyebut persaingan musim ini sangat ketat dan timnya harus terus belajar mengekstrak performa mobil.
- Dengan empat tim yang mampu menang, perebutan gelar juara dunia konstruktor dan pembalap diprediksi berlangsung sengit hingga akhir musim.

Mercedes masih memimpin klasemen Formula 1 2026, tetapi dominasi mereka di awal musim telah terkikis. Setelah menyapu bersih enam grand prix pertama, tim Silver Arrows kini menghadapi perlawanan sengit dari Ferrari, McLaren, dan Red Bull yang bangkit berkat pengembangan mobil masing-masing.
Ferrari memecah kebuntuan dengan kemenangan di Austria dan Inggris, lalu Lando Norris dari McLaren menang beruntun di Hungaria dan Belanda. Red Bull dan Max Verstappen tidak mau ketinggalan, merebut dua kemenangan terakhir di Malaysia dan Singapura. Meski Mercedes juga membawa pembaruan, peningkatan performa rival ternyata lebih besar dari perkiraan.
Wakil principal Mercedes, Bradley Lord, mengakui bahwa timnya sudah lama menyadari ketatnya kompetisi musim ini. "Kami seperti piringan hitam yang rusak karena terus mengatakan betapa kompetitifnya musim ini, meski kami sempat menang beruntun di awal," ujarnya dalam acara radio tim. "Sekarang kenyataannya terlihat jelas. Ferrari dan Red Bull melakukan upgrade, dan dalam dua balapan terakhir mereka lebih kompetitif daripada sebelumnya."
Lord menegaskan bahwa Mercedes tidak bisa berpuas diri. "Kami tahu ini pertarungan nyata. Penting untuk terus belajar mengeluarkan performa terbaik dari mobil agar bisa bersaing memperebutkan kemenangan dan mencetak poin dengan kedua pembalap," tambahnya. Ia juga menyoroti rangkaian tiga balapan terakhir yang berjalan berantakan, dengan insiden yang menimpa kedua pembalap Mercedes.
Rangkaian balapan di Baku, Malaysia, dan Singapura menjadi mimpi buruk bagi Mercedes. Kimi Antonelli menabrak dinding saat kualifikasi di Baku, sementara George Russell mengalami kegagalan unit tenaga di Malaysia. Akibatnya, Russell melebihi kuota komponen dan harus start dari belakang di Singapura. Ia kemudian tersingkir dari sprint saat memimpin balapan. Hasil buruk ini memperlihatkan bahwa Mercedes tidak lagi kebal terhadap masalah teknis dan kesalahan pembalap.
Wakil direktur teknis Mercedes, Simone Resta, menilai persaingan di Austin nanti akan sangat terbuka. "Menarik karena setiap akhir pekan kita tidak pernah yakin siapa yang akan menjadi yang terkuat," katanya. "Red Bull pasti akan bertarung di depan. Ferrari kompetitif di berbagai kondisi. Dan McLaren adalah juara dunia tim yang sesekali menunjukkan performa terbaik dengan margin yang cukup besar. Semua tim punya peluang, dan itu membuat kami semakin termotivasi untuk mengoptimalkan paket mobil dan kembali ke puncak seperti di Baku, Monza, dan Madrid."
Meski demikian, Mercedes masih memiliki modal berharga: keunggulan poin di kedua klasemen. Dengan gelar dunia pertama bagi Antonelli yang semakin dekat di Austin, tim asal Brackley itu bertekad mempertahankan konsistensi. Namun, tekanan dari rival dipastikan akan semakin besar seiring sisa musim yang menyisakan banyak balapan.
Pertanyaannya, mampukah Mercedes menghentikan laju para penantang dan mengunci gelar lebih cepat? Atau justru sebaliknya, persaingan empat tim akan membuat musim 2026 menjadi salah satu yang paling dramatis dalam sejarah Formula 1 modern? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: dominasi Mercedes telah berakhir.



